Showing posts with label Misi Dan Reset. Show all posts
Showing posts with label Misi Dan Reset. Show all posts
Satelit Fermi Milik NASA Menemukan Sebuah Pulsar Dengan Kecepatan Tinggi
Para astronom yang menggunakan Teleskop Luar Angkasa Fermi Gamma-ray NASA dan Karl G. Jansky Very Large Array dari National Science Foundation (VLA) telah menemukan sebuah pulsar meluncur menembus ruang dengan kecepatan hampir 2,5 juta mil per jam - begitu cepat sehingga dapat menempuh jarak antara Bumi dan Bulan hanya dalam 6 menit.
Pulsar super padat ini merupakan bintang neutron yang berputar cepat sisa ledakan dari sebuah bintang. Pulsar ini dijuluki PSR J0002 + 6216 (singkatnya J0002), menampilkan ekor yang memancarkan radio langsung ke arah puing yang mengambang akibat ledakan supernova baru-baru ini.
Berkat ekornya yang seperti panah dan sudut pandangnya, para astronom dapat melacak pulsar ini langsung. Studi lebih lanjut tentang J0002 akan membantu kita lebih memahami bagaimana ledakan ini mampu 'menendang' bintang-bintang neutron dengan kecepatan tinggi.
Pulsar ini terletak sekitar 6.500 tahun cahaya di konstelasi Cassiopeia. Pulsar ini ditemukan pada tahun 2017 oleh proyek citizen-science yang disebut Einstein@Home, yang menggunakan komputer sukarelawan untuk memproses data sinar gamma Fermi dan telah mengidentifikasi 23 pulsar sinar gamma hingga saat ini. J0002 berputar 8.7 kali per detik, menghasilkan sinar gamma dengan setiap rotasi dan memiliki sekitar 1,5 kali massa Matahari.
Pulsar terletak sekitar 53 tahun cahaya dari pusat sisa supernova yang disebut CTB 1. Gerakan cepatnya melalui gas antarbintang menghasilkan gelombang kejut yang menghasilkan ekor energi magnetik dan partikel terakselerasi yang terdeteksi pada panjang gelombang radio menggunakan VLA. Ekor memanjang 13 tahun cahaya dan jelas menunjuk kembali ke pusat CTB 1.
Menggunakan data Fermi dan teknik yang disebut pulsar timing, tim dapat mengukur seberapa cepat dan ke arah mana pulsar bergerak melintasi garis pandang berkat data 10 tahun Fermi yang mencakup seluruh langit.
J0002 melaju cepat melintasi ruang lima kali lebih cepat dari pulsar rata-rata dan lebih cepat dari 99 persen dari mereka dengan kecepatan terukur. Itu akhirnya akan lepas dari galaksi kita.
Lihat videonya
NASA Akan Membangun Dinding Atmosfer Buatan di Mars?
![]() |
| Apakah bisa Mars menjadi seperti Bumi? (Source: www.popsci.com) |
Para ilmuwan tersebut percaya bahwa planet Mars bisa 'direkayasa' dengan cara membangun sebuah dinding magnet di lapisan atmosfer. Dinding tersebut mereka beri nama "magnetoshpere".
Dinding tersebut nantinya berfungsi untuk melindungki planet dari radiasi partikel solar dan kosmik serta berperan untuk menciptakan efek rumah kaca yang mampu menghasilkan cairan yang turun ke permukaan tanah.
Berdasarkan analisis peneliti, Mars sebetulnya sudah memiliki magnetosphere, namun menipis dan menghilang sejak tiga miliar tahun lalu.
Seorang peneliti mengatakan bahwa atmosfer tebal yang ada di planet tersebut perlanah memudar karena diterpa badai matahari. Akibatnya, kandungan air yang ada di atmosfer perlahan menguap dan sisanya membeku.
Dinding tersebut juga akan menciptakan dua 'kutub' yang nantinya akan menciptakan sirkuit elektrik yang dapat menghasilkan area magnet buatan. Membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk Mars bisa membangun kembali lapisan atmosfernya dengan dinding magnet buatan ini.
Namun, rencana ini masih tertuang dalam proposal Planetary Science Vision 2050 Workshop. Bisa jadi juga rencana ini baru bisa diimplementasikan pada 2050 mendatang.
Ilmuwan NASA Temukan Planet Misterius Yang Bersembunyi Di Luar Tata Surya
Seperti yang di informasikan oleh NASA bahwa para ilmuwan mereka telah menemukan sebuah planet misterius yang ada di luar tata surya kita. Bentar tersebut memiliki permukaan yang sejuk dan bentuknya kecil. Dua karakteristik ini membuat planet tersebut terlihat aneh bagi para ilmuwan.
Planet tersebut dikenal sebagai HD 21749b yang merupakan planet asing ketiga yang ditemukan oleh TESS, teleskop pemburu planet baru milik NASA. Wahana tersebut mengitari bintangnya dalam orbit yang panjang.
Meskipun jarak HD 21749b dan matahari cukup dekat, namun suhu di dalam planet mungil ini disebut lumayan dingin, yaitu sekitar 300 derajat Fahrenheit.
"Ini adalah planet kecil paling dingin yang mengitari sekitar bintangnya dengan cahaya seterang ini," kata Diana Dragomir, seorang postdoc di MIT's Kavli Institute for Astrophysics and Space Research, seperti dikutip dari The Independent, Kamis (10/1/2019).
"Kami tahu banyak tentang atmosfer di planet-palnet panas, tetapi karena sangat sulit untuk menemukan planet kecil yang mengorbit lebih jauh dari bintang-bintang mereka, dan karena suhunya lebih dingin, kami belum dapat mempelajari lebih jauh tentang HD 21749b," imbuhnya.
Meskipun disebut kecil oleh para ilmuwan NASA yang menemukannya, planet itu masih sangat besar bila dibandingkan dengan Bumi. Ukurannya diameternya tiga kali Bumi dan luasnya 23 kali Bumi. Oleh karenanya, peneliti menempatkannya dalam kategori "sub-Neptunus", dan berarti bahwa planet tersebut akan menjadi planet seukuran Bumi pertama yang ditemukan oleh TESS.
"Kami pikir planet ini tidak ada gas seperti di Neptunus atau Uranus," ucap Dragomir. "Planet ini kemungkinan memiliki air atau atmosfer yang tebal."
Sementara itu, menurut temuan baru yang ditemukan oleh tim peneliti internasional, sistem bintang kedua yang paling dekat dengan matahari, Bintang Barnard, menjadi rumah bagi sebuah planet berukuran super besar dan bersuhu beku. Jaraknya hanya 6 tahun cahaya dari Bumi.
Bintang Barnard adalah jenis matahari kuno kecil yang disebut katai merah. Meski tidak mudah dilihat tanpa teleskop, Bintang Barnard telah lama menarik perhatian para astronom karena menjadi bintang yang bergerak paling cepat di langit malam.
Ahli astronomi juga mengatakan, Bintang Barnard menjadi rumah bagi sebuah eksoplanet (planet di luar tata surya) beku dan ukurannya tiga kali lebih besar dari Bumi, sehingga menjadikannya tampak seperti Bumi super.
Sebuah tim peneliti kolaboratif dari Red Dots dan proyek CARMENES sedang berupaya menemukan planet yang lokasinya berada di dekat katai merah.
Mereka menggunakan berbagai teleskop untuk menemukan eksoplanet tersebut --yang dikenal sebagai Bintang B milik Barnard-- dan mengeksplorasi keistimewaannya.
Tim dari Red Dots juga pernah terlibat dalam penemuan planet baru-baru ini di sekitar sistem tata surya terdekat Bumi, Proxima Centauri. Temuan terbaru tersebut diterbitkan pada Rabu, 14 November, di jurnal Nature.
Planet Super Beku
Bintang Barnard mempunyai beberapa perbedaan besar dari Bumi. Eksoplanet itu mengorbit bintangnya dalam waktu sekitar 233 hari --jauh lebih sedikit dari orbit Bumi, yakni 365 hari-- tetapi lebih lama dari eksoplanet lain yang pernah ditemukan.Bintang Barnard B pun jauh lebih dekat dengan bintangnya (Bintang Barnard), hanya 0,4 kali jarak antara Bumi dan Matahari.
Namun, meskipun sangat dekat dengan bintangnya, cahaya dari Bintang Barnard hanya mampu menyinari eksoplanet sebesar 2% energi yang disediakan Matahari untuk Bumi.
Itu artinya, meskipun eksoplanet dekat dengan bintangnya, namun keadaan di planet tersebut sangat dingin. Para peneliti menemukan bahwa eksoplanet kemungkinan memiliki suhu sekitar -274 derajat Fahrenheit (-170 derajat Celcius).
"Saya pikir, misteri yang belum terpecahkan adalah apakah eksoplanet itu punya atmosfer atau tidak," kata Johanna Teske, peneliti dan penulis studi Carnegie Science.
"Jika planet ini memiliki atmosfer, mungkin itu bisa menjaga suhu permukaan lebih hangat," tambahnya, sebagaimana dikutip dari laman Astronomy.com, Kamis 14 September 2018.
Label:
Explore,
Ilmuwan,
Misi Dan Reset,
NASA,
Planet
OSIRIS-REx Robot Milik NASA Berhasil Mendarat Di Asteroid Kuno
Bukan cuma New Horizon saja yang mendapatkan rekor baik yang mencapai objek Ultima Thule, ada juga robot yang diterbangkan NASA yang sukses mendekati asteroid kuno bernama Bennu.
Dikutip dari Geek, Jumat (4/1/2019), robot bernama OSIRIS-REx tersebut sudah memasuki orbit pada 31 Desember 2018.
Rekor ini tak pelak menjadikan asteroid Bennu sebagai objek terkecil yang mampu dikelilingi sebuah robot pesawat luar angkasa.
“Tim kami terus mencoba untuk melakukan proses penerbangan ke orbit dengan manuver sempurna,” ujar investigator proyek OSIRIS-REx Dante Lauretta.
Setelah memasuki orbit, OSIRIS-REx akan terbang ke bagian kutub utara, kutub selatan, dan garis ekuator asteroid Bennu untuk mempelajari kandungan massanya.
Sejauh ini, masih minim diketahui soal karakteristik dan kandungan Bennu. Paling tidak, astronom sudah meneliti kalau asteroid kuno ini memiliki kandungan molekul dari atom oksigen dan hidrogen yang bergabung bersama, kandungan ini juga dikenal dengan nama hydroxyls.
