Nasa Mengatakan Sangat Kecil Kemungkinan Asteroid 2002 NT7 Itu Menghantam Bumi Pada 2019
Pada 9 Juli 2002, Badan Antariksa Nasional Amerika Serikat (NASA) menemukan objek angkasa luar yang berada dekat dengan Bumi atau near-Earth object (NEO), yang oleh NASA diberi nama sebagai (89959) 2002 NT7 atau populer disebut sebagai asteroid 2002 NT7.
Ketika hal itu diumumkan untuk pertama kali pada 16 tahun yang lalu, publik dan media dibuat cemas, karena, benda asing berdiameter 2-4 km itu kemungkinan mampu menghantam Bumi dengan kerusakan yang dahsyat. Kini, kekhawatiran itu mencuat kembali di dunia maya lewat simpang-siur informasi di sejumlah media sosial.
Menurut kalkulasi awal para astronom pada 2002, asteroid itu akan menghantam Bumi dengan kecepatan 27 kilometer per detik, dengan kekuatan 30 juta kali lebih besar dari bom atom Hiroshima 1945.
Namun, setelah melakukan kalkulasi lebih lanjut dan lebih mendalam, NASA mengumumkan bahwa sangat kecil kemungkinan asteroid 2002 NT7 akan menghantam Bumi pada 2019.
"Ancamannya sangat kecil, dengan kemungkinan 1 berbanding 250.000. Perbandingan itu sangat kecil," kata Manajer Program Near-Earth Object untuk Jet Propulsion Laboratory (JPL) NASA, Don Yeomans dalam wawancara di laman resmi NASA pada 30 Juli 2002, seperti dilansir kantor berita Agence France-Presse (AFP) via Spacedaily.com, dikutip Minggu (14/10/2018).
Senada, Karen Masters (associate professor di Haverford College Pennsylvania) juga menyatakan bahwa kecil kemungkinan asteroid 2002 NT7 akan menghantam Bumi pada 2019 atau 2-3 tahun mendatang. Bahkan, ia memperkirakan bahwa asteroid 2002 NT7 tak lagi berpotensi menimbulkan ancaman bagi Bumi.
Astronom lulusan Cornell University Amerika Serikat dan Oxford University Inggris itu memberikan penjelasan tertulis dalam laman resmi Cornell University:
"Menurut kalkulasi 2004 (pembaruan atas kalkulasi 2002), kemungkinan asteroid itu menghantam Bumi adalah 1 berbanding 100.000 yang masuk dalam kategori berisiko sangat minim," kata Masters.
"Per data Juli 2015 (yang dihimpun oleh Masters dari Cornell University, NASA dan beberapa lembaga lain), asteroid itu TIDAK akan bertabrakan dengan Bumi dalam waktu dekat."
"Menurut kalkulasi (tahun 2015), pada 15 Januari 2099, asteroid itu (2002 NT7) akan berjarak 0,37 AU (astronomical unit) dari Bumi (atau lebih dari 100 kali jarak Bumi ke Bulan, yakni sekitar 384-400 juta km). Dan itu adalah jarak terdekatnya dengan Bumi hingga setidaknya tahun 2199," jelas Masters.
"Asteroid 2002 NT7 pun juga sudah tidak dianggap ancaman berbahay bagi Bumi ... karena, berdasarkan data dan model kalkulasi yang ada, 2002 NT7 tidak akan menabrak Bumi."
"Lantas, bagaimana jika ternyata benar-benar ada sebuah asteroid yang berada di lintasan untuk menabarak Bumi? Lembaga antariksan nasional akan mengeluarkan peringatan sejak beberapa tahun sebelumnya. Dan dengan teknologi yang terus dikembangkan, ilmuwan bisa membelokkan atau menghancurkan objek itu saat masih berada di angkasa luar," lanjutnya.
Masters juga mengimbau agar publik tidak gampang termakan pemberitaan media dan harus terus bersikap skeptis.
Ia menganjurkan agar publik meninjau situs-situs resmi badan antariksa nasional setempat atau badan antariksa asing seperti laman Asteroid Watch dan Near-Earth Object Program yang dikelola NASA, agar tidak termakan tentang informasi atau berita hoaks seputar asteroid yang menghantam Bumi.
Letusan Yellowstone Bisa Menghancurkan AS? NASA Dapat Cegah Malapetaka Itu?
