Showing posts with label NASA. Show all posts
Showing posts with label NASA. Show all posts

Ilmuwan NASA Temukan Planet Misterius Yang Bersembunyi Di Luar Tata Surya


Seperti yang di informasikan oleh NASA bahwa para ilmuwan mereka telah menemukan sebuah planet misterius yang ada di luar tata surya kita. Bentar tersebut memiliki permukaan yang sejuk dan bentuknya kecil. Dua karakteristik ini membuat planet tersebut terlihat aneh bagi para ilmuwan.

Planet tersebut dikenal sebagai HD 21749b yang merupakan planet asing ketiga yang ditemukan oleh TESS, teleskop pemburu planet baru milik NASA. Wahana tersebut mengitari bintangnya dalam orbit yang panjang.

Meskipun jarak HD 21749b dan matahari cukup dekat, namun suhu di dalam planet mungil ini disebut lumayan dingin, yaitu sekitar 300 derajat Fahrenheit.

"Ini adalah planet kecil paling dingin yang mengitari sekitar bintangnya dengan cahaya seterang ini," kata Diana Dragomir, seorang postdoc di MIT's Kavli Institute for Astrophysics and Space Research, seperti dikutip dari The Independent, Kamis (10/1/2019).

"Kami tahu banyak tentang atmosfer di planet-palnet panas, tetapi karena sangat sulit untuk menemukan planet kecil yang mengorbit lebih jauh dari bintang-bintang mereka, dan karena suhunya lebih dingin, kami belum dapat mempelajari lebih jauh tentang HD 21749b," imbuhnya.

Meskipun disebut kecil oleh para ilmuwan NASA yang menemukannya, planet itu masih sangat besar bila dibandingkan dengan Bumi. Ukurannya diameternya tiga kali Bumi dan luasnya 23 kali Bumi. Oleh karenanya, peneliti menempatkannya dalam kategori "sub-Neptunus", dan berarti bahwa planet tersebut akan menjadi planet seukuran Bumi pertama yang ditemukan oleh TESS.

"Kami pikir planet ini tidak ada gas seperti di Neptunus atau Uranus," ucap Dragomir. "Planet ini kemungkinan memiliki air atau atmosfer yang tebal."


Sementara itu, menurut temuan baru yang ditemukan oleh tim peneliti internasional, sistem bintang kedua yang paling dekat dengan matahari, Bintang Barnard, menjadi rumah bagi sebuah planet berukuran super besar dan bersuhu beku. Jaraknya hanya 6 tahun cahaya dari Bumi.

Bintang Barnard adalah jenis matahari kuno kecil yang disebut katai merah. Meski tidak mudah dilihat tanpa teleskop, Bintang Barnard telah lama menarik perhatian para astronom karena menjadi bintang yang bergerak paling cepat di langit malam.

Ahli astronomi juga mengatakan, Bintang Barnard menjadi rumah bagi sebuah eksoplanet (planet di luar tata surya) beku dan ukurannya tiga kali lebih besar dari Bumi, sehingga menjadikannya tampak seperti Bumi super.

Sebuah tim peneliti kolaboratif dari Red Dots dan proyek CARMENES sedang berupaya menemukan planet yang lokasinya berada di dekat katai merah.

Mereka menggunakan berbagai teleskop untuk menemukan eksoplanet tersebut --yang dikenal sebagai Bintang B milik Barnard-- dan mengeksplorasi keistimewaannya.

Tim dari Red Dots juga pernah terlibat dalam penemuan planet baru-baru ini di sekitar sistem tata surya terdekat Bumi, Proxima Centauri. Temuan terbaru tersebut diterbitkan pada Rabu, 14 November, di jurnal Nature.

Planet Super Beku

Bintang Barnard mempunyai beberapa perbedaan besar dari Bumi. Eksoplanet itu mengorbit bintangnya dalam waktu sekitar 233 hari --jauh lebih sedikit dari orbit Bumi, yakni 365 hari-- tetapi lebih lama dari eksoplanet lain yang pernah ditemukan.

Bintang Barnard B pun jauh lebih dekat dengan bintangnya (Bintang Barnard), hanya 0,4 kali jarak antara Bumi dan Matahari.

Namun, meskipun sangat dekat dengan bintangnya, cahaya dari Bintang Barnard hanya mampu menyinari eksoplanet sebesar 2% energi yang disediakan Matahari untuk Bumi.

Itu artinya, meskipun eksoplanet dekat dengan bintangnya, namun keadaan di planet tersebut sangat dingin. Para peneliti menemukan bahwa eksoplanet kemungkinan memiliki suhu sekitar -274 derajat Fahrenheit (-170 derajat Celcius).

"Saya pikir, misteri yang belum terpecahkan adalah apakah eksoplanet itu punya atmosfer atau tidak," kata Johanna Teske, peneliti dan penulis studi Carnegie Science.

"Jika planet ini memiliki atmosfer, mungkin itu bisa menjaga suhu permukaan lebih hangat," tambahnya, sebagaimana dikutip dari laman Astronomy.com, Kamis 14 September 2018.

OSIRIS-REx Robot Milik NASA Berhasil Mendarat Di Asteroid Kuno

 


Bukan cuma New Horizon saja yang mendapatkan rekor baik yang mencapai objek Ultima Thule, ada juga robot yang diterbangkan NASA yang sukses mendekati asteroid kuno bernama Bennu.

Dikutip dari Geek, Jumat (4/1/2019), robot bernama OSIRIS-REx tersebut sudah memasuki orbit pada 31 Desember 2018.

Rekor ini tak pelak menjadikan asteroid Bennu sebagai objek terkecil yang mampu dikelilingi sebuah robot pesawat luar angkasa.

“Tim kami terus mencoba untuk melakukan proses penerbangan ke orbit dengan manuver sempurna,” ujar investigator proyek OSIRIS-REx Dante Lauretta.

Setelah memasuki orbit, OSIRIS-REx akan terbang ke bagian kutub utara, kutub selatan, dan garis ekuator asteroid Bennu untuk mempelajari kandungan massanya.

Sejauh ini, masih minim diketahui soal karakteristik dan kandungan Bennu. Paling tidak, astronom sudah meneliti kalau asteroid kuno ini memiliki kandungan molekul dari atom oksigen dan hidrogen yang bergabung bersama, kandungan ini juga dikenal dengan nama hydroxyls.

