Showing posts with label Berita. Show all posts
Showing posts with label Berita. Show all posts

OSIRIS-REx Robot Milik NASA Berhasil Mendarat Di Asteroid Kuno

 


Bukan cuma New Horizon saja yang mendapatkan rekor baik yang mencapai objek Ultima Thule, ada juga robot yang diterbangkan NASA yang sukses mendekati asteroid kuno bernama Bennu.

Dikutip dari Geek, Jumat (4/1/2019), robot bernama OSIRIS-REx tersebut sudah memasuki orbit pada 31 Desember 2018.

Rekor ini tak pelak menjadikan asteroid Bennu sebagai objek terkecil yang mampu dikelilingi sebuah robot pesawat luar angkasa.

“Tim kami terus mencoba untuk melakukan proses penerbangan ke orbit dengan manuver sempurna,” ujar investigator proyek OSIRIS-REx Dante Lauretta.

Setelah memasuki orbit, OSIRIS-REx akan terbang ke bagian kutub utara, kutub selatan, dan garis ekuator asteroid Bennu untuk mempelajari kandungan massanya.

Sejauh ini, masih minim diketahui soal karakteristik dan kandungan Bennu. Paling tidak, astronom sudah meneliti kalau asteroid kuno ini memiliki kandungan molekul dari atom oksigen dan hidrogen yang bergabung bersama, kandungan ini juga dikenal dengan nama hydroxyls.

Illustrasi asteroid Bennu
Dalam misi yang direncanakan berjalan selama tujuh tahun ini, OSIRIS-REx akan mengumpulkan sampel dari asteroid Bennu. Bennu sendiri mengandung senyawa organik yang sangat penting bagi kehidupan.

Sekadar informasi Bennu terdiri dari molekul karbon yang berasal dari masa awal tata surya sekitar 4,5 miliar tahun lalu.

Air, yang merupakan komponen vital untuk kehidupan, bisa juga terperangkap di dalam mineral-mineral asteroid ini.


Selain itu, Bennu dipilih untuk dijelajahi karena adanya kemungkinan bahwa asteroid ini akan menghantam bumi dalam jangka waktu 166 tahun dari sekarang.

Bennu berada di posisi kedua dalam daftar NASA, berisikan 72 objek di dekat bumi yang mempunyai potensi menghantam planet ini.

Dengan misi senilai US$ 800 juta ini, peneliti berharap akan mendapatkan informasi lebih banyak tentang kemungkinan bagaimana Bennu akan mempengaruhi Bumi dalam waktu 150 tahun mendatang, demikian menurut juru bicara misi OSIRIS-REx, Erin Morton.

Pengumpulan data akan dilakukan menggunakan lengan mekanik OSIRIS-REx sepanjang 10 meter dan data direncanakan sampai ke Bumi pada tahun 2021.

Bennu berjarak 122 juta kilometer dari Bumi. Dibutuhkan tujuh menit untuk medapatkan kabar dari pesawat ruang angkasa ke pengendali penerbangan di Colorado, AS.

Inilah Alasan Kenapa Pluto Memancarkan Sinar X


Planet pluto merupakan planet terjauh yang ada di galaksi bima sakti. Planet ini menarik untuk ditelusuri oleh para ilmuwan karena banyak sekali hal yang patut untuk diteliti.

Pada 2015 lalu, NASA mencetak rekor baru dengan mengirim pesawat New Horizons ke orbit Pluto.

Walau pencapaiannya terbilang sukses, masih banyak misteri yang belum bisa dipecahkan NASA tentang Pluto hingga kini, termasuk fenomena mengapa ia bisa memendarkan sinar X dari permukaan.

Peristiwa tersebut dibuktikan dari foto jepretan kamera New Horizons yang diunggah pada akhir 2015.

Pada foto itu, planet kerdil tersebut memperlihatkan gumpalan cahaya biru yang diduga kuat merupakan sinar X.

Dilansir Phys, Rabu (2/1/2019), astronom kaget mengapa Pluto bisa memancarkan sinar X. Pasalnya, Pluto adalah planet dengan bebatuan bersuhu dingin. Logikanya, mustahil bagi Pluto bisa mengeluarkan sinar X.

Sejumlah gambar terkini dari wahana New Horizons mengungkapkan keberadaan es beraneka bahan di Pluto. (Sumber NASA/JHUAPL/SWRI)
Spekulasi ilmiah para astronom akhirnya sampai pada teori bahwa sinar X Pluto yang muncul akibat cahaya matahari.

Faktanya, matahari tidak hanya bisa memberikan cahaya dan panas, melainkan juga partikel yang mengalir.

Jadi bisa dibilang, partikel-partikel Matahari yang bertemu dengan Pluto bisa jadi menciptakan sinar X.

Teori ini memang belum bisa diakui kebenarannya sebab Pluto adalah planet terjauh, bahkan di luar Tata Surya. Jaraknya saja sekitar 6 miliar kilometer dari Matahari.

Dengan demikian, untuk bisa sampai ke Pluto, partikel cahaya Matahari setidaknya butuh waktu sangat lama. Karena itu, mereka masih terus mencari tahu alasan mengapa sinar X itu benar-benar terpancar dari permukaan planet.

Gambar tersebut diabadikan oleh New Horizons, dengan teknik yang disebut `principal component analysis` (Doc: Express)
Sebagai informasi, New Horizon telah berhasil menangkap beberapa citra permukaan Pluto pada 2015. Salah satunya adalah kemungkinan keberadaan gunung berapi di planet tersebut.

Selain itu, pada awal misi, permukaan Pluto disebut-sebut memiliki kondisi serupa Bumi.

Hanya, atmosfer Pluto lebih banyak dipengaruhi nitrogen yang membuat titik bekunya mencapai -210 derajat.

Misi penjelajahan Pluto dengan pesawat tak berawak ini dimulai pada 2006. Setelah sembilan tahun melakukan perjalanan, pesawat itu akhirnya mengirimkan konfirmasi kedatangannya di Pluto pada Juli 2015.

New Horizon Ungkap Tentang MU69: Ultima Thule Merupakan Komet Khas Masa Depan

2014 MU69 diperkirakan semula adalah dua objek, dijuluki 'Ultima' dan 'Thule', yang terbentuk dari waktu ke waktu dari awan yang berputar dari tubuh-tubuh es yang kecil. Perbandingan dengan inti komet yang diketahui menunjukkan bahwa Ultima Thule akan menjadi komet khas jika memasuki Tata Surya bagian dalam. NASA / JHUAPL / SWRI
Ketika 2018 berakhir dan 2019 dimulai, New Horizons NASA terbang melewati target pertamanya setelah Pluto: 2014 MU 69 .

Ultima Thule nyaris tidak ada dalam gambar (kiri) dari pesawat ruang angkasa New Horizons. Dunia jauh lebih menonjol ketika bintang-bintang telah dihapus (kanan); gumpalan gelap adalah artefak dari pengurangan bintang yang tidak sempurna. Garis bidik kuning menandai posisi Ultima. Sampai hanya beberapa hari sebelum kedatangannya, MU69 2014 (Ultima Thule) tidak lebih dari satu piksel dalam detektor New Horizons. NASA / JHUAPL / SWRI
Dijuluki Ultima Thule, itu berubah dari satu piksel di detektor menjadi manusia salju warna merah, berbintik-bintik.

Gambar warna pertama dibangun (melalui komposit dari data New Horizons) 2014 MU69: Ultima Thule. Warna kemerahan kemungkinan disebabkan oleh tholins: warna kemerahan yang sama terlihat di permukaan Charon. NASA / JHUAPL / SWRI
Tiga minggu pertama data telah mengungkapkan detail spektakuler mengenai komet Ultima Thule yang jauh ini.

Beberapa gambar Ultima Thule (2014 MU69) ketika New Horizons mendekatinya mengungkapkan tubuh yang berputar dan jatuh, tetapi juga mengungkapkan detail tambahan tentang objek, karena jarak dari kamera menurun dari 500.000 km ke 28.000 km: penurunan 94 %. NASA / JHUAPL
Selain tidak aktif, ia sangat sesuai dengan harapan mengenai inti komet.