Seperti yang kita ketahui, Yellowstone National Park atau Taman Nasional Yellowstone yang berada di Wyoming, Montana, dan Idaho Amerika Serikat ini menjadi salah satu dari keajaiban yang ada di Dunia.
Yellowstone ini terkenal dengan geyser dan sumber air panasnya. Geyser ini terkenal sampai penjuru dunia, Old Faithfull Geyser pun ada disini.
Di taman ini pula terdapat banyak satwa liar seperti beruang grizzly, serigala, bison dan rusa.
Pada tahun 1979, Taman Nasional Yellowstone diterima sebagai salah satu Situs Warisan Dunia UNESCO.
Tapi, dibalik keindahan Yellowstone tersebut ternyata menyimpan sesuatu yang bisa membahayakan makhluk di bumi.
Di bawah taman tersebut terdapat gunung berapi aktif dengan kekuatan super yang masih tertidur.
Gunung api ini memiliki kekuatan untuk memuntahkan lebih dari 1.000 kilometer kubik batu dan abu dalam satu waktu atau 2.5000 lebih banyak dari Gunung St. Helens yang meletus pada 1980 dan menewaskan 57 orang.
Ilmuwan mengklaim, material vulkanik 'raksasa api Yellowstone' bisa menyelimuti sebagian besar Amerika Serikat dan bahkan menjerumuskan Bumi ke dalam 'Musim Dingin Vulkanik'.
Menurut New York Times, erupsi dahsyat terakhir Yellowstone terjadi pada 631.000 tahun lalu. Para ilmuwan menduga bahwa letusan super itu telah 'mencakar' planet ini setiap 100.000 tahun dan menjalar ke gunung berapi yang ada di dunia, membuat mereka bergeliat dari tidur panjangnya.
Sementara itu, dikutip dari Busines Insider, Selasa (9/10/2018), Yellowstone meletus kira-kira setiap 600.000 tahun. Letusan luar biasa kala itu, disebut NASA dapat menyebabkan berakhirnya peradaban manusia bila terjadi lagi di abad ini.
Tetapi lembaga antariksa milik pemerintah AS itu punya rencana yang mampu mencegah ledakan tersebut terulang kembali.
Selain itu, mereka pun mengatakan bahwa mereka telah membuat pembangkit geotermal untuk menghasilkan energi listrik dari ledakan gunung berapi yang paling mematikan.
Label:
Amerika Serikat,
Berita,
Bumi,
Gunung,
NASA
Misi Terakhir Cassini Menemukan Beberapa Fakta Ilmiah Menarik Tentang Cincin Saturnus
Seperti informasi yang kita dapatkan, bahwa Cassini sempat mengorbit planet cincin tersebut sebanyak 22 kali sebelum terjun kedalam atmosfer planet dalam misi terakhirnya.
Saat orbit terakhir, perangkat Ion dan Neutral Mass Spectrometer (INMS) Cassini sempat menangkap molekul organik yang terbuat dari material es dan air, material tersebut mengambang di hamparan cincin planet.
Penemuan menakjubkan ini sontak membuat para ilmuwan terkesima, mereka berasumsi jika cincin pada planet saturnus tersebut memiliki kandungan dari sebagian hujan besar yang juga disertai dengan es dan air.
Linda Spilker, pimpinan ilmuwan Cassini mengatakan "Menarik untuk melihat hasil tangkapan Cassini yang tidak pernah kita sangka" seperti dikutip dari Phys, Minggu (7/10/2018).
Menurut data yang dikirim INMS, hujang dari balik cincin planet tersebut meliputi beberapa komponen molekular kompleks, mulai dari air, hidrogen, propana, dan butana.
INMS juga mengukur variasi hujan di balik cincin Saturnus. Perangkat tersebut mengungkap kalau daerah cincin 'D' adalah daerah dimana hujan paling besar sering terjadi.
"Banyaknya jumlah hujan yang berlangsung di wilayah D menandakan kalau itu memegang peran besar pada karakteristik atmosfer Saturnus," lanjutnya.
Namun, sesaat sebelum Cassini mengakhiri misinya dengan menghancurkan diri, pesawat milik NASA tersebut mengabadikan sejumlah foto yang pada akhirnya dikirim ke Bumi. Beberapa foto tersebut diantaranya adalah foto yang menampilkan bayangan aneh di balik cincin planet.
Bayangan diambil saat Cassini melewati lapisan ionosfer Saturnus dari ketinggian antara 2.600-4.000 kilometer (sekitar 1.615-2.485 mil).