Illustrasi asteroid Bennu
Dalam misi yang direncanakan berjalan selama tujuh tahun ini, OSIRIS-REx akan mengumpulkan sampel dari asteroid Bennu. Bennu sendiri mengandung senyawa organik yang sangat penting bagi kehidupan.

Sekadar informasi Bennu terdiri dari molekul karbon yang berasal dari masa awal tata surya sekitar 4,5 miliar tahun lalu.

Air, yang merupakan komponen vital untuk kehidupan, bisa juga terperangkap di dalam mineral-mineral asteroid ini.


Selain itu, Bennu dipilih untuk dijelajahi karena adanya kemungkinan bahwa asteroid ini akan menghantam bumi dalam jangka waktu 166 tahun dari sekarang.

Bennu berada di posisi kedua dalam daftar NASA, berisikan 72 objek di dekat bumi yang mempunyai potensi menghantam planet ini.

Dengan misi senilai US$ 800 juta ini, peneliti berharap akan mendapatkan informasi lebih banyak tentang kemungkinan bagaimana Bennu akan mempengaruhi Bumi dalam waktu 150 tahun mendatang, demikian menurut juru bicara misi OSIRIS-REx, Erin Morton.

Pengumpulan data akan dilakukan menggunakan lengan mekanik OSIRIS-REx sepanjang 10 meter dan data direncanakan sampai ke Bumi pada tahun 2021.

Bennu berjarak 122 juta kilometer dari Bumi. Dibutuhkan tujuh menit untuk medapatkan kabar dari pesawat ruang angkasa ke pengendali penerbangan di Colorado, AS.

Imbas Pemerintahan AS Tutup, Instagram NASA Berhenti Update


Badan antariksa nasional Amerika Serikat (AS) NASA, mengumumkan tidak akan memposting apapun di akun Instagram @nasa selama pemerintah federal AS tutup atau mengalami 'government shutdown'.

"We're sorry, but we will not be posting updates to Instagram during the government shutdown. We'll be back as soon as possible!," demikian pengumuman disampaikan NASA melalui postingan terbarunya, seperti dilihat pada, Selasa (23/1/2018).

Ini bukan pertama kalinya NASA 'tutup' karena dampak government shutdown. Pada 2013 pun pernah terjadi hal serupa. Saat itu, Presiden Barack Obama mengumumkan NASA hampir tutup sepenuhnya selama penutupan pemerintahan, namun Pusat Kendali Misi NASA tetap buka untuk mendukung dua astronotnya yang saat itu sedang bertugas di stasiun luar angkasa.

Instagram NASA sendiri terkenal aktif dan update melakukan postingan. Jejaring sosial berbagi foto dan video ini telah menjadi cara efektif bagi NASA mempromosikan berbagai kegiatan dan hasil penelitian luar angkasa mereka. Diikuti lebih dari 30 juta follower, para pecinta luar angkasa selalu menantikan foto-foto luar angkasa menakjubkan yang dirilis secara eksklusif oleh NASA di Instagramnya.

NASA hanya salah satu yang terkena dampak government shutdown AS. Seperti diketahui, sejak Sabtu (20/1), pemerintah federal AS tutup karena ketiadaan anggaran negara untuk menjalankan pemerintahan.

Hashtag #TrumpShutdown pun seharian jadi trending topic Twitter di AS tak lama setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan penutupan operasional pemerintahan. Netizen dan para politisi yang menentang Trump pun ikut ramai bersuara di Twitter.

Mereka ramai menyuarakan pendapatnya soal tidak tercapainya kesepakatan antara Partai Republik dan Partai Demokrat di Senat yang membuat buntunya pembahasan rencana anggaran federal Amerika Serikat.

Sumber Instagram:

https://www.instagram.com/p/BeQkZbTHHzk/?utm_source=ig_embed&ig_mid=W4GAVQABAAHlUHc3cwfBpashJKdK

NASA Memperlihatkan Objek Luar Angkasa Pertama Terjauh Dari Bumi



Pergantian tahun 2019 ini mungkin bisa disebut sebagai era baru untuk eksplorasi ruang angkasa. Seperti diberitakan sebelumnya, National Aeronautics and Space Administration (Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat/NASA)  telah mengonfirmasi New Horizons sampai di titik paling jauh, sekitar 6,5 miliar tahun dari Bumi jaraknya.

Saat manusia Bumi menyaksikan kembang api di malam pergantian tahun, pesawat tanpa awak itu sudah mulai memasuki zona menakjubkan. Saat itu, New Horizons sudah berada sangat dekat dengan objek paling jauh yang pernah dikunjungi pesawat ruang angkasa lain, Ultima Thule.

Ultima Thule pertama kali mendapat sorotan saat tertangkap teleskop Hubble pada 2014. Namun baru kini para ahli dapat menjangkaunya.


Bukan tanpa alasan, para ahli yakin bahwa dengan mengenal Ultima Thule maka kita dapat memahami bagaimana pembentukan awal tata surya yang kita huni.

New Horizons dibawa flyby dengan jarak sekitar 3.500 kilometer dari Ultima Thule. Saat semakin dekat, barulah terlihat objek ini berbentuk pin bowling dengan dimensi sekitar 32 kali 16 kilometer.

Menurut ahli NASA, New Horizons bertemu dengan Ultima Thule tepat pada malam pergantian tahun waktu New York, AS.Baru sekitar 6 jam kemudian para ahli NASA di Laboratorium Fisika Terapan John Hopkins dan Southwest Research Institute menerima gambar pertamanya.

Jarak yang sangat jauh, ditambah berada di wilayah Sabuk Kuiper misterius yang terdiri dari ribuan benda sisa-sisa tata surya muda membuat data Ultima Thule agak lebih lama diterima para ahli di Bumi.

"Ini adalah eksplorasi terjauh yang pernah dilakukan dalam sejarah," kata peneliti utama Alan Stern dari Southwest Research Institute di Boulder, Colorado, dilansir Science Alert, Selasa (1/1/2019).

"Data yang kami milikii sangat fantastis dan kami dapat mempelajari Ultima lebih dekat. Data yang didapat nantinya tentu akan lebih baik lagi," sambungnya.
Ini adalah gambar pertama yang didapat para ahli. Mereka berkata, kita akan segera mendapat gambar yang lebih tajam dan beresolusi tinggi sesegera mungkin.