Banyak komet memiliki inti yang dicitrakan oleh berbagai wahana, mengungkapkan dua kelas inti komet: inti benda tunggal dan inti biner kontak. 2014 MU69 tampaknya dari tipe biner kontak, dan menandai pertama kalinya Planetary Society pernah mencitrakan objek seperti itu sebelum pernah mengembangkan ekor atau kehilangan beberapa volatilnya. THE PLANETARY SOCIETY / VARIOUS (SEE IMAGE FOR FULL CREDITS)
Pada tahun 1986, komet Halley dicitrakan oleh ESA's Giotto mission, mengungkapkan two-lobed core.

Pandangan inti Comet Halley ini diperoleh oleh Halley Multicolour Camera (HMC) di atas pesawat ruang angkasa Giotto, saat melewati 600 km dari inti komet pada 13 Maret 1986. Komet itu jelas cukup aktif pada saat itu. ESA / MPAE LINDAU
Demikian pula, gambar Deep Impact 2010 tentang komet Hartley 2 mengungkapkan lobus yang sarat volatil dihubungkan oleh leher yang halus.

Penyelidikan Deep Impact NASA mengambil gambar-gambar ini dari komet Hartley 2, mengungkapkan outgassing dari tepi salah satu lobusnya dan perbedaan besar dalam reflektifitas permukaan dari satu daerah ke daerah. Leher yang halus kemungkinan bukan cacat, tetapi fitur yang umum bagi banyak binari kontak yang berasal dari sabuk Kuiper, karena akumulasi material es mengarah ke konfigurasi ini. Para ilmuwan masih mengumpulkan data dari flyby New Horizons tahun 2014 MU69, yang dapat menjelaskan lebih lanjut tentang detail pembentukan leher halus. NASA / JPL / UMD
Tetapi misi Rosetta ESA menetapkan standar baru dalam pencitraan komet.

Gambar resolusi tinggi dari komet 67P / Churyumov-Gerasimenko mengungkapkan sebuah tubuh besar yang terdiri dari dua lobus yang dihubungkan oleh leher yang lebih tipis. Mirip dengan komet Halley atau 2014 MU69, komet Hartley 2 menunjukkan konfigurasi 'kontak biner'. Kami sekarang percaya ini umum di antara objek sabuk Kuiper. ESA / ROSETTA / NAVCAM
Foto-foto dan film-film komet 67P / Churyumov-Gerasimenko yang sekarang legendaris ini memamerkan gas, bulu, dan bahkan salju.

Sisi-sisi komet yang menghadap matahari memanas terlebih dahulu, dengan kehadiran es yang mudah disublimasikan yang mengarah ke offgassing, pelepasan tekanan, dan hilangnya material. Semakin lama komet berada di dekat Matahari, semakin cepat mereka menguap. Untuk benda yang masih berada di sabuk Kuiper, penguapan harus diabaikan. ESA / ROSETTA / NAVCAM
Bahan-bahan es yang mudah menguap berlimpah di komet-komet ini, dan berubah fase dengan cepat ketika mereka terkena sinar matahari.

Film paling spektakuler dari misi ESetta Rosetta menunjukkan seperti apa permukaan komet 67P / Churyumov-Gerasimenko, termasuk es volatil yang menyublim dan membekukan kembali ketika berada di bawah sinar matahari atau bayangan, masing-masing, menyebabkan perilaku seperti salju.

 Ultima Thule saat ini berputar dan jatuh dengan cara yang mirip dengan komet yang dikenal dan dekat ini.

Film ini menunjukkan rotasi Ultima Thule yang jatuh seperti baling-baling selama rentang waktu sembilan jam antara 20:00 UT (3:00 ET) pada 31 Desember 2018, dan 05:01 UT (12:01 ET) pada Jan 1, 2019, seperti yang terlihat oleh Long Range Reconnaissance Imager (LORRI) di atas cakrawala baru NASA. NASA / JHUAPL
Satu-satunya perbedaan? Itu masih sangat jauh dari Matahari, menyebabkan esnya tetap utuh.

Berdasarkan data yang telah kembali sejauh ini dari misi New Horizons dan gambar-gambarnya dari MU69 2014 (Ultima Thule), kami dapat membuat model 3D seperti apa objek ini terlihat. Penampilan dua lobusnya, dengan leher yang halus dan reflektif, mengungkapkan sifat seperti komet yang masih membeku sepenuhnya, karena tidak pernah memiliki volatil yang cukup dipanaskan oleh Matahari. GETTY
Ultima Thule terlihat seperti inti komet yang khas, menandai pertama kali kita mencitrakannya di tempat asalnya: sabuk Kuiper.

Gambar Selasa, 1 Januari 2019 yang disediakan oleh NASA ini menunjukkan objek sabuk Kuiper Ultima Thule, sekitar 1 miliar mil di luar Pluto, ditemui oleh pesawat ruang angkasa New Horizons. Perbedaan kecerahan sesuai dengan perbedaan reflektifitas permukaan. Diperlukan waktu sekitar 20 bulan, mengingat jarak dan lintasan New Horizons saat ini, untuk mengunduh semua data yang diambil selama flyby Tahun Baru 2019. PERS ASOSIASI

Imbas Pemerintahan AS Tutup, Instagram NASA Berhenti Update


Badan antariksa nasional Amerika Serikat (AS) NASA, mengumumkan tidak akan memposting apapun di akun Instagram @nasa selama pemerintah federal AS tutup atau mengalami 'government shutdown'.

"We're sorry, but we will not be posting updates to Instagram during the government shutdown. We'll be back as soon as possible!," demikian pengumuman disampaikan NASA melalui postingan terbarunya, seperti dilihat pada, Selasa (23/1/2018).

Ini bukan pertama kalinya NASA 'tutup' karena dampak government shutdown. Pada 2013 pun pernah terjadi hal serupa. Saat itu, Presiden Barack Obama mengumumkan NASA hampir tutup sepenuhnya selama penutupan pemerintahan, namun Pusat Kendali Misi NASA tetap buka untuk mendukung dua astronotnya yang saat itu sedang bertugas di stasiun luar angkasa.

Instagram NASA sendiri terkenal aktif dan update melakukan postingan. Jejaring sosial berbagi foto dan video ini telah menjadi cara efektif bagi NASA mempromosikan berbagai kegiatan dan hasil penelitian luar angkasa mereka. Diikuti lebih dari 30 juta follower, para pecinta luar angkasa selalu menantikan foto-foto luar angkasa menakjubkan yang dirilis secara eksklusif oleh NASA di Instagramnya.

NASA hanya salah satu yang terkena dampak government shutdown AS. Seperti diketahui, sejak Sabtu (20/1), pemerintah federal AS tutup karena ketiadaan anggaran negara untuk menjalankan pemerintahan.

Hashtag #TrumpShutdown pun seharian jadi trending topic Twitter di AS tak lama setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan penutupan operasional pemerintahan. Netizen dan para politisi yang menentang Trump pun ikut ramai bersuara di Twitter.

Mereka ramai menyuarakan pendapatnya soal tidak tercapainya kesepakatan antara Partai Republik dan Partai Demokrat di Senat yang membuat buntunya pembahasan rencana anggaran federal Amerika Serikat.

Sumber Instagram:

https://www.instagram.com/p/BeQkZbTHHzk/?utm_source=ig_embed&ig_mid=W4GAVQABAAHlUHc3cwfBpashJKdK

Perusahaan Asal Russia Bakal Pasang Iklan di Langit Pada Tahun 2020

Source: Startrocket.met

"Angkasa akan indah dengan merek-merek terbaik, langit kita akan memukau kita setiap malam."
~ StartRocket

Industri periklanan memang selalu tumbuh, berkembang dan tidak pernah mati. Berbagai perusahaan beradu kreativitas untuk menampilkan iklan terbaik di bermacam-macam platform. Namun, siapa sangka jika langit nantinya tidak hanya berhias bintang-bintang, tetapi juga akan berhias iklan.