Foto memperlihatkan bayangan seolah keluar dari cincin akibat radiasi sinar ultraviolet Matahari yang mengurangi ionisasi di wilayah cincin.
Menurut penelitian ilmuwan dari Swedish Institute of Space Physics dan NASA Goddard Space Flight Center, ionisasi yang berkurang di wilayah cincin tersebut juga mengakibatkan penurunan plasma.
Diungkap, Saturnus memiliki keempat bagian cincin: A, B, C, dan D. Cincin A dan cincin B justru berpotensi terkena radiasi ultraviolet.
Karena itu, bagian cincin yang terkena radiasi ini menghasilkan bayangan aneh yang tertangkap Cassini. Sementara bagian cincin lainnya, C dan D, tidak terkena dampak dari radiasi ultraviolet.
"Ketebalan lapisan elektron di ionosfer Saturnus berubah drastis dari satu orbit ke lainnya. Variasi mengakibatkan efek elektron yang bergesek di bagian cincin planet," ujar peneliti William Kurth.
Label:
Cassini,
Misi Dan Reset,
Planet,
Saturnus
Foto Satelit Yang Dirilis NASA Saat Gempa dan Tsunami Palu Mengejutkan Para Ilmuwan Dunia
![]() |
| Foto yang diabadikan oleh satelit NASA, Landsat 8, terkait gambaran sebelum dan sesudah tsunami Palu. (Source: NASA) |
Masih hangat pikiran kita tentang gempa yang terjadi di lombok beberapa waktu lalu, namun gempa terjadi kembali di wilayah Pulau Sulawesi pada 28 September 2018 dengan kekuatan magnitudo 7,7 yang menyebabkan kerusakan parah pada pantai utara pulau Sulawesi. Hampir seluruh rumah yang berada disana rata dengan tanah karena dampak dari serangkaian gelombang tsunami yang menghancurkan garis pantai.
Aliran lumpur dan tanah yang muncul di beberapa titik pinggiran kota yang dihuni oleh (kurang lebih) 300.000 orang pun tidak luput terkena dampak tersebut.
OLI (Operational Land Imager) milik Landsat 8 (satelit observasi Bumi buatan Amerika yang dibangun oleh NASA dan Survei Geologi Amerika Serikat) menangkap gambar warna alam Palu pada 2 Oktober 2018.
Gambar tersebut memperlihatkan perbedaan lanskap Palu sebelum dan sesudah terjadinya gempa dan tsunami. Gambar dengan warna semu membuat Landsat 8 dengan mudah untuk membedakan antara daerah perkotaan (ungu-kelabu), vegetasi (hijau) dan area tanah (cokelat dan sawo matang).
Saat melihat pesisir yang mengalami kerusakan berat karena tsunami, gambar yang diabadikan satelit NASA juga mengungkapkan tiga aliran lumpur besar yang menyebabkan kerusakan parah di daerah padat penduduk.
![]() |
| Foto yang diabadikan oleh satelit NASA, Landsat 8, terkait tsunami Palu pada 23 September 2018. Source: NASA) |
![]() |
| Foto yang diabadikan oleh satelit NASA, Landsat 8, terkait tsunami Palu pada 2 Oktober 2018. (Source: NASA) |
Beberapa ilmuwan NASA menduga bahwa tanah longsor yang terjadi di bawah laut, terguncang akibat gempa sehingga memberikan energi yang memicu tsunami. Selain itu, bentuk Teluk Palu yang sempit dan menyerupai jari tampaknya memperbesar gelombang air laut yang bergerak cepat dan membuatnya lebih berbahaya.
Kehidupan Alien Bisa Ditemukan di Planet Dengan Jumlah Air Besar?
Kata Alien memang memiliki makna tersendiri bagi pendengarnya. Semua orang pasti ingin tahu apakah alien itu nyata atau tidak atau apakah memang ada kehidupan lain di luar angkasa sana? Sampai sekarang masih belum ada satupun fakta alien itu ada, hanya opini-opini natizen saja.
Sebuah riset terbaru pun mengatakan jika kehidupan alien bisa saja ditemuka pada planet air yang punya karakteristik yang benar-benar berbeda dengan Bumi.
Sekelompok peneliti dari University of Chicago, AS dan Pennsylvania State, mengkalim jika karbon unik yang tercipta di planet air atau planet dengan jumlah air terbesar bisa menopang kehidupan untuk periode yang lebih lama dari dugaan awal. Hal ini mendorong pencarian kehidupan makhluk selain manusia.