Nantinya data yang dikirim akan menjawab banyak pertanyaan tentang planet ini, termasuk apakah bentuknya memang menyerupai pin bowling dan berapa lama waktunya untuk menyelesaikan satu rotasi.


Nasa Mengatakan Sangat Kecil Kemungkinan Asteroid 2002 NT7 Itu Menghantam Bumi Pada 2019

 

Pada 9 Juli 2002, Badan Antariksa Nasional Amerika Serikat (NASA) menemukan objek angkasa luar yang berada dekat dengan Bumi atau near-Earth object (NEO), yang oleh NASA diberi nama sebagai (89959) 2002 NT7 atau populer disebut sebagai asteroid 2002 NT7.

Ketika hal itu diumumkan untuk pertama kali pada 16 tahun yang lalu, publik dan media dibuat cemas, karena, benda asing berdiameter 2-4 km itu kemungkinan mampu menghantam Bumi dengan kerusakan yang dahsyat. Kini, kekhawatiran itu mencuat kembali di dunia maya lewat simpang-siur informasi di sejumlah media sosial.

Menurut kalkulasi awal para astronom pada 2002, asteroid itu akan menghantam Bumi dengan kecepatan 27 kilometer per detik, dengan kekuatan 30 juta kali lebih besar dari bom atom Hiroshima 1945.

Namun, setelah melakukan kalkulasi lebih lanjut dan lebih mendalam, NASA mengumumkan bahwa sangat kecil kemungkinan asteroid 2002 NT7 akan menghantam Bumi pada 2019.

"Ancamannya sangat kecil, dengan kemungkinan 1 berbanding 250.000. Perbandingan itu sangat kecil," kata Manajer Program Near-Earth Object untuk Jet Propulsion Laboratory (JPL) NASA, Don Yeomans dalam wawancara di laman resmi NASA pada 30 Juli 2002, seperti dilansir kantor berita Agence France-Presse (AFP) via Spacedaily.com, dikutip Minggu (14/10/2018).

Senada, Karen Masters (associate professor di Haverford College Pennsylvania) juga menyatakan bahwa kecil kemungkinan asteroid 2002 NT7 akan menghantam Bumi pada 2019 atau 2-3 tahun mendatang. Bahkan, ia memperkirakan bahwa asteroid 2002 NT7 tak lagi berpotensi menimbulkan ancaman bagi Bumi.

Astronom lulusan Cornell University Amerika Serikat dan Oxford University Inggris itu memberikan penjelasan tertulis dalam laman resmi Cornell University:

"Menurut kalkulasi 2004 (pembaruan atas kalkulasi 2002), kemungkinan asteroid itu menghantam Bumi adalah 1 berbanding 100.000 yang masuk dalam kategori berisiko sangat minim," kata Masters.

"Per data Juli 2015 (yang dihimpun oleh Masters dari Cornell University, NASA dan beberapa lembaga lain), asteroid itu TIDAK akan bertabrakan dengan Bumi dalam waktu dekat."

"Menurut kalkulasi (tahun 2015), pada 15 Januari 2099, asteroid itu (2002 NT7) akan berjarak 0,37 AU (astronomical unit) dari Bumi (atau lebih dari 100 kali jarak Bumi ke Bulan, yakni sekitar 384-400 juta km). Dan itu adalah jarak terdekatnya dengan Bumi hingga setidaknya tahun 2199," jelas Masters.

"Asteroid 2002 NT7 pun juga sudah tidak dianggap ancaman berbahay bagi Bumi ... karena, berdasarkan data dan model kalkulasi yang ada, 2002 NT7 tidak akan menabrak Bumi."

"Lantas, bagaimana jika ternyata benar-benar ada sebuah asteroid yang berada di lintasan untuk menabarak Bumi? Lembaga antariksan nasional akan mengeluarkan peringatan sejak beberapa tahun sebelumnya. Dan dengan teknologi yang terus dikembangkan, ilmuwan bisa membelokkan atau menghancurkan objek itu saat masih berada di angkasa luar," lanjutnya.

Masters juga mengimbau agar publik tidak gampang termakan pemberitaan media dan harus terus bersikap skeptis.

Ia menganjurkan agar publik meninjau situs-situs resmi badan antariksa nasional setempat atau badan antariksa asing seperti laman Asteroid Watch dan Near-Earth Object Program yang dikelola NASA, agar tidak termakan tentang informasi atau berita hoaks seputar asteroid yang menghantam Bumi.

Letusan Yellowstone Bisa Menghancurkan AS? NASA Dapat Cegah Malapetaka Itu?


Seperti yang kita ketahui, Yellowstone National Park atau Taman Nasional Yellowstone yang berada di Wyoming, Montana, dan Idaho Amerika Serikat ini menjadi salah satu dari keajaiban yang ada di Dunia.

Yellowstone ini terkenal dengan geyser dan sumber air panasnya. Geyser ini terkenal sampai penjuru dunia, Old Faithfull Geyser pun ada disini.

Di taman ini pula terdapat banyak satwa liar seperti beruang grizzly, serigala, bison dan rusa.

Pada tahun 1979, Taman Nasional Yellowstone diterima sebagai salah satu Situs Warisan Dunia UNESCO.

Tapi, dibalik keindahan Yellowstone tersebut ternyata menyimpan sesuatu yang bisa membahayakan makhluk di bumi.

Di bawah taman tersebut terdapat gunung berapi aktif dengan kekuatan super yang masih tertidur.

Gunung api ini memiliki kekuatan untuk memuntahkan lebih dari 1.000 kilometer kubik batu dan abu dalam satu waktu atau 2.5000 lebih banyak dari Gunung St. Helens yang meletus pada 1980 dan menewaskan 57 orang.

Ilmuwan mengklaim, material vulkanik 'raksasa api Yellowstone' bisa menyelimuti sebagian besar Amerika Serikat dan bahkan menjerumuskan Bumi ke dalam 'Musim Dingin Vulkanik'.

Menurut New York Times, erupsi dahsyat terakhir Yellowstone terjadi pada 631.000 tahun lalu. Para ilmuwan menduga bahwa letusan super itu telah 'mencakar' planet ini setiap 100.000 tahun dan menjalar ke gunung berapi yang ada di dunia, membuat mereka bergeliat dari tidur panjangnya.

