Showing posts with label Bumi. Show all posts
Showing posts with label Bumi. Show all posts

Kenapa Orang Percaya Bumi Datar?


"Ini adalah hal yang sangat bodoh dilihat dari sisi manapun yang bisa dibayangkan," ucap Brian Cox, fisikawan kenamaan asal Inggris. Lalu, apa sebenarnya yang disebutnya sangat bodoh itu? Jawabannya adalah teori konspirasi Bumi datar.

"Kamu harus mundur jauh ke belakang melihat fondasi dari fisika modern. Mulai dari teori gravitasi dari Isaac Newton hingga teori relativitas umum dari Albert Einstein, dan kamu harus membantah itu semua. Itu adalah konsekuensi yang harus diterima jika kita percaya bahwa kita tinggal di planet berbentuk piringan. Kamu harus bisa membantah segalanya," ujarnya

Cukup banyak orang percaya bahwa Bumi itu datar meskipun banyak bukti mengatakan sebaliknya. Kenapa demikian?

Ketidakpercayaan Terhadap Pakar dan Pemerintah

Chandra Jayasuriya, akademisi dari University of Melbourne, mengatakan bahwa di masa silam wajar orang percaya Bumi datar. Pasalnya, mereka terkungkung di komunitasnya dan tidak mendapat informasi dari luar.

"Mereka tinggal di pedesaan yang jadi pusat dari eksistensi mereka. Karena semakin jauh pergi dari desa, lingkungannya akan semakin keras," kata dia.

Dahulu kala orang memang percaya Bumi datar. Masyarakat Babilonia atau Yunani pra-klasik (sebelum abad ke-6 SM) yang hidup ribuan tahun lalu meninggalkan artefak dan peta kuno yang memperlihatkan Bumi merupakan bidang yang rata. Namun sekitar 2500 tahun lalu orang mulai mempertanyakan keyakinan itu. Dari amatan yang mereka lakukan, antara lain dengan melihat gerak perahu di laut, mereka mulai meyakini Bumi melengkung dan bulat.

Hanya saja, orang kuno percaya Bumi pusat semesta (geosentris). Kepercayaan itu dianulir Copernicus dan Galileo di zaman Renaisans. Mereka berhasil membuktikan Bumi berbentuk bulat dan mengitari Matahari (heliosentris). Sains modern terus berkembang. Manusia akhirnya bisa sampai ke bulan, pergi ke luar angkasa dan memotret Bumi dari angkasa. Namun bukti-bukti ilmiah tak terbantahkan itu tak menyurutkan kepercayaan sejumlah orang.

Jadi kenapa di zaman modern ini masih ada yang yakin Bumi berbentuk datar? Menurut Dr. Jennifer Beckett dari School of Culture and Communication di University of Melbourne, ada fenomena kurang percaya pada pakar serta media mainstream.

"Ada peningkatan ketidakpercayaan pada mereka yang kita anggap penjaga pengetahuan seperti akademisi, ilmuwan atau pemerintah," ujar Beckett.

Belum lagi dengan bantuan media sosial atau YouTube, orang yang sebenarnya tidak berpengetahuan bisa mengubah keyakinan beberapa orang. "Mereka kadang lebih mampu bercerita dengan baik. Dan orang mungkin secara naif menganggap bahwa karena mereka orang nyata, mereka benar," papar Beckett.

Beckett menyatakan komunitas Bumi datar menggunakan beragam platform media sosial untuk menyebarkan keyakinannya. Terutama, mereka mengandalkan YouTube yang memang powerful.

"Terasa seperti punya akses ke pakar, seperti melihat dokumenter. Layaknya berbicara dengannya dan melihatnya lagi di episode lain untuk menjawab pertanyaan di kepala," papar dia.

Konspirasi Bumi datar pun jadi dipercaya beberapa orang. Dan kadang mereka amat teguh memegang kepercayaannya itu. Dari dalam negeri, Wakil Presiden Akademi Ilmuwan Muda Indonesia (ALMI) Roby Muhammad mengatakan masalah 'Bumi datar' disebabkan bukan karena pemeluk konspirasi tersebut tak memahami kenyataannya. Namun, karena soal 'pemberontakan'.