Sebuah model komputer yang diciptakan para peneliti menunjukkan planet air memiliki cukup karbon untuk memberikan kehidupan dan tidak terlalu banyak mengandung bahan mineral serta elemen-elemen lain.
Para peneliti yakin planet ini tidak bisa mengulang siklus karbon dan mineral yang membangun kehidupan di planet Bumi dan membuatnya bisa menjadi tempat hidup manusia.
Dalam jurnal yang dipublikasikan oleh Astrophysical Journal, ditemukan planet air yang bisa bertahan di satu zona yang bisa ditinggali lebih lama dari yang diprediksi.
Dikutip dari Mirror, Edwin Kite, Asisten Profesor di University of Chicago mengatakan bahwa hal ini mendorong kembali ide tentang manusia yang membutuhkan kloning Bumi, yakni sebuah planet dengan sedikit daratan dan lautan dangkal.
Menurutnya, kehidupan membutuhkan periode tambahan untuk berevolusi sehingga para peneliti seringkali melihat planet-planet yang memiliki banyak air bisa menjaga kondisi iklimnya stabil dari waktu ke waktu.
Tapi, model ini tidak bekerja di 'dunia air', dengan laut dalam yang menutupi bebatuan serta menyembunyikan gunung berapi.
"Yang mengejutkan adalah banyak planet itu yang tetap stabil selama lebih dari miliaran tahun, hanya karena keberuntungan," papar Kite.
"Berapa lama waktu yang dimiliki sebuah planet pada dasarnya bergantung pada karbon dioksida dan bagaimana itu terbagi antara lautan, atmosfer, dan bebatuan pada tahun-tahun awalnya," lanjutnya.
Hal inilah yang kemudian membuat peneliti beranggapan jika alien bisa saja hidup di planet-planet air tersebut. Namun, belum pernah ada bukti sahih sampai sekarang yang membuktikan jika alien itu benar-benar ada.
NASA Menemukan Media yang Hebat dari Lubang Hitam
Para ilmuwan telah mengambil langkah besar dalam pemburuan mereka untuk lubang hitam yang tidak terlalu kecil atau terlalu besar. Menemukan lubang hitam antara-massa yang sulit dipahami ini dapat membantu para astronom lebih memahami lubang hitam terbesar di alam semesta awal.
Penelitian baru ini berasal dari dua studi terpisah, masing-masing menggunakan data dari NASA Chandra X-Ray Observatory dan teleskop lainnya.
Lubang hitam yang mengandung antara sekitar seratus dan beberapa ratus ribu kali masa Matahari disebut "Lubang hitam perantara", atau IMBHs. Ini karena massa mereka menempatkan mereka di antara lubang hitam yang terdokumentasi dengan baik dan sering diteliti pada salah satu ujung skala massa dan "lubang hitam supermasif" yang ditemukan di daerah pusat galaksi masif di sisi lain.
Sementara beberapa IMBHs yang menarik telah dilaporkan dalam beberapa tahun terakhir, para astronom masih mencoba untuk menentukan seberapa umum mereka dan apa yang mereka ajarkan kepada kita tentang pembentukan lubang hitam supermasif pertama.
Satu tim peneliti yaitu Chandra COSMOS-Legacy Survey dimana tim tersebut dibentuk untuk mempelajari galaksi kerdi, yang mengandung kurang dari satu persen jumlah massa di bintang seperti Bima Sakti kita. (COSMOS adalah singkatan dari Cosmic Evolution Survey). Karakterisasi galaksi ini diaktifkan oleh dataset yang tersedia untuk bidang COSMOS pada panjang gelombang yang berbeda, termasuk data dari NASA dan ESA teleskop.
Data Chandra sangan penting untuk pencarian ini karena sumber sinar X-ray yang terang dan dekat dengan titip pusat galaksi adalah tanda yang menunjukkan adanya lubang hitam. Sinar-X dihasilkan oleh gas yang dipanaskan hingga jutaan derajat oleh gaya gravitasi dan magnet yang sangat besar di dekat lubang hitam.
"Kami mungkin telah menemukan bahwa galaksi kerdil merupakan surga bagi lubang hitam kelas menegah yang hilang ini," kata Mar Mezcua dari Institut Ilmu Luar Angkasa di Spanyol yang memimpin salah satu penelitian. "Kami tidak menemukan "beberapa IMBH-kami mungkin telah menemukan lusinan".