Sementara itu, dikutip dari Busines Insider, Selasa (9/10/2018), Yellowstone meletus kira-kira setiap 600.000 tahun. Letusan luar biasa kala itu, disebut NASA dapat menyebabkan berakhirnya peradaban manusia bila terjadi lagi di abad ini.

Tetapi lembaga antariksa milik pemerintah AS itu punya rencana yang mampu mencegah ledakan tersebut terulang kembali.

Selain itu, mereka pun mengatakan bahwa mereka telah membuat pembangkit geotermal untuk menghasilkan energi listrik dari ledakan gunung berapi yang paling mematikan.

Foto Satelit Yang Dirilis NASA Saat Gempa dan Tsunami Palu Mengejutkan Para Ilmuwan Dunia


Foto yang diabadikan oleh satelit NASA, Landsat 8, terkait gambaran sebelum dan sesudah tsunami Palu. (Source: NASA)

Masih hangat pikiran kita tentang gempa yang terjadi di lombok beberapa waktu lalu, namun gempa terjadi kembali di wilayah Pulau Sulawesi pada 28 September 2018 dengan kekuatan magnitudo 7,7 yang menyebabkan kerusakan parah pada pantai utara pulau Sulawesi. Hampir seluruh rumah yang berada disana rata dengan tanah karena dampak dari serangkaian gelombang tsunami yang menghancurkan garis pantai.

Aliran lumpur dan tanah yang muncul di beberapa titik pinggiran kota yang dihuni oleh (kurang lebih) 300.000 orang pun tidak luput terkena dampak tersebut.

OLI (Operational Land Imager) milik Landsat 8 (satelit observasi Bumi buatan Amerika yang dibangun oleh NASA dan Survei Geologi Amerika Serikat) menangkap gambar warna alam Palu pada 2 Oktober 2018.

Gambar tersebut memperlihatkan perbedaan lanskap Palu sebelum dan sesudah terjadinya gempa dan tsunami. Gambar dengan warna semu membuat Landsat 8 dengan mudah untuk membedakan antara daerah perkotaan (ungu-kelabu), vegetasi (hijau) dan area tanah (cokelat dan sawo matang).

Saat melihat pesisir yang mengalami kerusakan berat karena tsunami, gambar yang diabadikan satelit NASA juga mengungkapkan tiga aliran lumpur besar yang menyebabkan kerusakan parah di daerah padat penduduk.


Foto yang diabadikan oleh satelit NASA, Landsat 8, terkait tsunami Palu pada 23 September 2018. Source: NASA)
Foto yang diabadikan oleh satelit NASA, Landsat 8, terkait tsunami Palu pada 2 Oktober 2018. (Source: NASA)
Getara yang intens dari gempa bumi dengan kekuatan magnitudo 7,7 mungkin telah memicu pencairan dan penyebaran lateral, proses di mana pasir basah dan lumpur mengambil karakteristik cairan. Proses ini yang sangat umum terjadi di dekat sungai dan di tanah reklamasi, dapat menghasilkan lumpur yang sifatnya merusak, bahkan di daerah yang relatif datar.

Beberapa ilmuwan NASA menduga bahwa tanah longsor yang terjadi di bawah laut, terguncang akibat gempa sehingga memberikan energi yang memicu tsunami. Selain itu, bentuk Teluk Palu yang sempit dan menyerupai jari tampaknya memperbesar gelombang air laut yang bergerak cepat dan membuatnya lebih berbahaya.

NASA Menemukan Media yang Hebat dari Lubang Hitam

Para ilmuwan telah mengambil langkah besar dalam pemburuan mereka untuk lubang hitam yang tidak terlalu kecil atau terlalu besar. Menemukan lubang hitam antara-massa yang sulit dipahami ini dapat membantu para astronom lebih memahami lubang hitam terbesar di alam semesta awal.

The COSMOS Legacy Survey menunjukkan data yang telah memberikan bukti keberadaan black hole menengah (IMBHs). (sumber: nasa.gov)

Penelitian baru ini berasal dari dua studi terpisah, masing-masing menggunakan data dari NASA Chandra X-Ray Observatory dan teleskop lainnya.

Lubang hitam yang mengandung antara sekitar seratus dan beberapa ratus ribu kali masa Matahari disebut "Lubang hitam perantara", atau IMBHs. Ini karena massa mereka menempatkan mereka di antara lubang hitam yang terdokumentasi dengan baik dan sering diteliti pada salah satu ujung skala massa dan "lubang hitam supermasif" yang ditemukan di daerah pusat galaksi masif di sisi lain.

Sementara beberapa IMBHs yang menarik telah dilaporkan dalam beberapa tahun terakhir, para astronom masih mencoba untuk menentukan seberapa umum mereka dan apa yang mereka ajarkan kepada kita tentang pembentukan lubang hitam supermasif pertama.

Satu tim peneliti yaitu Chandra COSMOS-Legacy Survey dimana tim tersebut dibentuk untuk mempelajari galaksi kerdi, yang mengandung kurang dari satu persen jumlah massa di bintang seperti Bima Sakti kita. (COSMOS adalah singkatan dari Cosmic Evolution Survey). Karakterisasi galaksi ini diaktifkan oleh dataset yang tersedia untuk bidang COSMOS pada panjang gelombang yang berbeda, termasuk data dari NASA dan ESA teleskop.

Data Chandra sangan penting untuk pencarian ini karena sumber sinar X-ray yang terang dan dekat dengan titip pusat galaksi adalah tanda yang menunjukkan adanya lubang hitam. Sinar-X dihasilkan oleh gas yang dipanaskan hingga jutaan derajat oleh gaya gravitasi dan magnet yang sangat besar di dekat lubang hitam.

"Kami mungkin telah menemukan bahwa galaksi kerdil merupakan surga bagi lubang hitam kelas menegah yang hilang ini," kata Mar Mezcua dari Institut Ilmu Luar Angkasa di Spanyol yang memimpin salah satu penelitian. "Kami tidak menemukan "beberapa IMBH-kami mungkin telah menemukan lusinan".

Timnya mengidentifikasi empat puluh lubang hitam yang tumbuh di galaksi kerdil. Dua belas dari mereka berada pada jarak lebih dari lima miliar tahun cahaya dari Bumi dan yang paling jauh berjarak 10,9 miliar tahun cahaya, lubang hitam paling jauh yang tumbuh di galaksi kerdi yang pernah terlihat. Salah satu galaksi kerdi ini adalah yan gpaling kecil yang ditemukan untuk menampun glubang hitam yang tumbuh di tengahnya.