"Intinya adalah bentuk pemberontakan terhadap institusi atau pihak yang memegang riset. Itu sangat berbahaya ya karena yang diancam adalah kredibilitasnya. Misalnya kepercayaan terhadap pemerintah. Kalau kepercayaan terhadap pemerintah sudah tidak ada, lalu akan menjadi seperti apa nantinya?" ujar Roby.

Roby menyatakan bahwa motif dilakukan hal tersebut sebagai wujud 'balas dendam' karena biasanya sebagian mereka menjadi korban kebijakan pemerintah.

Kurangnya Minat atau Pemahaman akan Sains

Inilah masalah utama kenapa masih banyak orang yang percaya konspirasi bumi datar. Kurangnya minat dan pemahaman akan ilmu sains terutama fisika. Bahkan Kepala LAPAN mengajak kita semua untuk lebih mempelajari fisika agar tidak tertipu dengan konspirasi tersebut. Apalagi kita tau, sains sendiri memang bukan bahan perbicangan umum di Indonesia. Sehingga, pola pikir berbasiskan penelitian dan data belum dimiliki semua orang di Indonesia.

Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), Thomas Djamaluddin, pernah mengatakan bahwa konspirasi Bumi datar ibarat dongeng khayalan sebelum tidur. Menurutnya, hal tersebut tidak perlu didebatkan dan cukup ditinggalkan saja

"Dongeng Bumi Datar" (Flat Earth, FE) adalah ketidakpahaman akan gravitasi. Konsekuensi adanya gravitasi adalah bulatnya bumi (karena gravitasi dirinya saat pembentukan tata surya), adanya planet-planet yang mengorbit matahari, adanya bulan dan satelit yang mengorbit bumi, terjaganya air laut dan seisi bumi tetap berada di permukaan bumi, terjaganya atmosfer sehingga manusia bisa bernafas dan pesawat bisa terbang dengan gaya aerodinamis, dan ... sekian banyak lagi fenomena yang menarik untuk kita pelajari. Ayo belajar fisika agar tidak tertipu dengan dongeng bumi datar (FE)." Ungkap Thomas Djamaluddin di akun Facebooknya.

Banyaknya bukti-bukti bumi bulat, tentu sangat mengherankan kenapa masih ada orang yang percaya bahwa bumi berbentuk datar. Menurut astrofisikawan Neil deGrasse Tyson, hal ini adalah bukti dari sistem edukasi yang gagal.

“Sistem kita perlu melatih Anda tidak hanya mengenai apa yang harus diketahui, tetapi juga cara memproses informasi, pengetahuan, dan bukti. Jika kita tidak punya latihan semacam itu, Anda akan bisa mempercayai segalanya,” ujarnya.

Lebih Percaya Konspirasi

Mark Fenster, Profesor di Fakultas Hukum Levin di University of Florida memiliki pandangan terhadap hal tersebut.

"Ada suatu masa bagi orang-orang tertentu yang membuatnya lebih memercayai teori konspirasi," ucapnya singkat.

Studi yang terbit dalam jurnal Sosial Psychology mendukung pernyataan Fernster tersebut. Studi melakukan survei pada 1.000 orang. Hasilnya, sejumlah orang memiliki kecenderungan untuk menjadi unik. Apa maksudnya?

Link Jurnal:

http://content.apa.org/record/2017-30136-003

"Mereka mencari informasi yang terutama terkesan rahasia dan tak banyak orang percaya," Anthony Lantian, peneliti psikologi dari Grenoble Alpes University yang juga pemimpin studi.

Menurut Lantian, semakin aktif mencari informasi tersebut, semakin besar kemungkinan percaya pada konspirasi. Studi dari Roland Imhoff, peneliti dari Johannes Guttenberg Universitat di Mainz, Jerman, dan tim pun mendukung pernyataan ini.