Timnya mengidentifikasi empat puluh lubang hitam yang tumbuh di galaksi kerdil. Dua belas dari mereka berada pada jarak lebih dari lima miliar tahun cahaya dari Bumi dan yang paling jauh berjarak 10,9 miliar tahun cahaya, lubang hitam paling jauh yang tumbuh di galaksi kerdi yang pernah terlihat. Salah satu galaksi kerdi ini adalah yan gpaling kecil yang ditemukan untuk menampun glubang hitam yang tumbuh di tengahnya.
Sebagian besar sumber-sumber ini mungkin IMBHs dengan massa yang sekitar sepuluh ribu hingga seratus ribu kali dari Matahari. Salah satu hasil penting dari penelitian ini adalah bahwa fraksi galaksi yang mengandung lubang hitam yang tumbuh lebih kecil untuk galaksi yang lebih kecil daripada untuk rekan-rekan mereka yang lebih besar.
Tim kedua yang dipimpin oleh Igor Chilingarian dari Harvard-Smithsonian Centre for Astrophysics (CfA) di Cambridge, Mass., Menemukan sampel penting yang terpisah dari IMBHs yang mungkin dalam galaksi yang lebih dekat dengan kita. Dalam sampel mereka, kandidat IMBH yang paling jauh adalah sekitar 2,8 miliar tahun cahaya dari Bumi dan sekitar 90% dari kandidat IMBH yang mereka temukan tidak lebih dari 1,3 miliar tahun cahaya jauhnya.
Dengan data dari Sloan Digital Sky Survey (SDSS), Chilingarian dan koleganya menemukan galaksi dengan tanda tangan cahaya optik dari lubang hitam yang tumbuh dan kemudian memperkirakan massa mereka. Mereka memilih 305 galaksi dengan sifat-sifat yang menyarankan lubang hitam dengan massa kurang dari 300.000 kali Matahari yang bersembunyi di daerah pusat masing-masing galaksi ini.
Hanya 18 anggota dari daftar ini berisi pengamatan X-ray berkualitas tinggi yang memungkinkan konfirmasi bahwa sumbernya adalah lubang hitam. Deteksi dengan Chandra dan dengan XMM-Newton diperoleh untuk sepuluh sumber, menunjukkan bahwa sekitar setengah dari 305 kandidat IMBH cenderung menjadi IMBHs yang valid. Massa untuk sepuluh sumber yang terdeteksi dengan pengamatan X-ray ditentukan antara 40.000 dan 300.000 kali massa Matahari.
"Ini adalah contoh lubang hitam massal menengah terbesar yang pernah ditemukan," kata Chilingarian. "Karunia lubang hitam ini dapat digunakan untuk mengatasi salah satu misteri terbesar dalam astrofisika."
IMBHs mungkin dapat menjelaskan bagaimana lubang hitam yang sangat besar, yang sangat supermasif, dapat terbentuk begitu cepat setelah Big Bang. Satu penjelasan utama adalah bahwa lubang hitam supermasif tumbuh dari waktu ke waktu dari lubang-lubang hitam kecil yang mengandung sekitar seratus kali massa Matahari. Sebagian dari benih ini harus bergabung untuk membentuk IMBHs. Penjelasan lain adalah bahwa mereka terbentuk sangat cepat dari runtuhnya awan gas raksasa dengan massa yang sama dengan ratusan ribu kali dari Matahari.
Mezcua dan timnya mungkin melihat bukti yang mendukung ide keruntuhan langsung, karena teori ini memprediksi bahwa galaksi yang kurang masif dalam sampel mereka harus lebih kecil kemungkinannya mengandung IMBHs.
"Bukti kami hanya tidak langsung karena mungkin bahwa IMBHs sama umumnya dalam galaksi yang lebih kecil tetapi mereka tidak mengkonsumsi cukup materi untuk dideteksi sebagai sumber-sumber X-ray", kata rekan penulis Mezcua, Francesca Civano dari CfA.
Tim Chilingarian memiliki kesimpulan yang berbeda.
"Kami berpendapat bahwa hanya kehadiran lubang hitam massa menengah dalam kisaran massa yang kami deteksi menunjukkan bahwa lubang hitam yang lebih kecil dengan massa sekitar seratus Suns ada," kata co-penulis Chilingarian, Ivan Yu. Katkov dari Moscow State University di Rusia. "Lubang hitam yang lebih kecil ini bisa menjadi bibit untuk pembentukan lubang hitam supermasif."