Sebagian besar sumber-sumber ini mungkin IMBHs dengan massa yang sekitar sepuluh ribu hingga seratus ribu kali dari Matahari. Salah satu hasil penting dari penelitian ini adalah bahwa fraksi galaksi yang mengandung lubang hitam yang tumbuh lebih kecil untuk galaksi yang lebih kecil daripada untuk rekan-rekan mereka yang lebih besar.

Tim kedua yang dipimpin oleh Igor Chilingarian dari Harvard-Smithsonian Centre for Astrophysics (CfA) di Cambridge, Mass., Menemukan sampel penting yang terpisah dari IMBHs yang mungkin dalam galaksi yang lebih dekat dengan kita. Dalam sampel mereka, kandidat IMBH yang paling jauh adalah sekitar 2,8 miliar tahun cahaya dari Bumi dan sekitar 90% dari kandidat IMBH yang mereka temukan tidak lebih dari 1,3 miliar tahun cahaya jauhnya.

Dengan data dari Sloan Digital Sky Survey (SDSS), Chilingarian dan koleganya menemukan galaksi dengan tanda tangan cahaya optik dari lubang hitam yang tumbuh dan kemudian memperkirakan massa mereka. Mereka memilih 305 galaksi dengan sifat-sifat yang menyarankan lubang hitam dengan massa kurang dari 300.000 kali Matahari yang bersembunyi di daerah pusat masing-masing galaksi ini.

Hanya 18 anggota dari daftar ini berisi pengamatan X-ray berkualitas tinggi yang memungkinkan konfirmasi bahwa sumbernya adalah lubang hitam. Deteksi dengan Chandra dan dengan XMM-Newton diperoleh untuk sepuluh sumber, menunjukkan bahwa sekitar setengah dari 305 kandidat IMBH cenderung menjadi IMBHs yang valid. Massa untuk sepuluh sumber yang terdeteksi dengan pengamatan X-ray ditentukan antara 40.000 dan 300.000 kali massa Matahari.

"Ini adalah contoh lubang hitam massal menengah terbesar yang pernah ditemukan," kata Chilingarian. "Karunia lubang hitam ini dapat digunakan untuk mengatasi salah satu misteri terbesar dalam astrofisika."

IMBHs mungkin dapat menjelaskan bagaimana lubang hitam yang sangat besar, yang sangat supermasif, dapat terbentuk begitu cepat setelah Big Bang. Satu penjelasan utama adalah bahwa lubang hitam supermasif tumbuh dari waktu ke waktu dari lubang-lubang hitam kecil yang mengandung sekitar seratus kali massa Matahari. Sebagian dari benih ini harus bergabung untuk membentuk IMBHs. Penjelasan lain adalah bahwa mereka terbentuk sangat cepat dari runtuhnya awan gas raksasa dengan massa yang sama dengan ratusan ribu kali dari Matahari.

Mezcua dan timnya mungkin melihat bukti yang mendukung ide keruntuhan langsung, karena teori ini memprediksi bahwa galaksi yang kurang masif dalam sampel mereka harus lebih kecil kemungkinannya mengandung IMBHs.

"Bukti kami hanya tidak langsung karena mungkin bahwa IMBHs sama umumnya dalam galaksi yang lebih kecil tetapi mereka tidak mengkonsumsi cukup materi untuk dideteksi sebagai sumber-sumber X-ray", kata rekan penulis Mezcua, Francesca Civano dari CfA.

Tim Chilingarian memiliki kesimpulan yang berbeda.

"Kami berpendapat bahwa hanya kehadiran lubang hitam massa menengah dalam kisaran massa yang kami deteksi menunjukkan bahwa lubang hitam yang lebih kecil dengan massa sekitar seratus Suns ada," kata co-penulis Chilingarian, Ivan Yu. Katkov dari Moscow State University di Rusia. "Lubang hitam yang lebih kecil ini bisa menjadi bibit untuk pembentukan lubang hitam supermasif."

Kemungkinan lain adalah kedua mekanisme itu benar-benar terjadi. Kedua tim setuju bahwa untuk membuat kesimpulan yang kuat, diperlukan sampel lubang hitam yang jauh lebih besar dengan menggunakan data dari satelit masa depan. Makalah oleh Mar Mezcua dan rekannya diterbitkan dalam terbitan Agustus Pemberitahuan Bulanan Royal Astronomical Society dan tersedia online . Makalah oleh Igor Chilingarian baru-baru ini diterima untuk publikasi di The Astrophysical Journal dan tersedia online .

NASA Bersiap Untuk Meluncurkan Parker Solar Probe, Misi untuk Mendekati Matahari

Pada awal Agustus pagi, langit di dekat Cape Canaveral, Florida, akan terlihat peluncuran Parker Solar Probe. Tanggal 6 Agustus 2018, United Launch Alliance Delta IV Heavy akan meluncur ke ruang angkasa dengan membawa pesawat berukuran mobil, yang akan mempelajari Matahari lebih dekat daripada objek buatan manusia yang pernah ada.

Pada 20 Juli 2018, Nicky Fox, ilmuwan proyek Parker Solar Probe di Johns Hopkins University Applied Physics Lab di Laurel, Maryland, dan Alex Young, associate director for science di Heliophysics Science Division di NASA Goddard Space Flight Center di Greenbelt, Maryland. , memperkenalkan sasaran sains Parker Solar Probe dan teknologi di belakang mereka pada konferensi pers yang disiarkan televisi dari Kennedy Space Center NASA di Cape Canaveral, Florida.

"Kami sudah mempelajari Matahari selama beberapa dekade, dan sekarang kami akhirnya akan pergi kesana," kata Young.

Matahari kita jauh lebih kompleks daripada yang terlihat. Matahari adalah bintang yang dinamis dan aktif secara magnetis. Atmosfer Matahari secara konstan mengirim material magnet ke luar, membungkus tata surya kita jauh melampaui orbit Pluto dan mempengaruhi setiap dunia di sepanjang jalan. Gulungan energi magnetik dapat meledak dengan radiasi cahaya dan partikel yang menjelajah ruang angkasa dan menciptakan gangguan sementara di atmosfer kita, kadang-kadang sinyal radio dan komunikasi goyah di dekat Bumi. Pengaruh aktivitas matahari di Bumi dan dunia lain secara kolektif dikenal sebagai cuaca angkasa, dan kunci untuk memahami asal-usulnya teletak pada pemahaman Matahari itu sendiri.