Dalil Yang ada di Kitab Suci

Ini mungkin yang salah satu alasan kuat orang percaya konspirasi ini, kadang menjadi senjata andalan para FE. Contohnya ada dalil yang 'pro" menyatakan bahwa bumi itu datar di kitab suci Al-Qur'an, sebagai seorang muslim, kita mungkin akan meyakini isi Al-Qur'an tersebut, tapi ternyata kadang kita tidak sadar ada juga dalil yang 'pro' menyatakan bahwa bumi itu bulat. Lalu bagaimana sebenarnya yang benar?

Tidak ada dalil yang tegas dalam Al-Quran dan Sunnah yang menyatakan bahawa bumi itu bulat atau datar. Itu semua dikembalikan kepada penelitian dan fakta ilmiah. Jadi yang benar adalah sesuai dengan penelitian dan fakta ilmiah ilmu dunia.

Seperti yang dilakukan oleh Komunitas Flat Earth Internasional yang berencana melakukan pelayaran dan sepertinya untuk mencari tepi dunia (tidak ada informasi mengenai tujuan pelayaran ini) pada tahun 2020. Tentunya hal ini patut diapresiasi sebagai langkah mereka untuk menemukan kebenaran.

Referensi:
https://m.detik.com/inet/science/d-4387740/bukti-bertebaran-kenapa-orang-masih-percaya-bumi-datar
https://muslim.or.id/28368-apakah-bumi-bulat-bola-atau-datar-menurut-pandangan-syariat.html
https://sains.kompas.com/read/2018/03/13/070600423/atrofisikawan-neil-degrasse-tyson-jelaskan-kenapa-bumi-tidak-datar
https://m.detik.com/inet/science/d-4119247/teori-bumi-datar-bodoh-penganutnya-kurang-berpendidikan
https://m.cnnindonesia.com/teknologi/20180402204957-199-287733/peneliti-muda-ungkap-alasan-penganut-bumi-datar-kian-eksis
https://m.detik.com/inet/science/d-3799416/dongeng-kepala-lapan-yang-bikin-komunitas-bumi-datar-meradang

Nasa Mengatakan Sangat Kecil Kemungkinan Asteroid 2002 NT7 Itu Menghantam Bumi Pada 2019

 

Pada 9 Juli 2002, Badan Antariksa Nasional Amerika Serikat (NASA) menemukan objek angkasa luar yang berada dekat dengan Bumi atau near-Earth object (NEO), yang oleh NASA diberi nama sebagai (89959) 2002 NT7 atau populer disebut sebagai asteroid 2002 NT7.

Ketika hal itu diumumkan untuk pertama kali pada 16 tahun yang lalu, publik dan media dibuat cemas, karena, benda asing berdiameter 2-4 km itu kemungkinan mampu menghantam Bumi dengan kerusakan yang dahsyat. Kini, kekhawatiran itu mencuat kembali di dunia maya lewat simpang-siur informasi di sejumlah media sosial.

Menurut kalkulasi awal para astronom pada 2002, asteroid itu akan menghantam Bumi dengan kecepatan 27 kilometer per detik, dengan kekuatan 30 juta kali lebih besar dari bom atom Hiroshima 1945.

Namun, setelah melakukan kalkulasi lebih lanjut dan lebih mendalam, NASA mengumumkan bahwa sangat kecil kemungkinan asteroid 2002 NT7 akan menghantam Bumi pada 2019.

"Ancamannya sangat kecil, dengan kemungkinan 1 berbanding 250.000. Perbandingan itu sangat kecil," kata Manajer Program Near-Earth Object untuk Jet Propulsion Laboratory (JPL) NASA, Don Yeomans dalam wawancara di laman resmi NASA pada 30 Juli 2002, seperti dilansir kantor berita Agence France-Presse (AFP) via Spacedaily.com, dikutip Minggu (14/10/2018).

Senada, Karen Masters (associate professor di Haverford College Pennsylvania) juga menyatakan bahwa kecil kemungkinan asteroid 2002 NT7 akan menghantam Bumi pada 2019 atau 2-3 tahun mendatang. Bahkan, ia memperkirakan bahwa asteroid 2002 NT7 tak lagi berpotensi menimbulkan ancaman bagi Bumi.