Orbital Display, proyek dari perusahaan startup asal Rusia bernama StartRocket direncanakan akan menggunakan satelit-satelit kubus kecil (CubeSats) yang akan menciptakan tampilan terprogram iklan di langit.

“Kita ‘diatur’ oleh brand dan event besar. Super Bowl, Coca Cola, Brexit, Olimpiade, Mercedes, FIFA, Supreme, dan tembok Meksiko. Ekonomi adalah darah dari sistem masyarakat. Hiburan dan periklanan adalah jantungnya,” ujar Vlad Sitnikov, Kepala Proyek Orbital Display.

Cara kerjanya, setiap CubeSats akan memiliki satu layar yang dapat dilipat untuk merefleksikan cahaya Matahari menjadi suatu bentuk dalam satu piksel sehingga memungkinkan mereka bersinar seperti bintang. CubeSats ini akan diatur untuk menampilkan iklan seolah-olah mereka adalah rasi bintang di langit malam.

Karena satelit itu bergantung pada Matahari, maka gambar yang dipancarkan di langit itu hanya bisa ditampilkan pada saat fajar dan senja. Iklan di langit itu bakal memiliki luas sekitar 50 kilometer persegi. Iklan di langit ini dapat diprogram untuk menampilkan mulai dari logo hingga orang di langit selama enam menit dan sebanyak tiga atau empat kali dalam sehari.

CubeSats tersebut akan diluncurkan pada tahun 2020, dan mulai menampilkan iklan di langit malam pada tahun 2021. Satelit ini akan mengorbit di orbit rendah Bumi dengan ketinggian 400-500 kilometer.

Tampilan iklan akan memiliki besar magnitudo sekitar -8. (Untuk perbandingan, besar magnitudo Bulan Purnama sekitar -13 dan Matahari sekitar -27.)

*Magnitudo = ukuran kecerahan benda langit. Semakin kecil magnitudo, semakin cerah objek tersebut.

Selain digunakan untuk periklanan, Orbital Display ini juga direncanakan dapat digunakan untuk kepentingan lain seperti Hiburan, dengan menampilkan pesan atau gambar dari orbit yang bertujuan menghibur. Serta dapat digunakan untuk kepentingan darurat, misalnya ketika terjadi keadaan darurat seperti arus listrik yang lumpuh atau bencana, pemerintah dapat menggunakannya untuk menampilkan pemberitahuan kepada masyarakat.

Masalah Polusi Cahaya

Ahli astronomi John Barentine dari International Dark Sky Association mengungkap keberatannya dengan wacana Orbital Display terkait polusi cahaya yang akan dihasilkannya.

“Itu adalah ancaman bagi riset astronomi. Setiap gerakan cahaya di langit malam bisa mengganggu kemampuan kami untuk mengumpulkan cahaya dari sumber daya astronomi,” ujar Barentine

Sejauh ini rencana ini memang masih jauh dari realisasi. Sistemnya belum diuji, belum didanai, dan belum diizinkan menurut regulasi dan hukum baik lokal maupun internasional. Namun proyek ini masih berjalan sesuai jadwal.

“Apakah secara teknologi memungkinkan? Ya,“Apakah itu akan diizinkan? Dipertanyakan. " Kata Randy Segal, seorang pengacara yang berspesialisasi dalam hukum angkasa dan satelit di perusahaan Hogan Lovells.

Referensi:
https://startrocket.me/theorbitaldisplay/
https://teknologi.id/tekno/orbital-display-pasang-iklan-di-langit/

NASA Memperlihatkan Objek Luar Angkasa Pertama Terjauh Dari Bumi



Pergantian tahun 2019 ini mungkin bisa disebut sebagai era baru untuk eksplorasi ruang angkasa. Seperti diberitakan sebelumnya, National Aeronautics and Space Administration (Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat/NASA)  telah mengonfirmasi New Horizons sampai di titik paling jauh, sekitar 6,5 miliar tahun dari Bumi jaraknya.

Saat manusia Bumi menyaksikan kembang api di malam pergantian tahun, pesawat tanpa awak itu sudah mulai memasuki zona menakjubkan. Saat itu, New Horizons sudah berada sangat dekat dengan objek paling jauh yang pernah dikunjungi pesawat ruang angkasa lain, Ultima Thule.

Ultima Thule pertama kali mendapat sorotan saat tertangkap teleskop Hubble pada 2014. Namun baru kini para ahli dapat menjangkaunya.


Bukan tanpa alasan, para ahli yakin bahwa dengan mengenal Ultima Thule maka kita dapat memahami bagaimana pembentukan awal tata surya yang kita huni.

New Horizons dibawa flyby dengan jarak sekitar 3.500 kilometer dari Ultima Thule. Saat semakin dekat, barulah terlihat objek ini berbentuk pin bowling dengan dimensi sekitar 32 kali 16 kilometer.

Menurut ahli NASA, New Horizons bertemu dengan Ultima Thule tepat pada malam pergantian tahun waktu New York, AS.Baru sekitar 6 jam kemudian para ahli NASA di Laboratorium Fisika Terapan John Hopkins dan Southwest Research Institute menerima gambar pertamanya.

Jarak yang sangat jauh, ditambah berada di wilayah Sabuk Kuiper misterius yang terdiri dari ribuan benda sisa-sisa tata surya muda membuat data Ultima Thule agak lebih lama diterima para ahli di Bumi.

"Ini adalah eksplorasi terjauh yang pernah dilakukan dalam sejarah," kata peneliti utama Alan Stern dari Southwest Research Institute di Boulder, Colorado, dilansir Science Alert, Selasa (1/1/2019).

"Data yang kami milikii sangat fantastis dan kami dapat mempelajari Ultima lebih dekat. Data yang didapat nantinya tentu akan lebih baik lagi," sambungnya.
Ini adalah gambar pertama yang didapat para ahli. Mereka berkata, kita akan segera mendapat gambar yang lebih tajam dan beresolusi tinggi sesegera mungkin.

Nantinya data yang dikirim akan menjawab banyak pertanyaan tentang planet ini, termasuk apakah bentuknya memang menyerupai pin bowling dan berapa lama waktunya untuk menyelesaikan satu rotasi.


Letusan Yellowstone Bisa Menghancurkan AS? NASA Dapat Cegah Malapetaka Itu?


Seperti yang kita ketahui, Yellowstone National Park atau Taman Nasional Yellowstone yang berada di Wyoming, Montana, dan Idaho Amerika Serikat ini menjadi salah satu dari keajaiban yang ada di Dunia.

Yellowstone ini terkenal dengan geyser dan sumber air panasnya. Geyser ini terkenal sampai penjuru dunia, Old Faithfull Geyser pun ada disini.

Di taman ini pula terdapat banyak satwa liar seperti beruang grizzly, serigala, bison dan rusa.

Pada tahun 1979, Taman Nasional Yellowstone diterima sebagai salah satu Situs Warisan Dunia UNESCO.

Tapi, dibalik keindahan Yellowstone tersebut ternyata menyimpan sesuatu yang bisa membahayakan makhluk di bumi.

Di bawah taman tersebut terdapat gunung berapi aktif dengan kekuatan super yang masih tertidur.

Gunung api ini memiliki kekuatan untuk memuntahkan lebih dari 1.000 kilometer kubik batu dan abu dalam satu waktu atau 2.5000 lebih banyak dari Gunung St. Helens yang meletus pada 1980 dan menewaskan 57 orang.

Ilmuwan mengklaim, material vulkanik 'raksasa api Yellowstone' bisa menyelimuti sebagian besar Amerika Serikat dan bahkan menjerumuskan Bumi ke dalam 'Musim Dingin Vulkanik'.

Menurut New York Times, erupsi dahsyat terakhir Yellowstone terjadi pada 631.000 tahun lalu. Para ilmuwan menduga bahwa letusan super itu telah 'mencakar' planet ini setiap 100.000 tahun dan menjalar ke gunung berapi yang ada di dunia, membuat mereka bergeliat dari tidur panjangnya.