"Energi Matahari selalu mengali melewati dunia kita," kata FOx. " Dan meskipun angin matahari tidak terlihat, kita dapat melihatnya melingkari kutub sebagai aurora yang indah dengan sejumlah energi dan partikel yang mengalir ke atmosfer kita. Kami tidak memiliki pemahaman yang kuat tentang mekanisme yang mendorong angin itu ke arah kami, dan itulah yang kami tuju untuk ditemukan." lanjutnya.

Di situlah Parker Solar Probe masuk. Pesawat ruang angkasa membawa barisan instrumen untuk mempelajari Matahari baik dari jarak jauh maupun secara langsung. Data dari instrumen state-of-the-art ini harus membantu para ilmuwan menjawab tiga pertanyaan mendasar tentang bintang ini.

Salah satu pertanyaan itu adalah misteri percepatan angin matahari, aliran konstan material Matahari. Meskipun sebagian besar kita memahami asal-usul angin matahari pada Matahari, kita tahu ada titik yang belum diamati dimana angin matahari dipercepat ke kecepatan supersonik. Data menunjukkan perubahan ini terjadi di korona, wilayah atmosfer Matahari yang akan diterbangi Parker Solar Probe secara langsung, dan para ilmuwan berencana untuk menggunakan pengukuran jarak jauh dan in-house Parker Solar Probe untuk menjelaskan bagaimana ini terjadi.

Kedua, para ilmuwan berharap untuk mempelajari rahasia suhu yang sangat tinggi dari korona. Permukaan Matahari yang terlihat adalah sekitar 10.000 F. Tetapi, untuk alasan yang tidak sepenuhnya kita pahami, korona itu ratusan kali lebih panas, melonjak hingga beberapa juta derajat F. Ini berlawanan dengan intuisi, karena energi matahari dihasilkan pada inti.

Akhirnya, suite ISIS - kependekan dari Integrated Sciennce Investigation of the Sun,akan mengukur elektron, proton, dan ion untuk memahami siklus kehidupan partikel dan darimana mereka berasal, bagaimana mereka menjadi lebih cepat serta bagaimana mereka bergerak keluar dari Matahari melalui ruang antarplanet.

Parker Solar Probe adalah misi yang memakan waktu sekitar enam puluh tahun. Pada tahun 1958, fisikawan Eugene Parker menerbitkan makalah ilmiah inovatif yan gberteori tentang keberadaan angin matahari. Misi ini sekarang dinamai menurut namanya.

Hanya dalam beberapa dekade terakhir, teknologi cukup jauh untuk membuat Parker Solar Probe menjadi kenyataan. Kunci perjalanan pesawat ruang angkasa ini adalah tiga terobosan utama : Perisai panas, Sistem pendinginan susunan matahari, dan sistem manajemen kesalahan.

"Sistem Perlindungan Termal (perisai panas) adalah salah satu teknologi misi yang memungkinkan pesawat terbang," kata Andy Driesman, project manager Parker Solar Probe di Johns Hopkins Applied Physics Lab. "Ini memungkinkan pesawat luar angkasa beroperasi pada suhu ruangan."
Misi Sun-skimming seperti Parker Solar Probe telah menjadi impian para ilmuwan selama beberapa dekade, tetapi baru-baru ini memiliki teknologi yang dibutuhkan - seperti perisai panas, sistem pendinginan tata surya, dan sistem manajemen kesalahan - tersedia untuk membuat misi seperti itu menjadi kenyataan .
Credits: NASA / Johns Hopkins APL / Ed Whitman
Inovasi penting lainnya adalah sistem pendingin array surya dan sistem manajemen kesalahan di atas kapal. Sistem pendinginan susunan surya memungkinkan panel surya untuk menghasilkan tenaga di bawah beban panas yang intens dari Matahari dan sistem manajemen gangguan melindungi pesawat ruang angkasa selama periode waktu yang lama ketika pesawat ruang angkasa tidak dapat berkomunikasi dengan Bumi.

Meskipun Delta IV Heavy adalah salah satu roket terkuat di dunia, Parker Solar Probe relatif kecil, seukuran mobil kecil. Tapi yang dibutuhkan Parker Solar Probe adalah energi. Untuk sampai ke Matahari membutuhkan banyak energi saat peluncuran supaya mencapai orbitnya mengelilingi Matahari. Itu karena setiap objek yang diluncurkan dari Bumi memulai perjalanan mengelilingi Matahari dengan kecepatan yang sama seperti Bumi - sekitar 18,5 mil per detik - jadi objek harus melakukan perjalanan dengan sangat cepat untuk menangkal momentum itu, mengubah arah, dan mendekati Matahari.

Waktu peluncuran Parker Solar Probe - antara sekitar 4 dan 6 pagi. EDT, dan dalam jangka waktu sekitar dua minggu - sangat tepat dipilih untuk mengirim Parker Solar Probe ke arah target vital pertamanya untuk mencapai orbit Venus.

NASA Fermi Mengidentifikasi Lubang Hitam Monster di Galaksi Sebagai Sumber Neutrino Berenergi Tinggi

NASA Fermi (kiri atas) mengidentifikasi lubang hitam monster di galaksi yang jauh sebagai sumber neutrino berenergi tinggi yang dilihat oleh Observatorium Neutrino IceCube (sensor string, bottom). Kredit: NASA/Fermi dan Aurore Simonnet, Sonoma State University
Untuk pertama kalinya, para ilmuwan menggunakan NASA Fermi Gamma-ray Space Telescope telah menemukan sumber neutrino berenergi tinggi dari luar galaxyi kita. Neutrino ini menempuh 3.7 miliar tahun kecepatan cahaya sebelum terdeteksi dibumi. Ini lebih jauh dari neutrino lainnya yang bisa diidentifikasi oleh para ilmuwan.