Astronom lulusan Cornell University Amerika Serikat dan Oxford University Inggris itu memberikan penjelasan tertulis dalam laman resmi Cornell University:

"Menurut kalkulasi 2004 (pembaruan atas kalkulasi 2002), kemungkinan asteroid itu menghantam Bumi adalah 1 berbanding 100.000 yang masuk dalam kategori berisiko sangat minim," kata Masters.

"Per data Juli 2015 (yang dihimpun oleh Masters dari Cornell University, NASA dan beberapa lembaga lain), asteroid itu TIDAK akan bertabrakan dengan Bumi dalam waktu dekat."

"Menurut kalkulasi (tahun 2015), pada 15 Januari 2099, asteroid itu (2002 NT7) akan berjarak 0,37 AU (astronomical unit) dari Bumi (atau lebih dari 100 kali jarak Bumi ke Bulan, yakni sekitar 384-400 juta km). Dan itu adalah jarak terdekatnya dengan Bumi hingga setidaknya tahun 2199," jelas Masters.

"Asteroid 2002 NT7 pun juga sudah tidak dianggap ancaman berbahay bagi Bumi ... karena, berdasarkan data dan model kalkulasi yang ada, 2002 NT7 tidak akan menabrak Bumi."

"Lantas, bagaimana jika ternyata benar-benar ada sebuah asteroid yang berada di lintasan untuk menabarak Bumi? Lembaga antariksan nasional akan mengeluarkan peringatan sejak beberapa tahun sebelumnya. Dan dengan teknologi yang terus dikembangkan, ilmuwan bisa membelokkan atau menghancurkan objek itu saat masih berada di angkasa luar," lanjutnya.

Masters juga mengimbau agar publik tidak gampang termakan pemberitaan media dan harus terus bersikap skeptis.

Ia menganjurkan agar publik meninjau situs-situs resmi badan antariksa nasional setempat atau badan antariksa asing seperti laman Asteroid Watch dan Near-Earth Object Program yang dikelola NASA, agar tidak termakan tentang informasi atau berita hoaks seputar asteroid yang menghantam Bumi.

Letusan Yellowstone Bisa Menghancurkan AS? NASA Dapat Cegah Malapetaka Itu?


Seperti yang kita ketahui, Yellowstone National Park atau Taman Nasional Yellowstone yang berada di Wyoming, Montana, dan Idaho Amerika Serikat ini menjadi salah satu dari keajaiban yang ada di Dunia.

Yellowstone ini terkenal dengan geyser dan sumber air panasnya. Geyser ini terkenal sampai penjuru dunia, Old Faithfull Geyser pun ada disini.

Di taman ini pula terdapat banyak satwa liar seperti beruang grizzly, serigala, bison dan rusa.

Pada tahun 1979, Taman Nasional Yellowstone diterima sebagai salah satu Situs Warisan Dunia UNESCO.

Tapi, dibalik keindahan Yellowstone tersebut ternyata menyimpan sesuatu yang bisa membahayakan makhluk di bumi.

Di bawah taman tersebut terdapat gunung berapi aktif dengan kekuatan super yang masih tertidur.

Gunung api ini memiliki kekuatan untuk memuntahkan lebih dari 1.000 kilometer kubik batu dan abu dalam satu waktu atau 2.5000 lebih banyak dari Gunung St. Helens yang meletus pada 1980 dan menewaskan 57 orang.

Ilmuwan mengklaim, material vulkanik 'raksasa api Yellowstone' bisa menyelimuti sebagian besar Amerika Serikat dan bahkan menjerumuskan Bumi ke dalam 'Musim Dingin Vulkanik'.

Menurut New York Times, erupsi dahsyat terakhir Yellowstone terjadi pada 631.000 tahun lalu. Para ilmuwan menduga bahwa letusan super itu telah 'mencakar' planet ini setiap 100.000 tahun dan menjalar ke gunung berapi yang ada di dunia, membuat mereka bergeliat dari tidur panjangnya.