Sementara itu, dikutip dari Busines Insider, Selasa (9/10/2018), Yellowstone meletus kira-kira setiap 600.000 tahun. Letusan luar biasa kala itu, disebut NASA dapat menyebabkan berakhirnya peradaban manusia bila terjadi lagi di abad ini.

Tetapi lembaga antariksa milik pemerintah AS itu punya rencana yang mampu mencegah ledakan tersebut terulang kembali.

Selain itu, mereka pun mengatakan bahwa mereka telah membuat pembangkit geotermal untuk menghasilkan energi listrik dari ledakan gunung berapi yang paling mematikan.

Foto Satelit Yang Dirilis NASA Saat Gempa dan Tsunami Palu Mengejutkan Para Ilmuwan Dunia


Foto yang diabadikan oleh satelit NASA, Landsat 8, terkait gambaran sebelum dan sesudah tsunami Palu. (Source: NASA)

Masih hangat pikiran kita tentang gempa yang terjadi di lombok beberapa waktu lalu, namun gempa terjadi kembali di wilayah Pulau Sulawesi pada 28 September 2018 dengan kekuatan magnitudo 7,7 yang menyebabkan kerusakan parah pada pantai utara pulau Sulawesi. Hampir seluruh rumah yang berada disana rata dengan tanah karena dampak dari serangkaian gelombang tsunami yang menghancurkan garis pantai.

Aliran lumpur dan tanah yang muncul di beberapa titik pinggiran kota yang dihuni oleh (kurang lebih) 300.000 orang pun tidak luput terkena dampak tersebut.

OLI (Operational Land Imager) milik Landsat 8 (satelit observasi Bumi buatan Amerika yang dibangun oleh NASA dan Survei Geologi Amerika Serikat) menangkap gambar warna alam Palu pada 2 Oktober 2018.

Gambar tersebut memperlihatkan perbedaan lanskap Palu sebelum dan sesudah terjadinya gempa dan tsunami. Gambar dengan warna semu membuat Landsat 8 dengan mudah untuk membedakan antara daerah perkotaan (ungu-kelabu), vegetasi (hijau) dan area tanah (cokelat dan sawo matang).

Saat melihat pesisir yang mengalami kerusakan berat karena tsunami, gambar yang diabadikan satelit NASA juga mengungkapkan tiga aliran lumpur besar yang menyebabkan kerusakan parah di daerah padat penduduk.


Foto yang diabadikan oleh satelit NASA, Landsat 8, terkait tsunami Palu pada 23 September 2018. Source: NASA)
Foto yang diabadikan oleh satelit NASA, Landsat 8, terkait tsunami Palu pada 2 Oktober 2018. (Source: NASA)
Getara yang intens dari gempa bumi dengan kekuatan magnitudo 7,7 mungkin telah memicu pencairan dan penyebaran lateral, proses di mana pasir basah dan lumpur mengambil karakteristik cairan. Proses ini yang sangat umum terjadi di dekat sungai dan di tanah reklamasi, dapat menghasilkan lumpur yang sifatnya merusak, bahkan di daerah yang relatif datar.

Beberapa ilmuwan NASA menduga bahwa tanah longsor yang terjadi di bawah laut, terguncang akibat gempa sehingga memberikan energi yang memicu tsunami. Selain itu, bentuk Teluk Palu yang sempit dan menyerupai jari tampaknya memperbesar gelombang air laut yang bergerak cepat dan membuatnya lebih berbahaya.

Kehidupan Alien Bisa Ditemukan di Planet Dengan Jumlah Air Besar?


Kata Alien memang memiliki makna tersendiri bagi pendengarnya. Semua orang pasti ingin tahu apakah alien itu nyata atau tidak atau apakah memang ada kehidupan lain di luar angkasa sana? Sampai sekarang masih belum ada satupun fakta alien itu ada, hanya opini-opini natizen saja.

Sebuah riset terbaru pun mengatakan jika kehidupan alien bisa saja ditemuka pada planet air yang punya karakteristik yang benar-benar berbeda dengan Bumi.

Sekelompok peneliti dari University of Chicago, AS dan Pennsylvania State, mengkalim jika karbon unik yang tercipta di planet air atau planet dengan jumlah air terbesar bisa menopang kehidupan untuk periode yang lebih lama dari dugaan awal. Hal ini mendorong pencarian kehidupan makhluk selain manusia.

Sebuah model komputer yang diciptakan para peneliti menunjukkan planet air memiliki cukup karbon untuk memberikan kehidupan dan tidak terlalu banyak mengandung bahan mineral serta elemen-elemen lain.


Para peneliti yakin planet ini tidak bisa mengulang siklus karbon dan mineral yang membangun kehidupan di planet Bumi dan membuatnya bisa menjadi tempat hidup manusia.

Dalam jurnal yang dipublikasikan oleh Astrophysical Journal, ditemukan planet air yang bisa bertahan di satu zona yang bisa ditinggali lebih lama dari yang diprediksi.

Dikutip dari Mirror, Edwin Kite, Asisten Profesor di University of Chicago mengatakan bahwa hal ini mendorong kembali ide tentang manusia yang membutuhkan kloning Bumi, yakni sebuah planet dengan sedikit daratan dan lautan dangkal.

Menurutnya, kehidupan membutuhkan periode tambahan untuk berevolusi sehingga para peneliti seringkali melihat planet-planet yang memiliki banyak air bisa menjaga kondisi iklimnya stabil dari waktu ke waktu.

Tapi, model ini tidak bekerja di 'dunia air', dengan laut dalam yang menutupi bebatuan serta menyembunyikan gunung berapi.

"Yang mengejutkan adalah banyak planet itu yang tetap stabil selama lebih dari miliaran tahun, hanya karena keberuntungan," papar Kite.

"Berapa lama waktu yang dimiliki sebuah planet pada dasarnya bergantung pada karbon dioksida dan bagaimana itu terbagi antara lautan, atmosfer, dan bebatuan pada tahun-tahun awalnya," lanjutnya.

Hal inilah yang kemudian membuat peneliti beranggapan jika alien bisa saja hidup di planet-planet air tersebut. Namun, belum pernah ada bukti sahih sampai sekarang yang membuktikan jika alien itu benar-benar ada.

Apakah Koloni Akan Terwujud? NASA Sedang Rancang Kota di Luar Angkasa

Apakah Kamu pernah menonton serial kartun jepang Gundam? Kalau pernah, berarti Kamu mengetahui apa itu koloni. Koloni merupakan Kota/Negara buatan manusia yang berada di luar angkasa. Seperti Kota/Negara impian yang mengapung di luar angkasa, ternyata NASA sedang rancang kota tersebut.
Ilustrasi kota masa depan yang dirancang NASA pada era 1970-an. (Foto: NASA)
Seperti yang kita ketahui, hidup di luar angkasa mungkin mustahil, namun asumsi tersebut bisa saja keliru. Pasalnya, NASA sudah meramalkan kalau manusia di masa depan bisa saja akan tinggal di luar angkasa.

Ahli fisikawan dari Princeton University, NASA Ames Research Center, dan Stanford University, merancang ilustrasi soal bagaimana manusia bisa tinggal di ruang hampa udara.

Seperti dikutip dari Business Insider, Rabu (1/8/2018), NASA sudah membuat ilustrasi bahwa manusia kelak akan hidup di sebuah pesawat luar angkasa raksasa, yang berisikan sebuah hunian berbentuk kota dengan konsep futuristik.
Ilustrasi kota masa depan yang dirancang NASA pada era 1970-an. (Foto: NASA)
Pesawat ini rencananya akan diterbangkan ke luar angkasa bilamana Bumi akan mengalami kiamat. Berikut adalah rangkaian ilustrasi kota masa depan besutan NASA.

Pada era tersebut, ilmuwan berencana untuk bisa membawa umat manusia dalam koloni ke pesawat raksasa ini pada 2060. Mereka merancang tiga jenis pesawat raksasa yang akan mengorbit Matahari.