Neutrino berenergi tinggi adalah partikel yang sulit ditangkap yang menurut para ilmuwan diciptakan oleh peristiwa paling kuat di alam semesta, seperti penggabungan galaksi dan material yang jatuh ke lubang hitam supermasif. Mereka melakukan perjalanan dengan kecepatan cahaya dan jarang berinteraksi dengan materi lain, memungkinkan mereka melakukan perjalanan tanpa hambatan melintasi jarak miliaran tahun cahaya. Penemuan neutrino berenergi tinggi pada 22 September 2017 mengirim para astonom pada pengejaran untuk menemukan sumbernya sebelum lubang hitam supermasif di galaksi yang jauh.

Neutrino ini ditemukan oleh tim ilmuwan internasional menggunakan Observatorium Eskube Neutrino National Science Foundation di Stasiun Amundsen-Scott South Pole Station. Fermi menemukan sumber neutrino dengan menelusuri jalurnya kembali ke ledakan sinar gamma dari lubang hitam supermasif yang jauh di rasi Orion.

"Sekali lagi, Fermi telah membantu membuat peningkatan besar lain di bidang yang sedang yang kita sebut astronomi mutimessenger," kata Paul Hertz direktur Divisi Astrophysics NASA di Washington. "Neutrino dan gelombang gravitasi memberikan jenis informasi baru tentang lingkungan paling ekstrim di alam semesta. Tetapi untuk memahami dengan baik apa yang mereka katakan kepada kami, kami perlu menghubungkannya dengan para astronom 'Messenger' yang paling tau"

Para ilmuwan mempelajari neutrino, serta sinar kosmik dan sinar gamma, untuk memahami apa yang teradi di lingkungan kosmik yang bergejolak seperti supernova, lubang hitam dan bintang. Neutrino menunjukan proses kompleks yang terjadi di dalam lingkungan, dan sinar kosmik menunjukkan kekuatan dan kecepatan aktivitas hebat. Tapi, para ilmuwan mengandalkan sinar gamma, bentuk cahaya paling energetik, untuk menandai dengan jelas sumber kosmik apa yang menghasilkan neutrino dan sinar kosmik ini.

"Ledakan kosmik yang paling ekstrim menghasilkan gelombang gravitasi, dan akselerator kosmik yang paling ekstrem menghasilkan neutrino energi tinggi dan sinar kosmik," kata Regina Caputo dari Pusat Penerbangan Luar Angkasa Goddard NASA di Greenbelt, Maryland, koordinator analisis untuk Fermi Large Area Telescope Collaboration. "Melalui Fermi, sinar gamma menyediakan jembatan untuk masing-masing sinyal kosmik baru ini."

Penemuan ini adalah subyek dari dua makalah yang diterbikan pada hari Kamis di jurnal Science. Makalah identifikasi sumber juga mencangkup observasi tindak lanjut oleh Pencitraan Gamma Atmosfer Utama Cherenkov Telescope dan data tambahan dari Neil Gehrels Swift Observatory NASA dan banyak fasilitas lainnya.

Penemuan neutrino berenergi tinggi pada 22 September 2017, mengirim para astronom pada pengejaran untuk menemukan sumbernya — sebuah lubang hitam supermasif di galaksi yang jauh.
Kredit: Pusat Penerbangan Luar Angkasa Goddard NASA
Pada 22 September 2017, para ilmuwan yang menggunakan IceCube medeteksi tanda-tanda neutrino yang menyerang es Antarika dengan energi sekitar 300 trilium volt elektron lebih dari 45 kali energi yang dapat dicapai dalam akselerator partikel paling kuat di Bumi. Energi tinggi ini sangat menyarankan bahwa neutrino harus beasal dari luar tata surya kita. Melalui IceCube menunjukkan di mana langit neutrino berasal, dan peringatan otomatis memberitahu para astronom di seluruh dunia untuk mencari wilaya ini untuk flare atau ledakan yang dapat dikaitkan dengan peristiwa tersebut.

Data dari Fermi's Large Area Telescope mengungkapkan peningkatan emisi sinar gamma dari galaksi aktif yang terkenal pada saat neutrino tiba. Ini adalah jenis galaksi aktif yang disebut blazar, dengan lubang hitam supermasif dengan jutaan hingga miliyaran kali massa Matahari yang meledakkan pancaran partikel ke arah berlawanan dengan kecepatan cahaya. Blazar sangat cerah dan aktif karena salah satu dari jet ini kebetulan mengarah ke Bumi.

Sinar gamma yang terdeteksi oleh Fermi dari TXS 0506 + 056 ditampilkan sebagai lingkaran yang meluas. Ukuran maksimum mereka, warna — dari putih (rendah) ke magenta (tinggi) —dan nada yang terkait menunjukkan energi setiap sinar. Urutan pertama menunjukkan emisi khas; yang kedua menunjukkan suar 2017 yang mengarah ke deteksi neutrino.
Kredit: NASA / DOE / Fermi LAT Collab., Matt Russo dan Andrew Santaguida / SISTEM Suara
Ilmuwan Fermi Yasuyuki Tanaka di Hiroshima University di Jepang adalah yang pertama mengaitkan acara neutrino dengan blazar yang ditunjuk TXS 0506 + 056 (TXS 0506 untuk singkatnya).

"LAT Fermi memantau seluruh langit dalam sinar gamma dan mengawasi aktifitas sekitar 2.000 blazar, namun TXS 0506 benar-benar menonjol," kata Sara Buson, NASA Postdoctoral Fellow di Goddard yang melakukan analisis data dengan Anna Franckowiak, seorang ilmuwan di usan penelitian Deustches Electronen-Sinkrotron di Zuethen, Jerman.

NASA Fermi Gamma-ray Space Telescope adalah sebuah astrofisika dan kemitraan partikel fisika, yang dikembangkan dan bekerja sama dengan Departemen Energi AS dengan kontribusi penting dari lembaga akademis dan mitra di Perancis, Jerman, Italia, Jepang, Swedia dan Amerika Serikat. Program Fellow NASA Postdoctoral dikelola oleh Universitas Space Research Association di bawah kontrak dengan NASA.

Pesawat Juno Ungkap Sekumpulan Siklon Raksasa Di Planet Jupiter

Citra komposit ini, yang berasal dari data yang dikumpulkan oleh instrumen Jovon Infrared Auroral Mapper (JIRAM) di kapal misi Juno NASA ke Jupiter, menunjukkan siklon pusat di kutub utara planet dan delapan siklon yang mengelilinginya. (Kredit: NASA / JPL-Caltech / Swri / ASI / INAF / JIRAM)

Jupiter merupakan planet terbesar di tata surya kita dengan penampilan yang ikonik dengan bintik merah besar di planet tersebut. Namun, tau kah kamu, ternyata warna kutub pada planet ini menjadi biru tua dan ditandai oleh banyak siklon yang kini sedang di amati oleh para ilmuwan.