![]() |
| Illustrasi asteroid Bennu |
Sekadar informasi Bennu terdiri dari molekul karbon yang berasal dari masa awal tata surya sekitar 4,5 miliar tahun lalu.
Air, yang merupakan komponen vital untuk kehidupan, bisa juga terperangkap di dalam mineral-mineral asteroid ini.
Selain itu, Bennu dipilih untuk dijelajahi karena adanya kemungkinan bahwa asteroid ini akan menghantam bumi dalam jangka waktu 166 tahun dari sekarang.
Bennu berada di posisi kedua dalam daftar NASA, berisikan 72 objek di dekat bumi yang mempunyai potensi menghantam planet ini.
Dengan misi senilai US$ 800 juta ini, peneliti berharap akan mendapatkan informasi lebih banyak tentang kemungkinan bagaimana Bennu akan mempengaruhi Bumi dalam waktu 150 tahun mendatang, demikian menurut juru bicara misi OSIRIS-REx, Erin Morton.
Pengumpulan data akan dilakukan menggunakan lengan mekanik OSIRIS-REx sepanjang 10 meter dan data direncanakan sampai ke Bumi pada tahun 2021.
Bennu berjarak 122 juta kilometer dari Bumi. Dibutuhkan tujuh menit untuk medapatkan kabar dari pesawat ruang angkasa ke pengendali penerbangan di Colorado, AS.
Label:
Asteroid,
Berita,
Misi Dan Reset,
NASA,
Robot
Inilah Alasan Kenapa Pluto Memancarkan Sinar X
Planet pluto merupakan planet terjauh yang ada di galaksi bima sakti. Planet ini menarik untuk ditelusuri oleh para ilmuwan karena banyak sekali hal yang patut untuk diteliti.
Pada 2015 lalu, NASA mencetak rekor baru dengan mengirim pesawat New Horizons ke orbit Pluto.
Walau pencapaiannya terbilang sukses, masih banyak misteri yang belum bisa dipecahkan NASA tentang Pluto hingga kini, termasuk fenomena mengapa ia bisa memendarkan sinar X dari permukaan.
Peristiwa tersebut dibuktikan dari foto jepretan kamera New Horizons yang diunggah pada akhir 2015.
Pada foto itu, planet kerdil tersebut memperlihatkan gumpalan cahaya biru yang diduga kuat merupakan sinar X.
Dilansir Phys, Rabu (2/1/2019), astronom kaget mengapa Pluto bisa memancarkan sinar X. Pasalnya, Pluto adalah planet dengan bebatuan bersuhu dingin. Logikanya, mustahil bagi Pluto bisa mengeluarkan sinar X.
![]() |
| Sejumlah gambar terkini dari wahana New Horizons mengungkapkan keberadaan es beraneka bahan di Pluto. (Sumber NASA/JHUAPL/SWRI) |
Faktanya, matahari tidak hanya bisa memberikan cahaya dan panas, melainkan juga partikel yang mengalir.
Jadi bisa dibilang, partikel-partikel Matahari yang bertemu dengan Pluto bisa jadi menciptakan sinar X.
Teori ini memang belum bisa diakui kebenarannya sebab Pluto adalah planet terjauh, bahkan di luar Tata Surya. Jaraknya saja sekitar 6 miliar kilometer dari Matahari.
Dengan demikian, untuk bisa sampai ke Pluto, partikel cahaya Matahari setidaknya butuh waktu sangat lama. Karena itu, mereka masih terus mencari tahu alasan mengapa sinar X itu benar-benar terpancar dari permukaan planet.
![]() |
| Gambar tersebut diabadikan oleh New Horizons, dengan teknik yang disebut `principal component analysis` (Doc: Express) |
Selain itu, pada awal misi, permukaan Pluto disebut-sebut memiliki kondisi serupa Bumi.
Hanya, atmosfer Pluto lebih banyak dipengaruhi nitrogen yang membuat titik bekunya mencapai -210 derajat.
Misi penjelajahan Pluto dengan pesawat tak berawak ini dimulai pada 2006. Setelah sembilan tahun melakukan perjalanan, pesawat itu akhirnya mengirimkan konfirmasi kedatangannya di Pluto pada Juli 2015.
Label:
Berita,
Misi Dan Reset,
Pluto,
Sinar X
New Horizon Ungkap Tentang MU69: Ultima Thule Merupakan Komet Khas Masa Depan
Film paling spektakuler dari misi ESetta Rosetta menunjukkan seperti apa permukaan komet 67P / Churyumov-Gerasimenko, termasuk es volatil yang menyublim dan membekukan kembali ketika berada di bawah sinar matahari atau bayangan, masing-masing, menyebabkan perilaku seperti salju.
Ultima Thule saat ini berputar dan jatuh dengan cara yang mirip dengan komet yang dikenal dan dekat ini.
Relativity Akan Luncurkan Roket Hasil Printer 3D Pertama di Dunia Tahun Depan
Upaya manusia menciptakan roket bukan hanya perkara biaya yang tak murah tapi juga soal tingkat kesulitannya. Ada sekitar 100 ribu bagian berbeda yang menyusun sebuah roket.
Dua pemuda bernama Tim Ellis dan Jordan Noone punya ide yang sanggup memangkas yang mahal dan rumit.
Ellis, mantan karyawan Blue Origins, dan Noone mantan pekerja SpaceX membentuk sebuah startup bernama Relativity pada 31 Desember 2015 lalu. Tujuannya untuk membangun keseluruhan roket, dari mulai bagian-bagian paling sederhana sampai rumit seperti mesin, menggunakan printer 3D atau teknologi pencetakan tiga dimensi.
Mereka memiliki cita-cita untuk membuat roket dengan cepat dan murah. Visi mereka adalah untuk membangun roket yang akan digunakan untuk ke Mars.
“Kami hanya berpikir, di masa depan seluruh produk (nampaknya) akan dicetak melalui printer 3D. Alih-alih hanya mencetak bagian-bagian tertentu, jika kami mampu mencetak semuanya, itu akan menjadi masa depan,” kata Ellis.
Dan saat ini Relativity sedang mengembangkan roket hasil printing 3D pertama mereka yaitu Terran 1 untuk diluncurkan tahun depan.
Untuk mewujudkan impian tersebut, Relativity telah memiliki Stargate, mesin printer 3D logam terbesar di dunia.
Stargate memiliki sensor dan kecerdasan bawaan untuk melacak dan meningkatkan kinerjanya. Memiliki beberapa "print head" yang terletak di ujung lengan penggerak untuk membangun komponen kompleks dengan bentuk yang rumit
Menggunakan Stargate, Relativity berhasil membuat mesin roket yang diberi nama Aeon 1. Mesin Aeon 1 memiliki kekuatan dorongan hingga 19.500 pound, sepersepuluh dari kekuatan mesin Merlin 1D yang terpasang di roket Falcon 9 dari Space X. Dengan Stargate, mesin roket dapat dicetak hanya dalam 20 hari.
Sampai saat ini Relativity telah melakukan 124 uji pembakaran pada mesin Aeon 1 menggunakan fasilitas di Stennis Space Center NASA di Mississippi.
Untuk roket, sepertinya Relativity tidak akan mengalami kendala dalam pengembangan nya. Tapi ada satu yang yang belum disiapkan, tempat peluncuran untuk roket itu sendiri.
Beruntungnya, Relativity baru-baru inu memenangkan kontrak untuk membangun dan mengoperasikan fasilitas peluncuran roket mereka sendiri di Launch Complex 16 (LC-16) Cape Canaveral Air Force Station di Florida, Amerika Serikat.
Kontrak ini didapatkan dari The 45th Space Wing of the Air Force. Ini merupakan kesepakatan langsung pertama Angkatan Udara Amerika Serikat dengan perusahaan peluncuran roket yang tidak disubsidi oleh pemiliknya, seperti SpaceX dan Blue Origin.
Dan sekarang Relativity hanya tinggal menyiapkan roket pertamanya tersebut untuk diluncurkan.
Roket Terran 1 sendiri akan diluncurkan tahun depan untuk membawa satelit kecil ke orbit.
Terran 1 mempunyai tinggi sekitar 100 kaki (33 meter). Stage pertama roket akan memiliki sembilan mesin Aeon 1 dan stage kedua akan memiliki satu mesin Aeon 1. Roket ini akan mampu mengirimkan muatan 1250 kg ke orbit rendah Bumi, dengan biaya peluncuran sekitar $ 10 juta. Jika berhasil, perusahaan akan menawarkan jasa peluncuran dengan biaya peluncuran yang dihitung per kilogram.
“Kami terkesan dengan tim Relativity yang berpengalaman dan pendekatan inovatifnya terhadap teknologi luar angkasa dan kami berharap dapat bekerja sama dengan mereka ketika mereka melanjutkan proses untuk meluncurkan roket Terran 1 dari Stasiun Angkatan Udara Cape Canaveral,” kata Thomas Eye, direktur rencana & program untuk The 45th Space Wing of the Air Force.
Membuat roket hanyalah awal dari misi Relativity Space. Tujuan akhir perusahaan adalah untuk memproduksi roket secara massal dalam waktu singkat untuk membangun kapasitas produksi di Mars.
Pada tahun lalu, co-founder Relativity Space Tim Ellis menyebut roket telah menjadi model bisnis dan menjadi alasannya untuk menciptakan teknologi pencetakan. Roket, disebut Ellis, merupakan produk terbesar, berbobot ringan, dan berbiaya tinggi yang dapat diciptakan manusia. Roket juga bisa menjadi cara Relativity untuk memamerkan teknologinya kepada dunia.
Untuk mengetahui informasi lebih lanjut, kalian bisa mengunjungi situs resmi Relativity:
https://www.relativityspace.com/
Referensi:
https://www.forbes.com/sites/alexknapp/2019/01/17/under-30-startup-relativity-space-will-be-launching-from-cape-canaveral/#24e58e6f1166
Label:
Blue Origins,
Misi Dan Reset,
Rocket,
SpaceX
Perusahaan Asal Russia Bakal Pasang Iklan di Langit Pada Tahun 2020
![]() |
| Source: Startrocket.met |
"Angkasa akan indah dengan merek-merek terbaik, langit kita akan memukau kita setiap malam."