Pesawat berbentuk donat ini diperkirakan bisa menampung 10.000 orang.
Ilustrasi kota masa depan yang dirancang NASA pada era 1970-an. (Foto: NASA)
Di dalam pesawat nantinya akan ada hunian seperti kota, yang diisi oleh taman, jalan besar, kota, hingga sungai.
Ilustrasi kota masa depan yang dirancang NASA pada era 1970-an. (Foto: NASA)
Ilustrasi kota masa depan yang dirancang NASA pada era 1970-an. (Foto: NASA)

Tidak cuma itu, akan ada juga sekto pertanian dan peternakan khusus di dalam pesawat tersebut.
Ilustrasi kota masa depan yang dirancang NASA pada era 1970-an. (Foto: NASA)
Ilustrasi kota masa depan yang dirancang NASA pada era 1970-an. (Foto: NASA)
Pesawat ini diklaim akan memiliki tenaga surya yang mampu menciptakan energi bersih untuk produksi oksigen, air, serta pepohonan.

Para Ilmuwan Menemukan Bintang Neutron Dengan Medan Magnet Yang Rendah


Para astronom telah menemukan jenis bintang neutron untuk pertama kalinya di luar galaksi Bima Sakti, menggunakan data dari NASA's Chandra X-ray Observatory dan European Southern Observatory's Very Large Telescope (VLT) di Chili.

Bintang neutron adalah bintang ultra padat-bintang masif yang runtuh dan mengalami ledakan supernova. Bintang neutron yang baru diidentifikasi ini adalah jenis langka yang memiliki medan magnet rendah dan tidak ada bintang pendamping.

Bintang neutron terletak di dalam sisa-sisa supernova yang dikenal sebagai 1E 0102.2-7219 (Singkatnya E0102) di Small Megalanic Cloud, yang terletak 200.000 tahun cahaya dari Bumi.

Citra baru dari E0102 memungkinkan para astronom untuk mempelajari detail baru tentang objek ini yang ditemukan lebih dari tiga dekade yang lalu. Dalam gambar ini, sinar-X dari Chandra berwarna biru dan ungu, dan data cahaya yang tampak dari instrumen Multi Unit Spectroscopic Explorer (MUSE) berwarna merah cerah. Data tambahan dari Hubble Space Telescope berwarna merah gelap dan hijau.

Sisa-sisa dari supernova kaya oksigen, seperti E0102. Pentin untuk memahami bagaimana bintang-bintang masif menyatukan unsur-unsur yang lebih ringan menjadi berat sebelum meledak. Terlihat hingga beberapa ribu tahun setelah ledakan awal, sisa-sisa yang kaya oksigen mengandung puing-puing yang dikeluarkan dari interior bintang mati.

Pengamatan Chandra dari E0102 menunjukkan bahwa sisa supernova didominasi oleh struktur berbentuk cincin besar di Sinar-X, terkait dengan gelombang ledakan supernova. Data MUSE baru mengungkapkan cincin gas yang lebih kecil (berwarna merah terang) yang meluas lebih lambat daripada gelombang ledakan. Di pusan cincin ini adalah titik biru seperti sinar-X.

Gabungan data Chandra dan MUSE menunjukkan bahwa Sumber ini adalah bintang neutron yang terisolasi yang dibuat dalam ledakan supernova sekitar dua ribu tahun yang lalu. Tanda energi sinar-X atau "Spektrum," dari sumber ini sangat mirip dengan bintang neutron yang terletak di pusat dua sisa supernova kaya akan oksigen yang terkenal: Cassiopeia A (Cas A) dan Puppis A. Kedua bintang neutron juga tidak memiliki bintang pendamping.

Tetapi bagaimana bintang neutron ini berakhir pada posisinya saat ini? Salah satu kemungkinan adalah ledakan supernova yang terjadi pada bagian tengah, tetapi bintang neutron itu menjauh dari lokasi tersebut, sulit untuk menjelaskan mengapa bintang neutron ini begitu rapi dikelilingi oleh cincin gas yang baru ditemukan yang terlihat pada panjang gelombang optik.

Penjelasan lain yang mungkin adalah bahwa bintang neutron bergerak perlahan dan posisi saat ini kira-kira dimana ledakan supernova terjadi. Dalam hal ini, bahkan dalam cincin optik mungkin telah dikeluarkan baik selama ledakan supernova, atau oleh bintang progenitor yang mati hingga beberapa ribu tahun sebelumnya.

Makalah online ini diterbitkan oleh Nature Astronomy, pada bulan April.

Bagaimana Cara Para Astronot Muslim Sholat dan Puasa di Luar Angkasa?

Pernahkan kita membayangkan bagaimana para astronot sholat atau berpuasa di luar angkasa? Rasanya memang sulit untuk sholat atau berpuasa di ruang hampa udara.

Selain perbedaan waktu yang sangat jauh, berpuasa di luar angkasa sepertinya juga memang tidak mudah.

Tapi, kenyataannya para astronom muslim masih bisa berpuasa dan menjalankan ibadah layaknya orang-orang yang ada di Bumi. Kalau mereka ingin berpuasa, mereka bisa merujuk pada sistem waktu Imsak-Magrib yang ada di Bumi.

Meski begitu, para astronot tersebut bisa dikatakan dengan musafir. Jadi, bisa saja mereka tidak berpuasa di luar angkasa, tetapi harus menggantinya saat mendarat di Bumi.

Apalagi waktu siang dan malam di luar angkasa sangat berbeda dengan di Bumi. Perubahan waktu juga diatur beberapa kali di Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS, International Space Station).

ISS sendiri mengorbit  bumi 14 kali satu hari, siang dan malam, itu setiap 90 menit.

Siapa saja astronot muslim yang pernah menjalankan ibadah shalat dan puasa di statsiun luar angkasa?

Yang pertama ada Sultan bin Salman bin Abdulaziz Al Saud. Beliau adalah pangeran Arab Saudi yang menjadi astronot muslim pertama di luar angkasa.

Pada 17 Juni 1985, pesawat Discovery yang mengankasa dari Kennedy Space Center, Amerika Serikat membawa Sultan ke luar angkasa.

Misi tersebut berlangsung selama 7 hari, 1 jam, 38 menit, dan 52 detik. Sang pangeran menuju ke titik 4,67 juta kilometer dari Bumi ke tempat yang tak pernah diinjak.

Saat melihat Bumi hanya setitik kecil, ia mengalami pengalaman spiritual. "Di sana kita akan menyadari betapa kecilnya manusia. Kita hanyalah setitik debu di alam semesta," kata dia seperti di kutip dari The National.

Sang pangeran mengakui, detik-detik ketika ia mengangkasa buat dirinya berdebar. "Jika seseorang berkata momentum itu tak menakutkan, sudah pasti ia bohong. Aku berdoa setiap saat. Peluncuran dan pendaratan adalah saat-saat mendebarkan."

Sebagai muslim, Sultan adalah manusia pertama yang salat dan melantunkan ayat-ayat suci Alquran dalam kondisi nol gravitasi.

Bagaimana cara ia salat di angkasa luar?

Sultan mengatakan, seorang muslim bisa berdoa kapan saja. "Menghadap ke segala arah. Seperti di pesawat luar angkasa, Anda tahu, kita tidak bisa benar-benar menghadap ke Mekah. Ke kiblat," kata dia seperti dikutip dari situs WBUR.

Namun, tak mudah untuk melakukan gerakan salat. "Saya harus mengikat kaki saya agar bisa sujud. Tapi, itu tak bisa dilakukan dengan sempurna karena kurangnya gravitasi."

Dalam kondisi musafir atau bepergian jauh, seorang muslim mendapat keringanan dalam beribadah.
Lain lagi dengan astronot pertama asal Malaysia, Sheikh Muszaphar Shukor pergi ke luar angkasa 10 Oktober 2007 lalu, menumpang pesawat luar angkasa Rusia, Soyuz.

Perjalanan Shukor ke luar angkasa selama enam hari di Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) bertepatan dengan Bulan Ramadan. Ia seorang muslim taat yang ingin menunaikan kewajiban salatnya tetap menghadap ke kiblat: Kabah di Mekah.