Sementara itu, dikutip dari Busines Insider, Selasa (9/10/2018), Yellowstone meletus kira-kira setiap 600.000 tahun. Letusan luar biasa kala itu, disebut NASA dapat menyebabkan berakhirnya peradaban manusia bila terjadi lagi di abad ini.

Tetapi lembaga antariksa milik pemerintah AS itu punya rencana yang mampu mencegah ledakan tersebut terulang kembali.

Selain itu, mereka pun mengatakan bahwa mereka telah membuat pembangkit geotermal untuk menghasilkan energi listrik dari ledakan gunung berapi yang paling mematikan.

Foto Satelit Yang Dirilis NASA Saat Gempa dan Tsunami Palu Mengejutkan Para Ilmuwan Dunia


Foto yang diabadikan oleh satelit NASA, Landsat 8, terkait gambaran sebelum dan sesudah tsunami Palu. (Source: NASA)

Masih hangat pikiran kita tentang gempa yang terjadi di lombok beberapa waktu lalu, namun gempa terjadi kembali di wilayah Pulau Sulawesi pada 28 September 2018 dengan kekuatan magnitudo 7,7 yang menyebabkan kerusakan parah pada pantai utara pulau Sulawesi. Hampir seluruh rumah yang berada disana rata dengan tanah karena dampak dari serangkaian gelombang tsunami yang menghancurkan garis pantai.

Aliran lumpur dan tanah yang muncul di beberapa titik pinggiran kota yang dihuni oleh (kurang lebih) 300.000 orang pun tidak luput terkena dampak tersebut.

OLI (Operational Land Imager) milik Landsat 8 (satelit observasi Bumi buatan Amerika yang dibangun oleh NASA dan Survei Geologi Amerika Serikat) menangkap gambar warna alam Palu pada 2 Oktober 2018.

Gambar tersebut memperlihatkan perbedaan lanskap Palu sebelum dan sesudah terjadinya gempa dan tsunami. Gambar dengan warna semu membuat Landsat 8 dengan mudah untuk membedakan antara daerah perkotaan (ungu-kelabu), vegetasi (hijau) dan area tanah (cokelat dan sawo matang).

Saat melihat pesisir yang mengalami kerusakan berat karena tsunami, gambar yang diabadikan satelit NASA juga mengungkapkan tiga aliran lumpur besar yang menyebabkan kerusakan parah di daerah padat penduduk.


Foto yang diabadikan oleh satelit NASA, Landsat 8, terkait tsunami Palu pada 23 September 2018. Source: NASA)
Foto yang diabadikan oleh satelit NASA, Landsat 8, terkait tsunami Palu pada 2 Oktober 2018. (Source: NASA)
Getara yang intens dari gempa bumi dengan kekuatan magnitudo 7,7 mungkin telah memicu pencairan dan penyebaran lateral, proses di mana pasir basah dan lumpur mengambil karakteristik cairan. Proses ini yang sangat umum terjadi di dekat sungai dan di tanah reklamasi, dapat menghasilkan lumpur yang sifatnya merusak, bahkan di daerah yang relatif datar.

Beberapa ilmuwan NASA menduga bahwa tanah longsor yang terjadi di bawah laut, terguncang akibat gempa sehingga memberikan energi yang memicu tsunami. Selain itu, bentuk Teluk Palu yang sempit dan menyerupai jari tampaknya memperbesar gelombang air laut yang bergerak cepat dan membuatnya lebih berbahaya.

Sekitar 100 Ton Sampah Antariksa Jatuh Ke Bumi Setiap Tahunnya


Sudah beberapa minggu ini, masyarakat selalu dikejutkan dengan berita jatuhnya benda buatan manusia yang dikirim ke orbit bumi.

Kemarin Tiangong-1 yang jatuh di Samudra Pasifik Selatan pada hari Senin (2/4/2018), sekarang giliran roket India yang masuk dan terbakar di atmosfer Samudra Atlantik pada Selasa (3/4/2018).