~ StartRocket
Industri periklanan memang selalu tumbuh, berkembang dan tidak pernah mati. Berbagai perusahaan beradu kreativitas untuk menampilkan iklan terbaik di bermacam-macam platform. Namun, siapa sangka jika langit nantinya tidak hanya berhias bintang-bintang, tetapi juga akan berhias iklan.
Orbital Display, proyek dari perusahaan startup asal Rusia bernama StartRocket direncanakan akan menggunakan satelit-satelit kubus kecil (CubeSats) yang akan menciptakan tampilan terprogram iklan di langit.
“Kita ‘diatur’ oleh brand dan event besar. Super Bowl, Coca Cola, Brexit, Olimpiade, Mercedes, FIFA, Supreme, dan tembok Meksiko. Ekonomi adalah darah dari sistem masyarakat. Hiburan dan periklanan adalah jantungnya,” ujar Vlad Sitnikov, Kepala Proyek Orbital Display.
Cara kerjanya, setiap CubeSats akan memiliki satu layar yang dapat dilipat untuk merefleksikan cahaya Matahari menjadi suatu bentuk dalam satu piksel sehingga memungkinkan mereka bersinar seperti bintang. CubeSats ini akan diatur untuk menampilkan iklan seolah-olah mereka adalah rasi bintang di langit malam.
Karena satelit itu bergantung pada Matahari, maka gambar yang dipancarkan di langit itu hanya bisa ditampilkan pada saat fajar dan senja. Iklan di langit itu bakal memiliki luas sekitar 50 kilometer persegi. Iklan di langit ini dapat diprogram untuk menampilkan mulai dari logo hingga orang di langit selama enam menit dan sebanyak tiga atau empat kali dalam sehari.
CubeSats tersebut akan diluncurkan pada tahun 2020, dan mulai menampilkan iklan di langit malam pada tahun 2021. Satelit ini akan mengorbit di orbit rendah Bumi dengan ketinggian 400-500 kilometer.
Tampilan iklan akan memiliki besar magnitudo sekitar -8. (Untuk perbandingan, besar magnitudo Bulan Purnama sekitar -13 dan Matahari sekitar -27.)
*Magnitudo = ukuran kecerahan benda langit. Semakin kecil magnitudo, semakin cerah objek tersebut.
Selain digunakan untuk periklanan, Orbital Display ini juga direncanakan dapat digunakan untuk kepentingan lain seperti Hiburan, dengan menampilkan pesan atau gambar dari orbit yang bertujuan menghibur. Serta dapat digunakan untuk kepentingan darurat, misalnya ketika terjadi keadaan darurat seperti arus listrik yang lumpuh atau bencana, pemerintah dapat menggunakannya untuk menampilkan pemberitahuan kepada masyarakat.
Masalah Polusi Cahaya
Ahli astronomi John Barentine dari International Dark Sky Association mengungkap keberatannya dengan wacana Orbital Display terkait polusi cahaya yang akan dihasilkannya.“Itu adalah ancaman bagi riset astronomi. Setiap gerakan cahaya di langit malam bisa mengganggu kemampuan kami untuk mengumpulkan cahaya dari sumber daya astronomi,” ujar Barentine
Sejauh ini rencana ini memang masih jauh dari realisasi. Sistemnya belum diuji, belum didanai, dan belum diizinkan menurut regulasi dan hukum baik lokal maupun internasional. Namun proyek ini masih berjalan sesuai jadwal.
“Apakah secara teknologi memungkinkan? Ya,“Apakah itu akan diizinkan? Dipertanyakan. " Kata Randy Segal, seorang pengacara yang berspesialisasi dalam hukum angkasa dan satelit di perusahaan Hogan Lovells.
Referensi:
https://startrocket.me/theorbitaldisplay/
https://teknologi.id/tekno/orbital-display-pasang-iklan-di-langit/
Untuk Pertama Kalinya, Tanaman Berhasil Tumbuh Di Bulan
Akhirnya ada kehidupan di Bulan!. Biji kapas yang dibawa probe Chang'e-4 milik china berhasil tumbuh disana.
Untuk diketahui, beberapa waktu lalu China berhasil mendaratkan wahana Chang'e 4 di sisi jauh bulan. Kesuksesan ini berhasil membuka kemungkinan baru bagi para peneliti, terlebih untuk memahami bulan lebih jauh lagi. Hingga saat ini baru China saja yang berhasil melakukan hal tersebut.
Dan salah satu misi adalah Eksperimen 'biosfer'. Probe Chang'e-4 membawa benih kapas, lobak, kentang dan Arabidopsis thaliana (sejenis tanaman berbunga yang memiliki hubungan dengan kubis dan sawi) serta telur lalat buah dan beberapa ragi, untuk membentuk biosfer mini sederhana. Tujuan utama misi ini adalah untuk mempelajari respirasi benih dan fotosintesis di bulan.
Eksperimen 'biosfer' ini merupakan kolaborasi antara 28 universitas di China, dipimpin oleh Chongqing University. Penelitian ini tidak hanya menumbuhkan tanaman, tetapi juga membuat mereka berbunga, yang jika semuanya berjalan sesuai rencana akan terjadi menjelang akhir periode (100 hari percobaan).
Enam jenis makhluk hidup tersebut diletakkan pada sebuah wadah biosfer berbentuk menyerupai silinder yang terbuat dari campuran alumunium dengan tinggi 18 cm, berdiameter 16 cm, dengan berat 3 kg. Wadah ini dirancang untuk menghadirkan lingkungan buatan, yaitu memberikan udara, air, dan nutrisi yang dibutuhkan tanaman serta menjaga kestabilan suhu di dalamnya. dapat mempertahankan kehidupan makhluk hidup.
Di probe Chang'e-4 juga telah dibekali kamera kecil yang mengamati percobaan selama eksperimen berlangsung. Datanya akan dikirim ke Bumi melalui sistem relai rumit yang telah disiapkan untuk berkomunikasi.
Jika percobaan berjalan dengan baik, tanaman-tanaman akan mengeluarkan akar-akarnya dan bertunas. Sementara, telur ulat sutra dan lalat buah akan menjalani metamorfosisnya dari menetas hingga dewasa.
Keenam makhluk hidup tersebut dipilih untuk berperilaku sebagai "produsen, konsumen dan pengurai" dengan tanaman yang akan memproduksi oksigen dan makanan melalui fotosintesis sehingga menyediakan sumber makanan untuk menopang lalat buah dan ulat sutra. Ulat sutra nantinya dapat mengkonsumsi oksigen yang dilepaskan tanaman, mengeluarkan karbon dioksida, dan kotorannya dapat menyuburkan tanaman. Sedangkan ragi dirancang untuk bertindak sebagai agen dekomposer untuk menangani lalat dan limbah tanaman.
Kini, benih tanaman kapas berhasil tumbuh di sana. Sedangkan untuk benih-benih lain belum menunjukkan tanda-tanda perkembangan.
Eksperimen ini diharapkan dapat mendukung eksplorasi dan hunian ruang jangka panjang di masa depan. Sebagai contoh, astronot masa depan menuju Mars akan membutuhkan makanan berkelanjutan untuk perjalanan dua setengah tahun dan kemudian di permukaan Planet Merah begitu mereka tiba. Dengan kemampuan untuk menumbuhkan tanaman yang dapat dimakan, para astronot dapat menanam dan memanen makanan mereka sendiri, memungkinkan tempat tinggal jangka panjang.
“Kami mempertimbangkan kelangsungan hidup di luar angkasa di masa depan. Dengan mempelajari tanaman yang tumbuh di lingkungan bergravitasi rendah memungkinkan kami untuk meletakkan fondasi kehidupan di luar angkasa.” ujar Profesor Xie Gengxin, kepala operasi ini.
Referensi:
http://nationalgeographic.grid.id/read/131604701/bibit-tanaman-yang-dibawa-rover-tiongkok-berhasil-tumbuh-di-bulan
https://www.tek.id/future/china-berhasil-tumbuhkan-tanaman-di-bulan-b1WZ59dnj
Misi Melahirkan di Luar Angkasa Akan Dilakukan Pada Tahun 2024
![]() |
| "Jika manusia ingin menjadi spesies multi planet, maka kita perlu belajar bagaimana berproduksi di luar angkasa" - Kees Mulder, CEO dan pendiri SpaceLife Origin. |
Namun, pertama-tama kita perlu belajar bagaimana bereproduksi di luar angkasa untuk meningkatkan kemungkinan bertahan hidup. Dan sebuah perusahaan akan memulai metode ini dengan mengirim wanita hamil ke luar angkasa dan membuatnya melahirkan di dalam kondisi mikrogravity.
SpaceLife Origin yang merupakan perusahaan asal Belanda yang akan mewujudkan hal ini. Rencana ini merupakan misi mereka untuk melahirkan bayi pertama di luar angkasa dalam sejarah atas nama ilmu pengetahuan.
Ini akan menjadi langkah pertama yang krusial dalam sebuah perjalanan bagi umat manusia yang mengarah ke kehidupan di luar Bumi sebagaimana diperlukan untuk permukiman masa depan di planet lain.
Agar dapat mewujudkan cita-cita itu, SpaceLife Origin akan menyelenggarakan 3 misi penelitian dalam lima tahun mendatang dengan misi terbesar yaitu membawa seorang wanita hamil ke luar angkasa untuk melahirkan.
Misi-misi tersebut didirikan dengan bantuan ahli etika, medis, teknis, dan hukum. SpaceLife Origin telah menjalin kemitraan dengan universitas dan pemasok terkemuka dari teknologi luar angkasa dan sektor medis.
Sehingga diharapkan melahirkan manusia pertama di luar angkasa dijadwalkan dapat terwujud pada tahun 2024 nanti dan dapat membantu mewujudkan visi: memungkinkan kehidupan yan gberkelanjutan di luar Bumi.
Tentu saja misi-misi ini akan sangat membantu perkembangan manusia menjadi spesier antar planet. Selagi badan-badan dan perusahaan antariksa terkemuka menginvestasikan miliaran dolar menjajah dan meneliti planet lain dengan tujuan membangun koloni disana. SpaceLife Origin membuat upaya kolonisasi berkelanjutan, dengan meneliti dan mengeksekusi kondisi untuk reproduksi manusia di luar angkasa langkah demi langkah. Langkah unik dan kritis untuk masa depan manusia.
3 Misi Penelitian SpaceLife Origin Antara Lain:
Misi Ark, Melindungi "seed of life" Manusia di Luar Angkasa (2020).