Itu yang menjadi masalah, ISS yang mengorbit 220 mil atau sekitar 354 kilometer di atas permukaan Bumi, di mana kiblat berubah dalah hitungan detik. Arah Kabah bahkan bisa berubah 180 derajat hanya dalam sekali salat.

Lembaga Antariksa Malaysia, Angkasa langsung menggelar sebuah konferensi yang diikuti 150 ilmuwan Islam untuk memecahkan masalah ini.

Hasilnya, panduan beribadah di ISS yang disetujui komisi fatwa Negeri Jiran, kiblat bisa ditentukan berdasarkan "peluang" para astronot. Prioritasnya, dari yang utama adalah: Kabah, proyeksi Kabah, Bumi, menghadap ke manapun.

Jangankan tepat menghadap Kabah, menentukan proyeksinya pun tak semudah yang dibayangkan.

Meski demikian, ibadah Shukor berjalan lancar. Ia bahkan menjadi muslim kesembilan yang membuktikan bahwa berada di angkasa bukan alasan untuk tak melaksanakan ibadah salat, juga puasa Ramadan.

Ia bahkan mengaku mendapatkan pengalaman spiritual. "Setiap orang yang berkesempatan ke luar angkasa akan merasakan sebuah keajaiban. Selama perjalananku yang bertepatan dengan Ramadan, aku seperti mendengar suara azan di Stasiun Luar Angkasa Internasional," kata dia dalam wawancara eksklusif dengan Anadolu Agency (AA).

Dia menjelaskan, astronot lainnya tidak tahu tentang azan. "Tapi aku mendengar panggilan itu secara fisik, nyata. Anda mungkin tak akan terkekut jika mendapat pengalaman seperti saya ketika berada di luar angkasa, saat Anda merasa begitu dekat dengan Allah di setiap detiknya."

Sementara Anousheh Ansari asal Iran menjadi wanita muslim pertama yang terbang ke luar angkasa.

Pada 18 September 2006, beberapa hari setelah ulang tahunnya ke 40, dia terbang ke angkasa. Hebatnya, dia membiayai sendiri perjalanannya itu.

NASA Siap Luncurkan Teleskop Canggih Terbaru

(Source: Space.com)
TESS atau Transiting Exoplanet Survey Satellite yang merupakan teleskop canggih terbaru yang dibuat nasa siap diluncurkan ke ruang angkasa pada tanggal 16 April 2018.

Teleskop baru tersebut memiliki misi untuk memantau ratusan ribu bintang dan mencari tanda-tanda eksoplanet, mulai dari planet dengan ukuran mirip seperti bumi atau lebih besar, sampai mencari planet yang mengorbit bintang paling terang di angkasa.

Metode yang digunakan TESS adalah metode transit dan mencatat penurunan cahaya yang dihasilkan sebuah planet ketika melintasi bintang induknya dari perspektif pesawat ruang angkasa.

Sebenarnya strategi ini sudah dipakai pada teleskop Kepler milik NASA, namun yang menjadi perbedaannya adalah jarak.

Jika Kepler bertugas menemukan eksoplanet dengan jarak ratusan tahun cahaya dari Bumi, kalau TESS hanya bisa menemukan eksoplanet yang cukup dekat dengan Bumi.

Dengan jarak yang lebih dekat, maka akan memudahkan instrumen lain untuk melakukan penyelidikan mendalam. Tugas ini nantinya akan dikerjakan oleh teleskop raksasa James webb milik NASA yang peluncurannya dijadwalkan 2020.

TESS akan mengorbit Bumi setiap 13,7 hari dengan titik terdekat sekitar tiga kali jarak orbit geosynchronous, tempat sebagian besar satelit komunikasi beroperasi.

TESS akan menghabiskan dua tahun berada di orbit ini. Titik terjauh atau apogee dari bumi sekitar 232.000 mil atau sekitar 373.000 kilometer dari bumi, yang memungkinkan pesawat ruang angkasa untuk mengamati bagian langit tanpa gangguan dari bulan atau bumi. Titik terdekat di orbit atau perigee adalah 67.000 mil atau sekitar 108.000 kilometer.

Selama fase perigee, TESS akan memancarkan kembali informasi yang dikumpulkan dari pengamatan astronomi putaran sebelumnya.

Misi TESS dipimpin oleh George Ricker, astrofisikawan di Massachusetts Institute of Technology. Misi ini dikelola oleh Pusat Penerbangan Luar Angkasa Gooddarn NASA di Greenbelt, Maryland.

Sekitar 100 Ton Sampah Antariksa Jatuh Ke Bumi Setiap Tahunnya


Sudah beberapa minggu ini, masyarakat selalu dikejutkan dengan berita jatuhnya benda buatan manusia yang dikirim ke orbit bumi.

Kemarin Tiangong-1 yang jatuh di Samudra Pasifik Selatan pada hari Senin (2/4/2018), sekarang giliran roket India yang masuk dan terbakar di atmosfer Samudra Atlantik pada Selasa (3/4/2018).

Menurut data dari Solar Dynamic Observatory milik Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) menunjukan bahwa sekitar 100 ton sampah antariksa terbakar di atmosfer setiap tahun.

Sampah tersebut merupakan satelit yang sudah tidak digunakan, wahana antariksa yang tidak terkontrol seperti Tiangong-1, atau bagian dari atas roket.

Kebanyakan yang jatuh ke bumi merupakan potongan kecil dan langsung terbakar ketika melewati atmosfer bumi, sedangkan yang lebih besar bisa mencapai bumi.

Indonesia juga sudah cukup sering kejatuhan sampah antariksa tersebut. Perhitungan Lembaga Penerbangan dan Antariska Nasionan (LAPAN) hingga 27 Januari 2009 menunjukkan bahwa Indonesia sudah 7.780 kali kejatuhan serpihan sampah antariksa yang berukuran di atas 10 sentimeter, 3.388 kali untuk satelit, dan 1.820 kali untuk badan roket.

Untungnya, tanah air kita mayoritas permukannya berupa air, sehingga sampah-sampah ini kebanyakan jatuh di lautan atau tempat terpencil.

Walaupun begitu, kita tidak boleh lengah. Jaringan radar militer negara-negara di dunia, NASA, Badan Antariksa Eropa (ESA), LAPAN, dan agensi pelacak satelit, baik independen maupun tidak, terus mengamati obyek-obyek di orbit bumi. Informasi yang mereka dapatkan kemudian dibagikan untuk memprediksi jadwal kembalinya sampah antariksa ke bumi.

Untuk itu, ESA, NASA, Roscosmos, Cahadian Space Agency, Badan Antariksa Jepang ( JAXA), Organisasi Riset Antariksa India, Agensi Antariksa Nasional China, dan tujuh agensi luar angkasa lainnya bergabung dalam kampanye pelacakan bersama yang diadakan oleh Komite Koordinasi Sampah Antariksa Interagensi.

Tujuan dari kampanye ini adalah untuk menggabungkan informasi pelacakan dari radar masing-masing sehingga dapat dianalisis dan diverifikasi bersama. Harapannya, langkah ini akan meningkatkan akurasi prediksi untuk ke-14 anggota kampanye.

SpaceX Sukses Menerbangkan 10 Satelit Ke Orbit Terendah Bumi


Perusahaan SpaceX telah melakukan peluncuran sekelompok satelit ke orbit bumi. Ada 10 satelit yang dikirimkan ke orbit rendah bumi untuk perusahaan Iridium Communications.

SpaceX juga berharap berada di garis depan dalam industri ruang angkasa pribadi yang sedang berkembang setelah kesuksesan atas pencapaian menerbangkan 10 satelit tersebut.

Meskipun semuanya tidak berjalan mulus, karena terkait dengan bagaimana mendaratkan kerucut hidung yang melindungi muatan roket dalam beaborne yang oleh CEO SpaceX, Elon Musk, disamakan dengan raksasa baja dan penangkap lompatan mitt suprastruktur pada kapal laut berkecepatan tinggi.