Menurut data dari Solar Dynamic Observatory milik Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) menunjukan bahwa sekitar 100 ton sampah antariksa terbakar di atmosfer setiap tahun.

Sampah tersebut merupakan satelit yang sudah tidak digunakan, wahana antariksa yang tidak terkontrol seperti Tiangong-1, atau bagian dari atas roket.

Kebanyakan yang jatuh ke bumi merupakan potongan kecil dan langsung terbakar ketika melewati atmosfer bumi, sedangkan yang lebih besar bisa mencapai bumi.

Indonesia juga sudah cukup sering kejatuhan sampah antariksa tersebut. Perhitungan Lembaga Penerbangan dan Antariska Nasionan (LAPAN) hingga 27 Januari 2009 menunjukkan bahwa Indonesia sudah 7.780 kali kejatuhan serpihan sampah antariksa yang berukuran di atas 10 sentimeter, 3.388 kali untuk satelit, dan 1.820 kali untuk badan roket.

Untungnya, tanah air kita mayoritas permukannya berupa air, sehingga sampah-sampah ini kebanyakan jatuh di lautan atau tempat terpencil.

Walaupun begitu, kita tidak boleh lengah. Jaringan radar militer negara-negara di dunia, NASA, Badan Antariksa Eropa (ESA), LAPAN, dan agensi pelacak satelit, baik independen maupun tidak, terus mengamati obyek-obyek di orbit bumi. Informasi yang mereka dapatkan kemudian dibagikan untuk memprediksi jadwal kembalinya sampah antariksa ke bumi.

Untuk itu, ESA, NASA, Roscosmos, Cahadian Space Agency, Badan Antariksa Jepang ( JAXA), Organisasi Riset Antariksa India, Agensi Antariksa Nasional China, dan tujuh agensi luar angkasa lainnya bergabung dalam kampanye pelacakan bersama yang diadakan oleh Komite Koordinasi Sampah Antariksa Interagensi.

Tujuan dari kampanye ini adalah untuk menggabungkan informasi pelacakan dari radar masing-masing sehingga dapat dianalisis dan diverifikasi bersama. Harapannya, langkah ini akan meningkatkan akurasi prediksi untuk ke-14 anggota kampanye.

SpaceX Sukses Menerbangkan 10 Satelit Ke Orbit Terendah Bumi


Perusahaan SpaceX telah melakukan peluncuran sekelompok satelit ke orbit bumi. Ada 10 satelit yang dikirimkan ke orbit rendah bumi untuk perusahaan Iridium Communications.

SpaceX juga berharap berada di garis depan dalam industri ruang angkasa pribadi yang sedang berkembang setelah kesuksesan atas pencapaian menerbangkan 10 satelit tersebut.

Meskipun semuanya tidak berjalan mulus, karena terkait dengan bagaimana mendaratkan kerucut hidung yang melindungi muatan roket dalam beaborne yang oleh CEO SpaceX, Elon Musk, disamakan dengan raksasa baja dan penangkap lompatan mitt suprastruktur pada kapal laut berkecepatan tinggi.

Sehari sebelum peluncuran terbaru, Komisi Komunikasi Federal menyetujui usulan Musan untuk membangun jaringan broadband berbasis satelit di mana regulator menyebut lisensi pertama untuk layanan dari generasi baru teknologi satelit orbit rendah Bumi rendah.

Seperti yang sedang menjadi perbincangan publik di Florida, SpaceX meluncurkan roket paling kuat di dunia di depat publik. Peluncuran Falcon Heavy yang sukses menandai tonggak utama lain untuk SpaceX. Roket tersebut mengirimkan boneka Tesla yang menggunakan pakaian luar angkasa putih yan gmelesat di luar atmosfer Bumi.

Sementara itu, Musk sedang mencoba untuk mengukir ruang dominan dalam industri penerbangan ruang angkasa swasta yang sedang muncul, Presiden Amerikat Serikat (AS) Donald Trump telah bersumpah untuk menghidupkan kembali program luar angkasa negeri Paman Sam yang hampir mati.