Dengan menggunakan teknologi Patnt Pending, misi ini akan membuat membuat 1.000 tabung yang berisi sel reproduksi manusia (sel sperma dan sel telur). Tabung ini menyediakan lingkungan yang terlindungi dari radiasi dan bahaya lain yang dapat membahayakan sel-sel tersebut.
Sel-sel tersebut akan diambil dari klinik IVF yang disetujui dan diawasi di seluruh dunia. Sel-sel itu di-vetrifikasi dan disimpan dalam tabung dengan aman di satelit yang nantinya akan mengorbit pada ketinggian 300 mil di atas Bumi. Diharapkan misi ini dapat melindungi sel-sel dari setiap peristiwa bencana di Bumi selama beberapa dekade.
Misi Lotus, Pembuahan Sel Di Angkasa (2021)
Untuk pertama kalinya dalam sejarah, manusia akan dikandung di luar angkasa. Pembuahan sel sperma dan sel telur akan membentuk embrio di orbit rendah bumi. Ketika embrio kembali dengan selamat ke bumi, mereka akan tumbuh lebih jauh di dalam ibu mereka.Untuk mewujudkan hal ini, SpaceLife Origin sedang mengembangkan teknologi 'Space-Embryo=Incubator'. Inkubator embrio ini akan dikirim ke luar angkasa dan akan mengandung embrio tersebut. Begitu berada di luar angkasa, embrio dikandung dan mulai berkembang. Setelah 4 hari, inkubator akan kembali ke Bumi. Kehamilan dan kelahiran yang sebenarnya akan terjadi di Bumi.
Misi Cradle, Kelahiran Manusia di Luar Angkasa (2024)
Dan ini langkah penting dalam evolusi kita. Seorang wanita hamil akan melahirkan di luar angkasa. Dipersiapkan dengan baik dan aman dan didukung oleh tim ahli medis. Langkah besar menuju "kehidupan di luar bumi".Selama misi berdurasi 24-36 jam ini, seorang wanita hamil akan melahirkan 250 mil (400 kilometer) di atas Bumi (sepertinya ISS), ditemani oleh tim medis kelas dunia yang terlatih. Proses yang disiapkan dan dimonitor dengan cermat diharpkan mengurangi semua risiko yang mungkin terjadi.
Berbagai resiko Dibalik Misi Cradle
Meski perusahaan berhasil menemukan sukarelawan, roket komersil dan uang yang dibutuhkan untuk mendanai misi Cradle, misi tersebut masih terkendala banyak masalah lain.Sulit untuk mengirim seorang wanita hamil ke ruang angkasa tepat waktu sebelum ia akan melahirkan apalagi mengenai keselamatan bayi dan ibu hamil tersebut. Pada saat roket mengangkasa penumpang akan menderita lebih banyak tekanan gravitasi. Astronot saja biasanya mengalami tiga kali tekanan gravitasi selama peluncuran roket hingga mengorbit, tidak ada yang tahu efek apa yang terjadi pada calon bayi dan ibunya nantinya.
Jika proses peluncuran berhasil dengan aman, akan timbul masalah lain terkait dengan persalinan ibu hamil tersebut. Kondisi mikrogravity di luar angkasa akan menimbulkan banyak masalah serius, seperti kurangnya bantuan saat ibu mendorong bayi keluar, kesulitan memberikan epidural penghilang rasa sakit saat pasien melayang di angkasa atau cairan tubuh yang melayang di dalam pesawat sebagai gumpalan.
kalau pun kita anggap semuanya berjalan baik dan tim medis kelas dunia yang terlatih yang ikut dalam perjalanan menemani wanita hamil dalam perjalanan bersejarah itu melahirkan bayi dengan selamat, masih ada perjalanan ke bumi yan gharus dipertimbangkan.
Itu artinya, menyelamatkan diri dari jatuh bebas melewati atmosfer, diikuti dengan pendaratan menggunakan paasut dan mendarat, bukan suatu pengalaman yang bisa dialami bayi baru lahir dan ibu yang baru melahirkan.
Kemudia, seandainya memang bayi itu selamat sesampainya di bumi, akta lahir macam apa yang sah untuk orang yang lahir di luar angkasa?
SpaceLife Origin mengakui rencananya masih punya banyak hal yan tak terduga yang harus disempurnakan. Namun, misi ini memang ditunjukan untuk mendapatkan jawabannya. Ditambah lagi, mereka yang terlibat dalam proyek ini yakin kalau perusahaan ini tak jadi melakukannya, bakal ada perusahaan lain yang akan mengambil rencana ini.
Untuk mengetahui lebih banyak tentang SpaceLife Origin, kalian bisa mengunjungi situs resminya: https://spacelifeorigin.com/en
Referensi:
https://viva.co.id/gaya-hidup/inspirasi-unik/1110246-perusahaan-ini-mau-kirim-ibu-hamil--untuk-melahirkan-di-luar-angkasa
https://m.erabaru.net/2019/01/11/perusahaan-belanda-berencana-kirim-bumil-ke-luar-angkasa-untuk-bersail-bagaimana-tempat-kelahiran-bayi
Sebuah Gelombang Fast Radio Bursts Ke-2 Dari Kedalaman Ruang Angkasa
![]() |
| Konsep tentang Fast Radio Bursts dari galaksi yang jauh. Gambar melalui Danielle Futselaar. |
Para ilmuwan di Kanada mendeteksi FRB berulang kedua menggunakan teleskop radio Canada Hidrogen Intensity Mapping Experiment (CHIME) di Okanagan Valley, British Columbia. Dilaporkan oleh Universitas McGill pada 9 Januari 2019, temuan bari ini juga diterbitkan dalam dua makalah peer-review di Nature pada 9 Januari dan dipresentasikan pada pertemuan American Astronomical Society di Seattle pada hari yang sama.
FRB berulang adalah salah satu dari 13 yang diamati oleh CHIME selama tiga minggu selama musim panas 2019. FRB kemudian bertambah pada minggu-minggu berikutnya.
Deteksi FRB berulang lainnya menarik karena mereka tampaknya relatif jarang di antara FRB pada umumnya. Yang pertama diamati oleh teleskop radio Arecibo di Puerto Rico pada tahun 2015. Menurut Ingrid Stairs, Anggota tim CHIME dan seorang astrofisika di University of British Columbia (UBC):
Sampai sekarang, hanya ada satu FRB berulang yang dikenal. Mengetahui bahwa ada yang lain menunjukkan bahwa mungkin ada lebih banyak di luar sana. Dan dengan lebih banyak repeater dan lebih banyak sumber yang tersedia untuk dipelajari, kita mungkin dapat memahami teka-teki kosmik ini - dari mana mereka berasal dan apa yang menyebabkannya.
![]() |
| Teleskop radio CHIME Kanada di Okanagan Valley, British Columbia. Gambar melalui CHIME. |
Jadi apakah ini artinya hasil baru?
Apapun penyebab FRB, itu adalah sesuatu yang tidak terlihat sebelumnya. Teori telah berkisar dari fenomena eksotis yang melibatkan bintang neutron atau lubang hitam bahkan ya seperti alien. Seperti yang dicatat oleh Arun Naidu dari McGill University:
Apa pun sumber gelombang radio ini, menarik untuk melihat seberapa lebar rentang frekuensi yang dapat dihasilkannya. Ada beberapa model di mana sumbernya secara intrinsik tidak dapat menghasilkan apa pun di bawah frekuensi tertentu.
FRB pertama dijuluki FRB 121102 ditemukan pada tahun 2007 oleh Duncan Lorimer dan muridnya David Narvekic ketika mereka melihat melalui data survey pulsar kearsipan.
Tom Landacker, anggota CHIME dari Dewan Riset Nasional Kanada, menambahkan:
[Kita sekarang tahu] sumber-sumbernya dapat menghasilkan gelombang radio frekuensi rendah dan gelombang frekuensi rendah itu bisa lepas dari lingkungannya, dan tidak terlalu tersebar untuk dideteksi pada saat mereka mencapai Bumi. Itu memberitahu kita sesuatu tentang lingkungan dan sumbernya. Kami belum memecahkan masalah, tetapi beberapa potongan lagi ada di teka-teki.Menurut Kendrick Smith , seorang kosmologis di Institut Perimeter untuk Fisika Teoretis di Waterloo, Ontario:
FRB adalah misteri yang tidak terduga . Tidak ada banyak misteri kualitatif dalam astrofisika. Jadi menjelaskan sifat mereka telah menjadi salah satu masalah terbesar yang belum terpecahkan dalam astrofisika dalam beberapa tahun terakhir.
CHIME adalah teleskop radio unik, yang dirancang dan dibangun oleh para astronom Kanada, Smith menjelaskan:
CHIME merekonstruksi gambar langit atas dengan memproses sinyal radio yang direkam oleh ribuan antena dengan sistem pemrosesan sinyal besar. Sistem pemrosesan sinyal CHIME adalah yang terbesar dari semua teleskop di Bumi, memungkinkannya untuk mencari wilayah besar langit secara bersamaan.
![]() |
| FRB pertama - dijuluki FRB 121102 - ditemukan pada tahun 2007. Gambar cahaya tampak ini menunjukkan galaksi inangnya. Gambar melalui Observatorium Gemini / AURA / NSF / NRC. |
Tetapi Anda dapat dengan aman bertaruh bahwa alien bukanlah penyebab FRB. Mengapa? Burster terlihat di langit, itu sebabnya. Jenis sinyal yang sama datang dari galaksi yang umumnya dipisahkan oleh miliaran tahun cahaya. Jadi bagaimana mungkin alien mengatur begitu banyak alam semesta untuk terlibat dalam penyiaran sinyal yang sama? Hampir tidak ada cukup waktu sejak Big Bang untuk mengoordinasikan kerja tim yang begitu luas, bahkan jika Anda dapat memikirkan alasannya!
Akan sulit untuk memahami bagaimana alien bisa mengkoordinasikan ledakan radio sekuat itu pada jarak yang begitu jauh, tetapi siapa yang tahu? Occam Razor akan menyarankan bahwa FRB kemungkinan besar berasal dari alam - tetapi menentukan apa yang menyebabkannya akan membutuhkan pengamatan lanjutan.
Intinya: FRB adalah fenomena eksotis, terlepas dari apa yang menyebabkannya, dan berkat pengamatan baru dari teleskop seperti CHIME, para ilmuwan adalah langkah lain yang lebih dekat untuk menyelesaikan misteri yang menakjubkan ini.