Sehari sebelum peluncuran terbaru, Komisi Komunikasi Federal menyetujui usulan Musan untuk membangun jaringan broadband berbasis satelit di mana regulator menyebut lisensi pertama untuk layanan dari generasi baru teknologi satelit orbit rendah Bumi rendah.

Seperti yang sedang menjadi perbincangan publik di Florida, SpaceX meluncurkan roket paling kuat di dunia di depat publik. Peluncuran Falcon Heavy yang sukses menandai tonggak utama lain untuk SpaceX. Roket tersebut mengirimkan boneka Tesla yang menggunakan pakaian luar angkasa putih yan gmelesat di luar atmosfer Bumi.

Sementara itu, Musk sedang mencoba untuk mengukir ruang dominan dalam industri penerbangan ruang angkasa swasta yang sedang muncul, Presiden Amerikat Serikat (AS) Donald Trump telah bersumpah untuk menghidupkan kembali program luar angkasa negeri Paman Sam yang hampir mati.

NASA Membuat Teleskop Untuk Mendeteksi Alien?

Wujud dari Teleskop James Webb Milik NASA (Source: nasa.gov)

Alien merupakan makhluk yang mungkin tidak pernah kita temukan di bumi ini, namun apakah kalian percaya tentang kehidupan selain di bumi ini? Tergantung dari kepercayaan kalian kalau soal percaya atau tidaknya tentang alien.

Tapi baru-baru ini NASA membuat Teleskop untuk mendeteksi keberadaan alien loh. Teleskop tersebut bernama James Webb dan dijadwalkan akan meluncur ke luar angkasa pada 2019 nanti. Teleskop ini mempunyai misi untuk menyelediki berbagai sudut alam semesta, termasuk exoplanet dan mendeteksi keberadaan alien.

Menurut studi yang telah dilakukan para ilmuwan di University of Washington, teleskop ini mampu mendeteksi kehidupan serta mengenali jenis gas seperti metana atau karbon dioksida yang bisa memberikan petunjung tentang organisme atau alien yang hidup di planet lain.

Berdasarkan studi yang dipublikasikan dalam jurnal Science Advances, teleskop James Webb mampu melacak adanya disekuilibrium kimia atmosfer, yakni untur kimia yang tidak kompatibel satu sama lain, tetapi mungkin bisa hidup berdampingan atau mungkin hidup di dunia lainnya.

Beberapa teleskop milik NASA dan termasuk James Webb ini memiliki kemampuan "Spectroscopy" yang artinya dapat mengukur gelombang radio dan cahaya.

Dengan kemampuan tersebut, para ilmuwan bisa menunjukkan zat kimia berbeda yang ada di ruang angkasa. Mereka pun bisa mengetahui unsur-unsur yang ada di dunia lain.

Tapi, ada beberapa ilmuwan yang mengatakan, bahwa untuk menemukan makhluk lain saja tidak cukup hanya dengan mendeteksi adanya oksigen. Hal ini karena kemungkinan makhluk lain tidak membutuhkan oksigen untuk hidup karena beberapa perbedaan.

Metana, Karbon Dioksida, dan Planet dengan Permukaan Air

Teleskop James Webb yang dikatakan mampu mendeteksi alien di luar angkasa (Source: nasa.gov)

Paduan antara metana, karbon dioksida, serta air di sebuah planet luar angkasa bisa menjadi sinyal yang meyakinkan terkait adanya kehidupan di planet tersebut, menurut David Catling yang meropakan ahli astrofologi.

Para ilmuwan NASA memperhatikan strategi baru untuk peluncuran teleskop James Webb tahun depan. Teleskop tersebut akan memeriksa exoplanet seperti TRAPPIST-1 system serta lingkungan sekitar planet berbatu yang ada di luar sistem tata surya dan dianggap memungkinkan jadi tempat tinggal organisme atau bahkan alien.

Jika teleskop James Webb mampu melacak adanya planet baru, kemungkinan para ilmuwan NASA semakin dekat dengan jawaban akan adanya kehidupan alien di alam semesta sana.

Butuh Waktu Lebih Lama Untuk Menemukan Alien

Ilustrasi sinyal radio yang menguat di ruang angkasa, mungkinkah bukti kehadiran alien? 

Meski demikian, ahli astronomi sekaligus profesor dari MIT Sara Seager mengatakan, penggunaan "Spectroscopy" untuk memeriksa planet berbatu kemungkinan tidak akan mendapatkan hasil yang positif terkait keberadaan bahan kimia maupun gas tertentu.

Ia percaya, pelacakan tentang kehidupan alien adalah sesuatu yang bisa dilakukan dengan teknologi teleskop generasi berikutnya, bukan generasi sekarang.

Seager juga menyebutkan dengan banyaknya planet berbatu yang memiliki gas biosignature akan mengilhami keyakinan bahwa kehidupan tidak hanya di tata surya kita, tetapi di seluruh galaksi.

NASA Merilis Gambar Akumulasi Curah Hujan Sepanjang Badai Harvey

Seiring Harvey terus mengeluarkan hujan di Texas dan Louisiana, NASA sudah mengakumulasi curah hujan dari badai Harvey.

Data IMERG untuk Harvey disusun untuk periode 23 - 29 Agustus 2017 saat kendaraan tersebut bergerak melalui Teluk Meksiko dan terhenti di atas Texas. Total IMERG menunjukkan curah hujan lebih dari 30 inci terjadi di wilayah metro Houston dan merupakan bagian dari Teluk Meksiko barat.(Sumber: Nasa.gov/ NASA JAXA, Hal Pierce)

Total perkiraan curah hujan dari data Integrated Multi-satellitE Retrievals for GPM (IMERG) NASA yang dikumpulkan untuk periode 23 - 29 Agustus 2017. Selama periode ini, Harvey menurunkan hujan deras saat satelit tersebut melintasi Teluk Meksiko dan terhenti di atas Texas. Total IMERG menunjukkan curah hujan lebih dari 30 inci terjadi di wilayah metro Houston dan merupakan bagian dari Teluk Meksiko barat.

Telah dilaporkan bahwa Harvey turun lebih dari 40 inci (1016 mm) hujan di Texas tenggara selama periode ini. Data IMERG diproduksi di Pusat Penerbangan Luar Angkasa Goddard milik NASA di Greenbelt, Maryland, dengan menggunakan data dari satelit dalam misi Pengukuran Presipitasi Global atau GPM Constellation, dan dikalibrasi dengan pengukuran dari Observatorium Inti GPM serta jaringan pengukur hujan di seluruh dunia.

National Weather Service melaporkan pada pukul 1 siang CDT pada 29 Agustus. "Sebuah laporan awal dari satu alat pengukur hujan Texas telah memecahkan rekor curah hujan siklon Texas utara. Tenggara Houston, Mary's Creek di Winding Road melaporkan 49,32 inci pada pukul 9 pagi CDT. total lebih tinggi dari rekor sebelumnya set 48 inci saat siklon tropis Amelia 1978 di Medina, Texas. "

National Hurricane Center (NHC) menunjukkan bahwa Harvey terus menurunkan hujan deras di Texas tenggara dan Louisiana selatan saat ia bergerak menuju utara-timur laut.

Peringatan dan Jam di Efek per 1 pm CDT, 29 Agustus

NHC mengatakan bahwa Peringatan Badai Tropis berlaku mulai dari nnorth of Port O'Connor, Texas sampai Morgan City, Louisiana. A Tropical Storm Watch berlaku dari timur Morgan City sampai Grand Isle, Louisiana. Storm Surge Watch berlaku dari Port Bolivar, Texas sampai Morgan City.


Diperkirakan Curah Hujan yang Lebih Tinggi

Peramal NHC mencatat bahwa bencana dan banjir yang mengancam jiwa terus berlanjut di Texas tenggara dan sebagian wilayah barat daya Louisiana. Harvey diperkirakan akan menghasilkan akumulasi curah hujan tambahan 6 sampai 12 inci sampai Jumat di atas bagian pantai Texas bagian atas ke Louisiana barat daya.