Pesawat ruang angkasa Juno yang mempunyai misi untuk mengamati planet tersebut memperlihatkan kutub gas raksasa dengan jelas dan menunjukan bahwa terdapat putaran gelombang besar dalam konfigurasi geometris, serta beberapa badai mengelilingi spiral pusat. Pada bagian utara, badai ini berbentuk segi delapan. Pada bagian selatan, mereka membentuk pentagon.

Gambar yang dihasilkan komputer ini didasarkan pada gambar inframerah wilayah kutub utara Jupiter yang diakuisisi pada tanggal 2 Februari 2017, oleh instrumen Jovon Infrared Auroral Mapper (JIRAM) di atas kapal Juno selama kunjungan keempat pesawat ruang angkasa tersebut di atas Jupiter. (Kredit: NASA / JPL-Caltech / Swri / ASI / INAF / JIRAM)

Seperti yang kita ketahui, Juno sudah mengorbit planet Jupiter sejak Juli 2016. Pesawat tersebut memberikan gambaran planet ini yang terlihat terang dan bercahaya. Yang mana ini memungkinkan para ilmuwan untuk mengukur ukuran dan suhu spiral yang dimana ukuran spiral tersebut sebesar Amerika Serikat.

Dalam setiap kelompok, siklon cenderung melayang atau bermigrasi, tetapi tidak pernah hilang (setidaknya sejak Juno mengamati) dan pengelompokan poligonal tidak seperti hal lain yang pernah ada di planet lain di tata surya. Saturnus, raksasa gas di sebelah Jupiter, membentuk heksagonal di kutub utara—tetapi geometri itu adalah hasil dari badai tunggal. Sekarang, para ilmuwan mencoba untuk mencari tahu bagaimana poligon Jovian terbentuk dan dipertahankan.

Gambar yang dihasilkan komputer ini menunjukkan struktur pola siklon yang diamati di kutub selatan Jupiter. Seperti di Utara, kutub selatan Jupiter juga mengandung topan sentral, namun dikelilingi oleh lima siklon dengan diameter berdiameter 3.500 sampai 4.300 mil (5.600 sampai 7.000 kilometer). (Kredit: NASA / JPL-Caltech / Swri / ASI / INAF / JIRAM)

"Saya pikir kita berharap untuk melihat apa yang kita lihat di Saturnus, di mana Anda memiliki satu segi enam besar, atau sesuatu yang sedikit lebih seperti itu," kata Fran Bagenal dari University of Colorado, Boulder.

Ban Tanpa Udara, Inovasi Terbaru Dari NASA

Inovasi Terbaru Dari NASA, Ban Tanpa Udara (source: NASA)

Seperti yang kita ketahui, NASA selalu berinovasi dalam mengembangkan penelitiannya tentang apa yang ada di luar angkasa. Dari mulai satelit, roket bahkan robot untuk menjelajahi planet Mars. Saat ini, para ilmuwan NASA sedang berusaha menciptakan kombinasi roda dan ban yang sempurna.

Inovasi terbaru NASA ini didasari atas ide yang sudah ada bertahun-tahun lalu, ban tanpa udara yang diberi nama Superlastic Tire. Bahan dari ban ini menggunakan Shape Memory Alloys yang merupakan kelompok dari paduan logam yang dapat kembali dengan baik pada regangan permanen bila di panaskan pada suhu tertentu.

Terobosan terbaru ini lahir dari inovasi ban sebelumnya. Pada akhir 2000-an, NASA melakukan pengujian kendaraan penjelajah bulan. Pada saat itu, ban kendaraan tersebut menggunakan baja pegas, dan meskipun bekerja dengan baik, mereka rentan terhadap deformasi plastik atau penyok saat diletakkan beban berat.

Namun, pada akhirnya ilmuwan NASA, Santo Padula mengunjungi laboratorium Simulated Lunar Operations (SLOPE) di Pusat Penelitian Glenn milik NASA. Padula pun menggabungkan teknologi yang revolusioner, ia menyarankan menggunakan Shape Memory Alloys dalam bentuk pengeras radial pada ban, dan bukan baja pegas atau kenyal.

Ban Tanpa Udara ini menggunakan Shape Memory Alloys (Source: NASA)

Bahan yang digunakan ban ini adalah titanium nickel stoikiometri. Kawat nikel sangat lembut dan kenyal. Dalam melakukan tugasnya, atom material lainnya akan meregang sampai putus saat mengambil beban berat. Paduan nikel titanium ini disusun kembali pada tingkat atom dan akan kembali ke bentuk semula setelah beban lepas.

Padula mengatakan kalau ini memungkinkan terjadinya deformasi 30 persen lebih banyak tanpa perubahan atau kerusakan permanen. Perpaduan logam dalam Shape Memory Alloys tersebut bisa mencapai 10 persen untuk membalikkan ketegangan. Hasil ini berbeda jauh bila menggunakan baja sebelumnya yang hanya mampu mengembalikan bentuk roda 0,3 sampai 0,5 persen saja. Dalam bentuk prototipe, ban tampak seperti baju zirah, atau baju rantai.

Kelebihan jenis ban ini sudah jelas. Tidak hanya menghilangkan masalah potensial dengan suhu atau tekanan seperti pada ban yang berisi gas, namun juga menghilangkan kemungkinan deflasi.

Prototipe terbaru ini juga lebih ringan. NASA mengatakan bahwa paduan tersebut memungkinkan pengontrolan kekakuan ban, yang dapat disesuaikan dengan berbagai beban pada berbagai jenis medan dan gravitasi yang berbeda dari planet lain.

Meskipun prototipe ini dibuat untuk kendaraan yang akan digunakan untuk melakukan misi ke planet Mars, NASA mengatakan bahwa teknologi tersebut dapat diaplikasikan di bumi.

Tentu saja, daya tarik, kemampuan kecepatan, dan biaya akan menjadi masalah utama, namun kendaraan komersial yang hanya melakukan perjalanan dengan kecepatan rendah dan beroperasi di jalan aspal bisa menguntungkan.