Sumber: Observations of fast radio bursts at frequencies down to 400 megahertz
Sumber: The source of a second repeating fast radio burst
Melalui University McGill
Asteroid Misterius 'Oumuamua Bisa Jadi Layar Surya Raksasa' Yang Dikirim Dari Peradaban Lain Untuk Mencari Tanda Kehidupan
Sebuah asteroid misterius yang disebut Oumuamua, objek antar bitang pertama yang pernah dilihat di tata surya kita bisa jadi layar surya milik alien yang dikirim untuk mencari tanda-tanda kehidupan, sebuah penelitian pun telah mengklaim hal tersebut.
Para Astronom dari Harvard Smithsonian Center for Astrophysics (CfA) menganalisis bentuk cerutu aneh dari objek dan dorongan tak terduga dalam kecepatan dan pergeseran lintasan saat melewati tata surya bagian dalam tahun lalu.
Mereka menyimpulkan bahwa asteroid aneh itu mungkin adalah cahaya buatan yang berasa dari asteroid tersebut.
Penelitian 'Cloud Solar Radiation Pressure Explain 'Oumuamua's Peculiar Acceleration?', yang baru-baru ini muncul secara online yang dilakukan oleh Shmuel Bialy, seorang peneliti pasca doktoral di institut CfA untuk Teori dan Komputasi (ITC) dan Profesor Abraham Loeb, direktur ITC, Frank B. Braid Jr. Profesor Sains di Universitas Harvard dan ketua Komite Penasihat Starshot Breakthrough.
Para peneliti mengatakan akselerasi yang aneh bisa menjadi hasil dari radiasi matahari mendorong layar surya raksasa tersebut.
Mereka menemukan sebuah layar setebal sepersekian milimeter (0,3-0,9 mm) selembar bahan padat yang cukup untuk bertahan hidup dalam perjalanan ke seluruh galaksi.
Lightsails dengan dimensi yang sama telah dirancang dan dikonstruksi oleh manusia, termasuk proyek IKAROS yang dirancang Jepang dan Starshot Initiative.
'Dengan mempertimbangkan asal buatan, satu kemungkinan adalah bahwa Oumuamua adalah lightail yang mengambang di ruang antar bintang sebagai puing-puing dari peralatan teknologi canggih tersebut', kata mereka.
'Atau skenarion lain yang lebih eksotis adalah bahwa Oumuamua mungkin merupakan penyelidikan operasional penuh yang dikirim secara sengaja ke sekitar Bumi oleh peradaban alien,' tambah mereka.
Pilihan lain yang menjelaskan kurangnya komunikasi, kurangnya jenis sinyal apa pun bisa berarti objek raksasa tersebut sebenarnya adalah 'kapal keram alien'.
Profesor Loeb sebelumnya menulis dalam Scientific American, 'Oumuamua bisa menjadi kasus pertama yang diketahui dari relik buatan yang melayang ke Tata Surya kita dari ruang antar bintang'.
'Peluang ini membangun landasan potensial bagi batas baru arkeologi ruang angkasa, yaitu mempelajari peninggalan dari peradaban masa lalu di ruang angkasa'.
'Menemukan bukti untuk sampah antariksa buatan ini akan memberikan jawaban afirmatif untuk pertanyaan kuno 'Apakah kita sendirian?'. ini akan memiliki dampak dramatis pada budaya kita dan menambahkan perspektif kosmik baru terhadap signifikansi aktivitas manusia.'
Loeb mengatakan kepada Universe Today, 'Oumuamua bisa menjadi bagian aktif dari teknologi alien yang datang untuk menjelajahi Tata Surya kita, cara yang sama kita berharap untuk menjelajahi Alpha Centauri menggunakan Starshot dan teknologi serupa'.
'Alternatifnya adalah membayangkan bahwa Oumuamua sedang dalam misi pengintaian. Alasan saya merenungkan kemungkinan pengintaian adalah asumsi bahwa Oumuamua mengikuti orbit acak yang membutuhkan produksi ~10 ^ (15) objek-objek semacam itu per bintang di galaksi kita. Kelimpahan ini mencapai ratusan juta kali lebih banyak daripada yang diperkirakan dari Tata Surya, berdasarkan perhitungan yang kami lakukan pada tahun 2009. Kelebihan yang mengetukan 'Oumuamua adalah penyelidikan yang ditargetkan pada misi pengintaian dan bukan objek anggota dari suatu populasi acak.'
Objek cerutu bernama 'Oumuamua, ditemukan oleh observatorium Haleakala di Hawai pada 19 Oktober tahun lalu.
Penampilan dan tingkah lakunya membingungkan para ilmuwan dan menyebabkan spekulasi bahwa itu mungkin bahkan menjadi artefak asing dan sekarang telah mendapat dorongan kecepatan yang aneh ketika melewati Tata Surya kita yang membantu mengidentifikasi itu sebagai komet.
Teleskop pertama kali melihat objek misterius berwarna merah pada Oktober lalu saat ia melompati sistem tata surya bagian dalam.
Sejak itu, para astronom melakukan flip-flopped antara komet dan asteroid untuk tamu antar bintang pertama yang dikonfirmasi.
'Pengukuran presisi tinggi kami dari posisi 'Oumuamua mengungkapkan bahwa ada sesuatu yang mempengaruhi gerakannya selain kekuatan gravitasi Matahari dan planet-planet disekitarnya' kata Marco Micheli dari ESA (Badan Antariksa Eropa) Pusat Penyebaran Koordinasi Objek-Situasi Dekat-Bumi di Frascati, Italia dan tim penulis utama makalah yang menjelaskan temuan ini.
Perlu diketahui, sebuah asteroid berbentuk cerutu bernama 'Oumuamua berlayar melewati Bumi pada 97.200 (156.428 km/jam) pada bulan Oktober.
Ini pertama kali ditemukan oleh teleskop di Hawaii pada 19 Oktober dan diamati 34 kali pada minggu berikutnya.
Dinamai setelah istilah Hawaii untuk 'Pramuka' atau 'utusan' dan melewati bumi sekitar 85 kali jarak ke bulan.
Itu adalah objek antar bintang pertama yang terlihat di tata surya dan itu membingungkan para astronom.
Awalnya benda itu diduga bisa menjadi komet yang menghantam bumi. Namun, ini tidak menunjukkan perilaku klasik yang diharapkan dari komet pada umumnya, seperti ekor partiel es yang berdebu.
Asteroid ini memiliki panjang hingga satu seperempat mil (400 meter) dan sangat memanjang - mungkin 10 kali lebih pandang daripada lebar.
Aspek rasio itu lebih besar daripada asteroid yang sering diamati di tata surya kita hingga saat ini.
Tapi warna asteroid ini sedikit merah- khusus nya pink pucat dan kecerahan yang bervariasi sangat mirip dengan objek di tata surya kita sendiri.
Sekitar ukuran gedung pencakar langit Gherkin di London, beberapa astronom yakin itu dikemudikan oleh alien karena jarak yang sangat jauh.
Label:
Asteroid,
ESA,
Galaksi,
Jurnal,
Komet,
Misi Dan Reset,
Tata Surya
Misi Terakhir Cassini Menemukan Beberapa Fakta Ilmiah Menarik Tentang Cincin Saturnus
Seperti informasi yang kita dapatkan, bahwa Cassini sempat mengorbit planet cincin tersebut sebanyak 22 kali sebelum terjun kedalam atmosfer planet dalam misi terakhirnya.
Saat orbit terakhir, perangkat Ion dan Neutral Mass Spectrometer (INMS) Cassini sempat menangkap molekul organik yang terbuat dari material es dan air, material tersebut mengambang di hamparan cincin planet.
Penemuan menakjubkan ini sontak membuat para ilmuwan terkesima, mereka berasumsi jika cincin pada planet saturnus tersebut memiliki kandungan dari sebagian hujan besar yang juga disertai dengan es dan air.
Linda Spilker, pimpinan ilmuwan Cassini mengatakan "Menarik untuk melihat hasil tangkapan Cassini yang tidak pernah kita sangka" seperti dikutip dari Phys, Minggu (7/10/2018).
Menurut data yang dikirim INMS, hujang dari balik cincin planet tersebut meliputi beberapa komponen molekular kompleks, mulai dari air, hidrogen, propana, dan butana.
INMS juga mengukur variasi hujan di balik cincin Saturnus. Perangkat tersebut mengungkap kalau daerah cincin 'D' adalah daerah dimana hujan paling besar sering terjadi.
"Banyaknya jumlah hujan yang berlangsung di wilayah D menandakan kalau itu memegang peran besar pada karakteristik atmosfer Saturnus," lanjutnya.
Namun, sesaat sebelum Cassini mengakhiri misinya dengan menghancurkan diri, pesawat milik NASA tersebut mengabadikan sejumlah foto yang pada akhirnya dikirim ke Bumi. Beberapa foto tersebut diantaranya adalah foto yang menampilkan bayangan aneh di balik cincin planet.
Bayangan diambil saat Cassini melewati lapisan ionosfer Saturnus dari ketinggian antara 2.600-4.000 kilometer (sekitar 1.615-2.485 mil).
Foto memperlihatkan bayangan seolah keluar dari cincin akibat radiasi sinar ultraviolet Matahari yang mengurangi ionisasi di wilayah cincin.
Menurut penelitian ilmuwan dari Swedish Institute of Space Physics dan NASA Goddard Space Flight Center, ionisasi yang berkurang di wilayah cincin tersebut juga mengakibatkan penurunan plasma.
Diungkap, Saturnus memiliki keempat bagian cincin: A, B, C, dan D. Cincin A dan cincin B justru berpotensi terkena radiasi ultraviolet.
Karena itu, bagian cincin yang terkena radiasi ini menghasilkan bayangan aneh yang tertangkap Cassini. Sementara bagian cincin lainnya, C dan D, tidak terkena dampak dari radiasi ultraviolet.
"Ketebalan lapisan elektron di ionosfer Saturnus berubah drastis dari satu orbit ke lainnya. Variasi mengakibatkan efek elektron yang bergesek di bagian cincin planet," ujar peneliti William Kurth.
Label:
Cassini,
Misi Dan Reset,
Planet,
Saturnus
NASA Menemukan Media yang Hebat dari Lubang Hitam
Para ilmuwan telah mengambil langkah besar dalam pemburuan mereka untuk lubang hitam yang tidak terlalu kecil atau terlalu besar. Menemukan lubang hitam antara-massa yang sulit dipahami ini dapat membantu para astronom lebih memahami lubang hitam terbesar di alam semesta awal.