Total badai terisolasi bisa mencapai 50 inci di atas pantai Texas bagian atas, termasuk area metropolitan Houston / Galveston. Hujan ini saat ini menghasilkan bencana dan banjir yang mengancam jiwa di sebagian besar wilayah tenggara Texas dan Louisiana barat daya.

Di tempat lain, Harvey diperkirakan akan menghasilkan jumlah curah hujan tambahan 5 sampai 10 inci di bagian selatan Louisiana ke pesisir Mississippi dan Alabama. Curah hujan yang terkait dengan Harvey akan menyebar ke utara pada pertengahan hingga akhir minggu, dengan jumlah curah hujan 4 sampai 8 inci menyebar ke beberapa wilayah Arkansas dan Lembah Tennessee.

Daftar pengamatan curah hujan yang dikumpulkan oleh Pusat Prediksi Cuaca NOAA dapat ditemukan di: www.wpc.ncep.noaa.gov/discussions/nfdscc1.html

Sumber asli dari : https://www.nasa.gov/feature/goddard/2017/harvey-atlantic-ocean

NASA Membagikan Gambar Bintik Merah Besar Yang Berhasil Diambil Juno


Gambar Bintik Merah Besar Jupiter (Great Red Spot Jupiter) yang mengungkapkan jalinan antara awan gelap dan berair yang tertanam di jupiter dengan bentuk oval merah besar. Citra JunoCam yang berada di atas kapal Juno dari NASA mematahkan gambar dari fitur paling ikon dari penghuni planet terbesar di tata surya kita pada flyby Senin (10/10). Gambar-gambar dari Bintik Merah Besar (Great Red Spot) diturunkan dari memori wahana antariksa pada hari Selasa dan ditempatkan di situs JunoCam Rabu pagi.

"Selama ratusan tahun para ilmuwan telah mengamati, bertanya-tanya dan berteori tentang Bintik Merah Besar Jupiter," kata Scott Bolton, penyidik ​​utama Juno dari Southwest Research Institute di San Antonio. "Sekarang kita memiliki gambar terbaik dari badai ikonik ini. Ini akan membawa kita beberapa waktu untuk menganalisis semua data bukan hanya dari JunoCam, tapi delapan instrumen sains Juno, untuk menjelaskan beberapa hal baru di masa lalu, sekarang dan masa depan dari Great Red Spot. "

Seperti yang direncanakan oleh tim Juno, para warga bisa mengambil mentahan gambar flyby dari situs JunoCam dan memprosesnya, dengan memberikan tingkat detail yang lebih tinggi daripada sebelumnya. Gambar tersebut bisa di ambil di link berikut:

https://www.missionjuno.swri.edu/junocam/processing

Citra berwarna-warni Jupiter's Great Red Spot ini diciptakan oleh ilmuwan warga Kevin Gill dengan menggunakan data dari gambar JunoCam. (Sumber: nasa.gov)
"Saya telah mengikuti misi Juno sejak diluncurkan," kata Jason Major, seorang ilmuwan warga JunoCam dan perancang grafis dari Warwick, Rhode Island. "Selalu mengasyikkan melihat gambar mentah baru Jupiter saat mereka tiba. Tapi bahkan lebih mendebarkan untuk mengambil gambar mentah dan mengubahnya menjadi sesuatu yang orang bisa hargai. Itulah yang saya jalani. "

Berukuran lebar 10.156 mil (16.350 kilometer) (pada tanggal 3 April 2017) Titik Merah Great Jupiter 1,3 kali selebar Bumi. Badai telah dipantau sejak 1830 dan telah ada selama lebih dari 350 tahun. Di zaman modern, Great Red Spot tampak menyusut.

Semua instrumen sains Juno dan JunoCam pesawat ruang angkasa beroperasi selama flyby, mengumpulkan data yang sekarang dikembalikan ke Bumi. Penelusuran Jupiter Juno selanjutnya akan terjadi pada 1 September.
Gambar warna Great Red Spot yang disempurnakan ini diciptakan oleh ilmuwan warga Gerald Eichstädt yang menggunakan data dari pencitra JunoCam. (sumber: nasa.gov)
Juno mencapai perijove (titik di mana orbit berada paling dekat dengan pusat Jupiter) pada tanggal 10 Juli pukul 06:55. PDT (9:55 WIB EDT). Pada saat perijove, Juno sekitar 2.200 mil (3.500 kilometer) di atas puncak awan planet ini. Sebelas menit 33 detik kemudian, Juno telah menempuh jarak 24.713 mil (39.771 kilometer) lainnya, dan langsung melewati puncak melingkar awan merah Great Red Spot. Pesawat ruang angkasa tersebut menempuh jarak sekitar 5.600 mil (9.000 kilometer) di atas awan ini.

Juno diluncurkan pada 5 Agustus 2011, dari Cape Canaveral, Florida. Selama misi eksplorasi, Juno terbang rendah di atas puncak awan planet ini - sedekat sekitar 2.100 mil (3.400 kilometer). Selama flybys ini, Juno sedang menyelidiki di bawah awan yang menutupi Jupiter dan mempelajari aurora untuk belajar lebih banyak tentang asal-usul planet, struktur, atmosfer dan magnetosfer.

Hasil sains awal dari misi Juno NASA menggambarkan planet terbesar di tata surya kita sebagai dunia yang penuh gejolak, dengan struktur interior yang sangat rumit, aurora kutub yang energik, dan cyclones polar yang besar.

Para Hacker Klaim NASA Akan Mengumumkan Penemuan Alien

Apakah Benar Alien Itu Ada? (Sumber: dreamicus.com)
Para hacker Anonymous menjadi sorotan dunia lagi. Kali ini mereka menyebutkan bahwa NASA sedang mempersiapkan untuk mengumumkan bukti adanya kehidupan alien.

Pernyataan hacker Anonymous itu cukup berani. Ketika dibandingkan dengan ilmu pengetahuan yang ada, maka Anonymous diduga belum memiliki bukti apapun tentang spekulasi terkait alien itu.

Video teranyar dari kelompok Anonymous itu berkutat pada temuan terkini pada 219 calon planet baru oleh Kepler Space Telescope dan sejumlah komentar oleh Thomas Zurbuchen, yang menjabat sebagai Associate Administrator untuk Science Mission Directorate di NASA pada April lalu.

Pada 26 April 2017, dalam aksi dengar pendapat di hadapan komite Kongres untuk 'Advances in the Search for Life', Zurbuchen mengatakan, "Mempertimbangkan semua kegiatan dan misi berbeda yang secara khusus mencari bukti kehidupan alien, kami sedang akan membuat salah satu temuan yang paling penting, belum ada sebelumnya dalam sejarah."

Seminggu lalu, Zurbuchen juga senang dengan pengumuman temuan oleh Kepler tersebut.

Para Anonymous menganggap pengakuan antusias dari Zurbuchen itu dan ditambang dengan temuan terkini oleh Kepler dan beberapa pernyataan lain dari para mantan astronot dan pegiat alien, sebagai bukti adanya "sesuatu yang sedang berlangsung di angkasa di atas sana."

Yang menjadi ketertarikannya adalah kemajuan dalam mencari kehidupan di luar bumi. Jadi bukan bukti tertentu tentang kehidupan di luar bumi sana.

Seperti yang kita ketahui, Kepler Space Telecsopeitu sendiri diluncurkan pada tahun 2009 lalu dan telah memindai langit untuk mencari cahaya redup bintang-bintang di kejauhan sebagai bukti adanya sejumlah eksoplanet yang mengorbit mengelilingi bintang-bintang tersebut.

Sampai saat ini, Kepler sudah menemukan lebih dari 4000 kandidat planet di luar sistem tata surya kita, termasuk 30 planet yang ukurannya setara dengan Bumi dan terletak di zona layak huni di sekeliling bintang-bintang mereka masing-masing.

Yang berarti planet tersebut tidak terlalu jauh yang membuat air membeku. Namun juga tidak terlalu dekat sehingga semuanya terbakar hingga kering.

Apakah benar jika alien itu ada? Mungkin saja, tapi kita tunggu pengungkapan dari pihak NASA nanti.