Penelitian baru ini berasal dari dua studi terpisah, masing-masing menggunakan data dari NASA Chandra X-Ray Observatory dan teleskop lainnya.
Lubang hitam yang mengandung antara sekitar seratus dan beberapa ratus ribu kali masa Matahari disebut "Lubang hitam perantara", atau IMBHs. Ini karena massa mereka menempatkan mereka di antara lubang hitam yang terdokumentasi dengan baik dan sering diteliti pada salah satu ujung skala massa dan "lubang hitam supermasif" yang ditemukan di daerah pusat galaksi masif di sisi lain.
Sementara beberapa IMBHs yang menarik telah dilaporkan dalam beberapa tahun terakhir, para astronom masih mencoba untuk menentukan seberapa umum mereka dan apa yang mereka ajarkan kepada kita tentang pembentukan lubang hitam supermasif pertama.
Satu tim peneliti yaitu Chandra COSMOS-Legacy Survey dimana tim tersebut dibentuk untuk mempelajari galaksi kerdi, yang mengandung kurang dari satu persen jumlah massa di bintang seperti Bima Sakti kita. (COSMOS adalah singkatan dari Cosmic Evolution Survey). Karakterisasi galaksi ini diaktifkan oleh dataset yang tersedia untuk bidang COSMOS pada panjang gelombang yang berbeda, termasuk data dari NASA dan ESA teleskop.
Data Chandra sangan penting untuk pencarian ini karena sumber sinar X-ray yang terang dan dekat dengan titip pusat galaksi adalah tanda yang menunjukkan adanya lubang hitam. Sinar-X dihasilkan oleh gas yang dipanaskan hingga jutaan derajat oleh gaya gravitasi dan magnet yang sangat besar di dekat lubang hitam.
"Kami mungkin telah menemukan bahwa galaksi kerdil merupakan surga bagi lubang hitam kelas menegah yang hilang ini," kata Mar Mezcua dari Institut Ilmu Luar Angkasa di Spanyol yang memimpin salah satu penelitian. "Kami tidak menemukan "beberapa IMBH-kami mungkin telah menemukan lusinan".
Timnya mengidentifikasi empat puluh lubang hitam yang tumbuh di galaksi kerdil. Dua belas dari mereka berada pada jarak lebih dari lima miliar tahun cahaya dari Bumi dan yang paling jauh berjarak 10,9 miliar tahun cahaya, lubang hitam paling jauh yang tumbuh di galaksi kerdi yang pernah terlihat. Salah satu galaksi kerdi ini adalah yan gpaling kecil yang ditemukan untuk menampun glubang hitam yang tumbuh di tengahnya.
Sebagian besar sumber-sumber ini mungkin IMBHs dengan massa yang sekitar sepuluh ribu hingga seratus ribu kali dari Matahari. Salah satu hasil penting dari penelitian ini adalah bahwa fraksi galaksi yang mengandung lubang hitam yang tumbuh lebih kecil untuk galaksi yang lebih kecil daripada untuk rekan-rekan mereka yang lebih besar.
Tim kedua yang dipimpin oleh Igor Chilingarian dari Harvard-Smithsonian Centre for Astrophysics (CfA) di Cambridge, Mass., Menemukan sampel penting yang terpisah dari IMBHs yang mungkin dalam galaksi yang lebih dekat dengan kita. Dalam sampel mereka, kandidat IMBH yang paling jauh adalah sekitar 2,8 miliar tahun cahaya dari Bumi dan sekitar 90% dari kandidat IMBH yang mereka temukan tidak lebih dari 1,3 miliar tahun cahaya jauhnya.
Dengan data dari Sloan Digital Sky Survey (SDSS), Chilingarian dan koleganya menemukan galaksi dengan tanda tangan cahaya optik dari lubang hitam yang tumbuh dan kemudian memperkirakan massa mereka. Mereka memilih 305 galaksi dengan sifat-sifat yang menyarankan lubang hitam dengan massa kurang dari 300.000 kali Matahari yang bersembunyi di daerah pusat masing-masing galaksi ini.
Hanya 18 anggota dari daftar ini berisi pengamatan X-ray berkualitas tinggi yang memungkinkan konfirmasi bahwa sumbernya adalah lubang hitam. Deteksi dengan Chandra dan dengan XMM-Newton diperoleh untuk sepuluh sumber, menunjukkan bahwa sekitar setengah dari 305 kandidat IMBH cenderung menjadi IMBHs yang valid. Massa untuk sepuluh sumber yang terdeteksi dengan pengamatan X-ray ditentukan antara 40.000 dan 300.000 kali massa Matahari.
"Ini adalah contoh lubang hitam massal menengah terbesar yang pernah ditemukan," kata Chilingarian. "Karunia lubang hitam ini dapat digunakan untuk mengatasi salah satu misteri terbesar dalam astrofisika."
IMBHs mungkin dapat menjelaskan bagaimana lubang hitam yang sangat besar, yang sangat supermasif, dapat terbentuk begitu cepat setelah Big Bang. Satu penjelasan utama adalah bahwa lubang hitam supermasif tumbuh dari waktu ke waktu dari lubang-lubang hitam kecil yang mengandung sekitar seratus kali massa Matahari. Sebagian dari benih ini harus bergabung untuk membentuk IMBHs. Penjelasan lain adalah bahwa mereka terbentuk sangat cepat dari runtuhnya awan gas raksasa dengan massa yang sama dengan ratusan ribu kali dari Matahari.
Mezcua dan timnya mungkin melihat bukti yang mendukung ide keruntuhan langsung, karena teori ini memprediksi bahwa galaksi yang kurang masif dalam sampel mereka harus lebih kecil kemungkinannya mengandung IMBHs.
"Bukti kami hanya tidak langsung karena mungkin bahwa IMBHs sama umumnya dalam galaksi yang lebih kecil tetapi mereka tidak mengkonsumsi cukup materi untuk dideteksi sebagai sumber-sumber X-ray", kata rekan penulis Mezcua, Francesca Civano dari CfA.
Tim Chilingarian memiliki kesimpulan yang berbeda.
"Kami berpendapat bahwa hanya kehadiran lubang hitam massa menengah dalam kisaran massa yang kami deteksi menunjukkan bahwa lubang hitam yang lebih kecil dengan massa sekitar seratus Suns ada," kata co-penulis Chilingarian, Ivan Yu. Katkov dari Moscow State University di Rusia. "Lubang hitam yang lebih kecil ini bisa menjadi bibit untuk pembentukan lubang hitam supermasif."
Kemungkinan lain adalah kedua mekanisme itu benar-benar terjadi. Kedua tim setuju bahwa untuk membuat kesimpulan yang kuat, diperlukan sampel lubang hitam yang jauh lebih besar dengan menggunakan data dari satelit masa depan. Makalah oleh Mar Mezcua dan rekannya diterbitkan dalam terbitan Agustus Pemberitahuan Bulanan Royal Astronomical Society dan tersedia online . Makalah oleh Igor Chilingarian baru-baru ini diterima untuk publikasi di The Astrophysical Journal dan tersedia online .
![]() |
| The COSMOS Legacy Survey menunjukkan data yang telah memberikan bukti keberadaan black hole menengah (IMBHs). (sumber: nasa.gov) |
Penelitian baru ini berasal dari dua studi terpisah, masing-masing menggunakan data dari NASA Chandra X-Ray Observatory dan teleskop lainnya.
Lubang hitam yang mengandung antara sekitar seratus dan beberapa ratus ribu kali masa Matahari disebut "Lubang hitam perantara", atau IMBHs. Ini karena massa mereka menempatkan mereka di antara lubang hitam yang terdokumentasi dengan baik dan sering diteliti pada salah satu ujung skala massa dan "lubang hitam supermasif" yang ditemukan di daerah pusat galaksi masif di sisi lain.
Sementara beberapa IMBHs yang menarik telah dilaporkan dalam beberapa tahun terakhir, para astronom masih mencoba untuk menentukan seberapa umum mereka dan apa yang mereka ajarkan kepada kita tentang pembentukan lubang hitam supermasif pertama.
Satu tim peneliti yaitu Chandra COSMOS-Legacy Survey dimana tim tersebut dibentuk untuk mempelajari galaksi kerdi, yang mengandung kurang dari satu persen jumlah massa di bintang seperti Bima Sakti kita. (COSMOS adalah singkatan dari Cosmic Evolution Survey). Karakterisasi galaksi ini diaktifkan oleh dataset yang tersedia untuk bidang COSMOS pada panjang gelombang yang berbeda, termasuk data dari NASA dan ESA teleskop.
Data Chandra sangan penting untuk pencarian ini karena sumber sinar X-ray yang terang dan dekat dengan titip pusat galaksi adalah tanda yang menunjukkan adanya lubang hitam. Sinar-X dihasilkan oleh gas yang dipanaskan hingga jutaan derajat oleh gaya gravitasi dan magnet yang sangat besar di dekat lubang hitam.
"Kami mungkin telah menemukan bahwa galaksi kerdil merupakan surga bagi lubang hitam kelas menegah yang hilang ini," kata Mar Mezcua dari Institut Ilmu Luar Angkasa di Spanyol yang memimpin salah satu penelitian. "Kami tidak menemukan "beberapa IMBH-kami mungkin telah menemukan lusinan".
Timnya mengidentifikasi empat puluh lubang hitam yang tumbuh di galaksi kerdil. Dua belas dari mereka berada pada jarak lebih dari lima miliar tahun cahaya dari Bumi dan yang paling jauh berjarak 10,9 miliar tahun cahaya, lubang hitam paling jauh yang tumbuh di galaksi kerdi yang pernah terlihat. Salah satu galaksi kerdi ini adalah yan gpaling kecil yang ditemukan untuk menampun glubang hitam yang tumbuh di tengahnya.
Sebagian besar sumber-sumber ini mungkin IMBHs dengan massa yang sekitar sepuluh ribu hingga seratus ribu kali dari Matahari. Salah satu hasil penting dari penelitian ini adalah bahwa fraksi galaksi yang mengandung lubang hitam yang tumbuh lebih kecil untuk galaksi yang lebih kecil daripada untuk rekan-rekan mereka yang lebih besar.
Tim kedua yang dipimpin oleh Igor Chilingarian dari Harvard-Smithsonian Centre for Astrophysics (CfA) di Cambridge, Mass., Menemukan sampel penting yang terpisah dari IMBHs yang mungkin dalam galaksi yang lebih dekat dengan kita. Dalam sampel mereka, kandidat IMBH yang paling jauh adalah sekitar 2,8 miliar tahun cahaya dari Bumi dan sekitar 90% dari kandidat IMBH yang mereka temukan tidak lebih dari 1,3 miliar tahun cahaya jauhnya.
Dengan data dari Sloan Digital Sky Survey (SDSS), Chilingarian dan koleganya menemukan galaksi dengan tanda tangan cahaya optik dari lubang hitam yang tumbuh dan kemudian memperkirakan massa mereka. Mereka memilih 305 galaksi dengan sifat-sifat yang menyarankan lubang hitam dengan massa kurang dari 300.000 kali Matahari yang bersembunyi di daerah pusat masing-masing galaksi ini.
Hanya 18 anggota dari daftar ini berisi pengamatan X-ray berkualitas tinggi yang memungkinkan konfirmasi bahwa sumbernya adalah lubang hitam. Deteksi dengan Chandra dan dengan XMM-Newton diperoleh untuk sepuluh sumber, menunjukkan bahwa sekitar setengah dari 305 kandidat IMBH cenderung menjadi IMBHs yang valid. Massa untuk sepuluh sumber yang terdeteksi dengan pengamatan X-ray ditentukan antara 40.000 dan 300.000 kali massa Matahari.
"Ini adalah contoh lubang hitam massal menengah terbesar yang pernah ditemukan," kata Chilingarian. "Karunia lubang hitam ini dapat digunakan untuk mengatasi salah satu misteri terbesar dalam astrofisika."
IMBHs mungkin dapat menjelaskan bagaimana lubang hitam yang sangat besar, yang sangat supermasif, dapat terbentuk begitu cepat setelah Big Bang. Satu penjelasan utama adalah bahwa lubang hitam supermasif tumbuh dari waktu ke waktu dari lubang-lubang hitam kecil yang mengandung sekitar seratus kali massa Matahari. Sebagian dari benih ini harus bergabung untuk membentuk IMBHs. Penjelasan lain adalah bahwa mereka terbentuk sangat cepat dari runtuhnya awan gas raksasa dengan massa yang sama dengan ratusan ribu kali dari Matahari.
Mezcua dan timnya mungkin melihat bukti yang mendukung ide keruntuhan langsung, karena teori ini memprediksi bahwa galaksi yang kurang masif dalam sampel mereka harus lebih kecil kemungkinannya mengandung IMBHs.
"Bukti kami hanya tidak langsung karena mungkin bahwa IMBHs sama umumnya dalam galaksi yang lebih kecil tetapi mereka tidak mengkonsumsi cukup materi untuk dideteksi sebagai sumber-sumber X-ray", kata rekan penulis Mezcua, Francesca Civano dari CfA.
Tim Chilingarian memiliki kesimpulan yang berbeda.
"Kami berpendapat bahwa hanya kehadiran lubang hitam massa menengah dalam kisaran massa yang kami deteksi menunjukkan bahwa lubang hitam yang lebih kecil dengan massa sekitar seratus Suns ada," kata co-penulis Chilingarian, Ivan Yu. Katkov dari Moscow State University di Rusia. "Lubang hitam yang lebih kecil ini bisa menjadi bibit untuk pembentukan lubang hitam supermasif."
Kemungkinan lain adalah kedua mekanisme itu benar-benar terjadi. Kedua tim setuju bahwa untuk membuat kesimpulan yang kuat, diperlukan sampel lubang hitam yang jauh lebih besar dengan menggunakan data dari satelit masa depan. Makalah oleh Mar Mezcua dan rekannya diterbitkan dalam terbitan Agustus Pemberitahuan Bulanan Royal Astronomical Society dan tersedia online . Makalah oleh Igor Chilingarian baru-baru ini diterima untuk publikasi di The Astrophysical Journal dan tersedia online .
Label:
Lubang Hitam,
Misi Dan Reset,
NASA,
Teleskop
NASA Bersiap Untuk Meluncurkan Parker Solar Probe, Misi untuk Mendekati Matahari
Pada awal Agustus pagi, langit di dekat Cape Canaveral, Florida, akan terlihat peluncuran Parker Solar Probe. Tanggal 6 Agustus 2018, United Launch Alliance Delta IV Heavy akan meluncur ke ruang angkasa dengan membawa pesawat berukuran mobil, yang akan mempelajari Matahari lebih dekat daripada objek buatan manusia yang pernah ada.
Pada 20 Juli 2018, Nicky Fox, ilmuwan proyek Parker Solar Probe di Johns Hopkins University Applied Physics Lab di Laurel, Maryland, dan Alex Young, associate director for science di Heliophysics Science Division di NASA Goddard Space Flight Center di Greenbelt, Maryland. , memperkenalkan sasaran sains Parker Solar Probe dan teknologi di belakang mereka pada konferensi pers yang disiarkan televisi dari Kennedy Space Center NASA di Cape Canaveral, Florida.
"Kami sudah mempelajari Matahari selama beberapa dekade, dan sekarang kami akhirnya akan pergi kesana," kata Young.
Matahari kita jauh lebih kompleks daripada yang terlihat. Matahari adalah bintang yang dinamis dan aktif secara magnetis. Atmosfer Matahari secara konstan mengirim material magnet ke luar, membungkus tata surya kita jauh melampaui orbit Pluto dan mempengaruhi setiap dunia di sepanjang jalan. Gulungan energi magnetik dapat meledak dengan radiasi cahaya dan partikel yang menjelajah ruang angkasa dan menciptakan gangguan sementara di atmosfer kita, kadang-kadang sinyal radio dan komunikasi goyah di dekat Bumi. Pengaruh aktivitas matahari di Bumi dan dunia lain secara kolektif dikenal sebagai cuaca angkasa, dan kunci untuk memahami asal-usulnya teletak pada pemahaman Matahari itu sendiri.
"Energi Matahari selalu mengali melewati dunia kita," kata FOx. " Dan meskipun angin matahari tidak terlihat, kita dapat melihatnya melingkari kutub sebagai aurora yang indah dengan sejumlah energi dan partikel yang mengalir ke atmosfer kita. Kami tidak memiliki pemahaman yang kuat tentang mekanisme yang mendorong angin itu ke arah kami, dan itulah yang kami tuju untuk ditemukan." lanjutnya.
Di situlah Parker Solar Probe masuk. Pesawat ruang angkasa membawa barisan instrumen untuk mempelajari Matahari baik dari jarak jauh maupun secara langsung. Data dari instrumen state-of-the-art ini harus membantu para ilmuwan menjawab tiga pertanyaan mendasar tentang bintang ini.
Salah satu pertanyaan itu adalah misteri percepatan angin matahari, aliran konstan material Matahari. Meskipun sebagian besar kita memahami asal-usul angin matahari pada Matahari, kita tahu ada titik yang belum diamati dimana angin matahari dipercepat ke kecepatan supersonik. Data menunjukkan perubahan ini terjadi di korona, wilayah atmosfer Matahari yang akan diterbangi Parker Solar Probe secara langsung, dan para ilmuwan berencana untuk menggunakan pengukuran jarak jauh dan in-house Parker Solar Probe untuk menjelaskan bagaimana ini terjadi.
Kedua, para ilmuwan berharap untuk mempelajari rahasia suhu yang sangat tinggi dari korona. Permukaan Matahari yang terlihat adalah sekitar 10.000 F. Tetapi, untuk alasan yang tidak sepenuhnya kita pahami, korona itu ratusan kali lebih panas, melonjak hingga beberapa juta derajat F. Ini berlawanan dengan intuisi, karena energi matahari dihasilkan pada inti.
Akhirnya, suite ISIS - kependekan dari Integrated Sciennce Investigation of the Sun,akan mengukur elektron, proton, dan ion untuk memahami siklus kehidupan partikel dan darimana mereka berasal, bagaimana mereka menjadi lebih cepat serta bagaimana mereka bergerak keluar dari Matahari melalui ruang antarplanet.
Parker Solar Probe adalah misi yang memakan waktu sekitar enam puluh tahun. Pada tahun 1958, fisikawan Eugene Parker menerbitkan makalah ilmiah inovatif yan gberteori tentang keberadaan angin matahari. Misi ini sekarang dinamai menurut namanya.
Hanya dalam beberapa dekade terakhir, teknologi cukup jauh untuk membuat Parker Solar Probe menjadi kenyataan. Kunci perjalanan pesawat ruang angkasa ini adalah tiga terobosan utama : Perisai panas, Sistem pendinginan susunan matahari, dan sistem manajemen kesalahan.
"Sistem Perlindungan Termal (perisai panas) adalah salah satu teknologi misi yang memungkinkan pesawat terbang," kata Andy Driesman, project manager Parker Solar Probe di Johns Hopkins Applied Physics Lab. "Ini memungkinkan pesawat luar angkasa beroperasi pada suhu ruangan."
Inovasi penting lainnya adalah sistem pendingin array surya dan sistem manajemen kesalahan di atas kapal. Sistem pendinginan susunan surya memungkinkan panel surya untuk menghasilkan tenaga di bawah beban panas yang intens dari Matahari dan sistem manajemen gangguan melindungi pesawat ruang angkasa selama periode waktu yang lama ketika pesawat ruang angkasa tidak dapat berkomunikasi dengan Bumi.
Meskipun Delta IV Heavy adalah salah satu roket terkuat di dunia, Parker Solar Probe relatif kecil, seukuran mobil kecil. Tapi yang dibutuhkan Parker Solar Probe adalah energi. Untuk sampai ke Matahari membutuhkan banyak energi saat peluncuran supaya mencapai orbitnya mengelilingi Matahari. Itu karena setiap objek yang diluncurkan dari Bumi memulai perjalanan mengelilingi Matahari dengan kecepatan yang sama seperti Bumi - sekitar 18,5 mil per detik - jadi objek harus melakukan perjalanan dengan sangat cepat untuk menangkal momentum itu, mengubah arah, dan mendekati Matahari.
Waktu peluncuran Parker Solar Probe - antara sekitar 4 dan 6 pagi. EDT, dan dalam jangka waktu sekitar dua minggu - sangat tepat dipilih untuk mengirim Parker Solar Probe ke arah target vital pertamanya untuk mencapai orbit Venus.
Pada 20 Juli 2018, Nicky Fox, ilmuwan proyek Parker Solar Probe di Johns Hopkins University Applied Physics Lab di Laurel, Maryland, dan Alex Young, associate director for science di Heliophysics Science Division di NASA Goddard Space Flight Center di Greenbelt, Maryland. , memperkenalkan sasaran sains Parker Solar Probe dan teknologi di belakang mereka pada konferensi pers yang disiarkan televisi dari Kennedy Space Center NASA di Cape Canaveral, Florida.
"Kami sudah mempelajari Matahari selama beberapa dekade, dan sekarang kami akhirnya akan pergi kesana," kata Young.
Matahari kita jauh lebih kompleks daripada yang terlihat. Matahari adalah bintang yang dinamis dan aktif secara magnetis. Atmosfer Matahari secara konstan mengirim material magnet ke luar, membungkus tata surya kita jauh melampaui orbit Pluto dan mempengaruhi setiap dunia di sepanjang jalan. Gulungan energi magnetik dapat meledak dengan radiasi cahaya dan partikel yang menjelajah ruang angkasa dan menciptakan gangguan sementara di atmosfer kita, kadang-kadang sinyal radio dan komunikasi goyah di dekat Bumi. Pengaruh aktivitas matahari di Bumi dan dunia lain secara kolektif dikenal sebagai cuaca angkasa, dan kunci untuk memahami asal-usulnya teletak pada pemahaman Matahari itu sendiri.
"Energi Matahari selalu mengali melewati dunia kita," kata FOx. " Dan meskipun angin matahari tidak terlihat, kita dapat melihatnya melingkari kutub sebagai aurora yang indah dengan sejumlah energi dan partikel yang mengalir ke atmosfer kita. Kami tidak memiliki pemahaman yang kuat tentang mekanisme yang mendorong angin itu ke arah kami, dan itulah yang kami tuju untuk ditemukan." lanjutnya.
Di situlah Parker Solar Probe masuk. Pesawat ruang angkasa membawa barisan instrumen untuk mempelajari Matahari baik dari jarak jauh maupun secara langsung. Data dari instrumen state-of-the-art ini harus membantu para ilmuwan menjawab tiga pertanyaan mendasar tentang bintang ini.
Salah satu pertanyaan itu adalah misteri percepatan angin matahari, aliran konstan material Matahari. Meskipun sebagian besar kita memahami asal-usul angin matahari pada Matahari, kita tahu ada titik yang belum diamati dimana angin matahari dipercepat ke kecepatan supersonik. Data menunjukkan perubahan ini terjadi di korona, wilayah atmosfer Matahari yang akan diterbangi Parker Solar Probe secara langsung, dan para ilmuwan berencana untuk menggunakan pengukuran jarak jauh dan in-house Parker Solar Probe untuk menjelaskan bagaimana ini terjadi.
Kedua, para ilmuwan berharap untuk mempelajari rahasia suhu yang sangat tinggi dari korona. Permukaan Matahari yang terlihat adalah sekitar 10.000 F. Tetapi, untuk alasan yang tidak sepenuhnya kita pahami, korona itu ratusan kali lebih panas, melonjak hingga beberapa juta derajat F. Ini berlawanan dengan intuisi, karena energi matahari dihasilkan pada inti.
Akhirnya, suite ISIS - kependekan dari Integrated Sciennce Investigation of the Sun,akan mengukur elektron, proton, dan ion untuk memahami siklus kehidupan partikel dan darimana mereka berasal, bagaimana mereka menjadi lebih cepat serta bagaimana mereka bergerak keluar dari Matahari melalui ruang antarplanet.
Parker Solar Probe adalah misi yang memakan waktu sekitar enam puluh tahun. Pada tahun 1958, fisikawan Eugene Parker menerbitkan makalah ilmiah inovatif yan gberteori tentang keberadaan angin matahari. Misi ini sekarang dinamai menurut namanya.
Hanya dalam beberapa dekade terakhir, teknologi cukup jauh untuk membuat Parker Solar Probe menjadi kenyataan. Kunci perjalanan pesawat ruang angkasa ini adalah tiga terobosan utama : Perisai panas, Sistem pendinginan susunan matahari, dan sistem manajemen kesalahan.
"Sistem Perlindungan Termal (perisai panas) adalah salah satu teknologi misi yang memungkinkan pesawat terbang," kata Andy Driesman, project manager Parker Solar Probe di Johns Hopkins Applied Physics Lab. "Ini memungkinkan pesawat luar angkasa beroperasi pada suhu ruangan."
![]() |
| Misi Sun-skimming seperti Parker Solar Probe telah menjadi impian para ilmuwan selama beberapa dekade, tetapi baru-baru ini memiliki teknologi yang dibutuhkan - seperti perisai panas, sistem pendinginan tata surya, dan sistem manajemen kesalahan - tersedia untuk membuat misi seperti itu menjadi kenyataan . Credits: NASA / Johns Hopkins APL / Ed Whitman |
Meskipun Delta IV Heavy adalah salah satu roket terkuat di dunia, Parker Solar Probe relatif kecil, seukuran mobil kecil. Tapi yang dibutuhkan Parker Solar Probe adalah energi. Untuk sampai ke Matahari membutuhkan banyak energi saat peluncuran supaya mencapai orbitnya mengelilingi Matahari. Itu karena setiap objek yang diluncurkan dari Bumi memulai perjalanan mengelilingi Matahari dengan kecepatan yang sama seperti Bumi - sekitar 18,5 mil per detik - jadi objek harus melakukan perjalanan dengan sangat cepat untuk menangkal momentum itu, mengubah arah, dan mendekati Matahari.
Waktu peluncuran Parker Solar Probe - antara sekitar 4 dan 6 pagi. EDT, dan dalam jangka waktu sekitar dua minggu - sangat tepat dipilih untuk mengirim Parker Solar Probe ke arah target vital pertamanya untuk mencapai orbit Venus.
NASA Fermi Mengidentifikasi Lubang Hitam Monster di Galaksi Sebagai Sumber Neutrino Berenergi Tinggi
Neutrino berenergi tinggi adalah partikel yang sulit ditangkap yang menurut para ilmuwan diciptakan oleh peristiwa paling kuat di alam semesta, seperti penggabungan galaksi dan material yang jatuh ke lubang hitam supermasif. Mereka melakukan perjalanan dengan kecepatan cahaya dan jarang berinteraksi dengan materi lain, memungkinkan mereka melakukan perjalanan tanpa hambatan melintasi jarak miliaran tahun cahaya. Penemuan neutrino berenergi tinggi pada 22 September 2017 mengirim para astonom pada pengejaran untuk menemukan sumbernya sebelum lubang hitam supermasif di galaksi yang jauh.
Neutrino ini ditemukan oleh tim ilmuwan internasional menggunakan Observatorium Eskube Neutrino National Science Foundation di Stasiun Amundsen-Scott South Pole Station. Fermi menemukan sumber neutrino dengan menelusuri jalurnya kembali ke ledakan sinar gamma dari lubang hitam supermasif yang jauh di rasi Orion.
"Sekali lagi, Fermi telah membantu membuat peningkatan besar lain di bidang yang sedang yang kita sebut astronomi mutimessenger," kata Paul Hertz direktur Divisi Astrophysics NASA di Washington. "Neutrino dan gelombang gravitasi memberikan jenis informasi baru tentang lingkungan paling ekstrim di alam semesta. Tetapi untuk memahami dengan baik apa yang mereka katakan kepada kami, kami perlu menghubungkannya dengan para astronom 'Messenger' yang paling tau"
Para ilmuwan mempelajari neutrino, serta sinar kosmik dan sinar gamma, untuk memahami apa yang teradi di lingkungan kosmik yang bergejolak seperti supernova, lubang hitam dan bintang. Neutrino menunjukan proses kompleks yang terjadi di dalam lingkungan, dan sinar kosmik menunjukkan kekuatan dan kecepatan aktivitas hebat. Tapi, para ilmuwan mengandalkan sinar gamma, bentuk cahaya paling energetik, untuk menandai dengan jelas sumber kosmik apa yang menghasilkan neutrino dan sinar kosmik ini.
"Ledakan kosmik yang paling ekstrim menghasilkan gelombang gravitasi, dan akselerator kosmik yang paling ekstrem menghasilkan neutrino energi tinggi dan sinar kosmik," kata Regina Caputo dari Pusat Penerbangan Luar Angkasa Goddard NASA di Greenbelt, Maryland, koordinator analisis untuk Fermi Large Area Telescope Collaboration. "Melalui Fermi, sinar gamma menyediakan jembatan untuk masing-masing sinyal kosmik baru ini."
Penemuan ini adalah subyek dari dua makalah yang diterbikan pada hari Kamis di jurnal Science. Makalah identifikasi sumber juga mencangkup observasi tindak lanjut oleh Pencitraan Gamma Atmosfer Utama Cherenkov Telescope dan data tambahan dari Neil Gehrels Swift Observatory NASA dan banyak fasilitas lainnya.
Data dari Fermi's Large Area Telescope mengungkapkan peningkatan emisi sinar gamma dari galaksi aktif yang terkenal pada saat neutrino tiba. Ini adalah jenis galaksi aktif yang disebut blazar, dengan lubang hitam supermasif dengan jutaan hingga miliyaran kali massa Matahari yang meledakkan pancaran partikel ke arah berlawanan dengan kecepatan cahaya. Blazar sangat cerah dan aktif karena salah satu dari jet ini kebetulan mengarah ke Bumi.
"LAT Fermi memantau seluruh langit dalam sinar gamma dan mengawasi aktifitas sekitar 2.000 blazar, namun TXS 0506 benar-benar menonjol," kata Sara Buson, NASA Postdoctoral Fellow di Goddard yang melakukan analisis data dengan Anna Franckowiak, seorang ilmuwan di usan penelitian Deustches Electronen-Sinkrotron di Zuethen, Jerman.
NASA Fermi Gamma-ray Space Telescope adalah sebuah astrofisika dan kemitraan partikel fisika, yang dikembangkan dan bekerja sama dengan Departemen Energi AS dengan kontribusi penting dari lembaga akademis dan mitra di Perancis, Jerman, Italia, Jepang, Swedia dan Amerika Serikat. Program Fellow NASA Postdoctoral dikelola oleh Universitas Space Research Association di bawah kontrak dengan NASA.
Subscribe to:
Posts (Atom)



