Kemungkinan lain adalah kedua mekanisme itu benar-benar terjadi. Kedua tim setuju bahwa untuk membuat kesimpulan yang kuat, diperlukan sampel lubang hitam yang jauh lebih besar dengan menggunakan data dari satelit masa depan. Makalah oleh Mar Mezcua dan rekannya diterbitkan dalam terbitan Agustus Pemberitahuan Bulanan Royal Astronomical Society dan tersedia online . Makalah oleh Igor Chilingarian baru-baru ini diterima untuk publikasi di The Astrophysical Journal dan tersedia online .
![]() |
| The COSMOS Legacy Survey menunjukkan data yang telah memberikan bukti keberadaan black hole menengah (IMBHs). (sumber: nasa.gov) |
Penelitian baru ini berasal dari dua studi terpisah, masing-masing menggunakan data dari NASA Chandra X-Ray Observatory dan teleskop lainnya.
Lubang hitam yang mengandung antara sekitar seratus dan beberapa ratus ribu kali masa Matahari disebut "Lubang hitam perantara", atau IMBHs. Ini karena massa mereka menempatkan mereka di antara lubang hitam yang terdokumentasi dengan baik dan sering diteliti pada salah satu ujung skala massa dan "lubang hitam supermasif" yang ditemukan di daerah pusat galaksi masif di sisi lain.
Sementara beberapa IMBHs yang menarik telah dilaporkan dalam beberapa tahun terakhir, para astronom masih mencoba untuk menentukan seberapa umum mereka dan apa yang mereka ajarkan kepada kita tentang pembentukan lubang hitam supermasif pertama.
Satu tim peneliti yaitu Chandra COSMOS-Legacy Survey dimana tim tersebut dibentuk untuk mempelajari galaksi kerdi, yang mengandung kurang dari satu persen jumlah massa di bintang seperti Bima Sakti kita. (COSMOS adalah singkatan dari Cosmic Evolution Survey). Karakterisasi galaksi ini diaktifkan oleh dataset yang tersedia untuk bidang COSMOS pada panjang gelombang yang berbeda, termasuk data dari NASA dan ESA teleskop.
Data Chandra sangan penting untuk pencarian ini karena sumber sinar X-ray yang terang dan dekat dengan titip pusat galaksi adalah tanda yang menunjukkan adanya lubang hitam. Sinar-X dihasilkan oleh gas yang dipanaskan hingga jutaan derajat oleh gaya gravitasi dan magnet yang sangat besar di dekat lubang hitam.
"Kami mungkin telah menemukan bahwa galaksi kerdil merupakan surga bagi lubang hitam kelas menegah yang hilang ini," kata Mar Mezcua dari Institut Ilmu Luar Angkasa di Spanyol yang memimpin salah satu penelitian. "Kami tidak menemukan "beberapa IMBH-kami mungkin telah menemukan lusinan".
Timnya mengidentifikasi empat puluh lubang hitam yang tumbuh di galaksi kerdil. Dua belas dari mereka berada pada jarak lebih dari lima miliar tahun cahaya dari Bumi dan yang paling jauh berjarak 10,9 miliar tahun cahaya, lubang hitam paling jauh yang tumbuh di galaksi kerdi yang pernah terlihat. Salah satu galaksi kerdi ini adalah yan gpaling kecil yang ditemukan untuk menampun glubang hitam yang tumbuh di tengahnya.
Sebagian besar sumber-sumber ini mungkin IMBHs dengan massa yang sekitar sepuluh ribu hingga seratus ribu kali dari Matahari. Salah satu hasil penting dari penelitian ini adalah bahwa fraksi galaksi yang mengandung lubang hitam yang tumbuh lebih kecil untuk galaksi yang lebih kecil daripada untuk rekan-rekan mereka yang lebih besar.
Tim kedua yang dipimpin oleh Igor Chilingarian dari Harvard-Smithsonian Centre for Astrophysics (CfA) di Cambridge, Mass., Menemukan sampel penting yang terpisah dari IMBHs yang mungkin dalam galaksi yang lebih dekat dengan kita. Dalam sampel mereka, kandidat IMBH yang paling jauh adalah sekitar 2,8 miliar tahun cahaya dari Bumi dan sekitar 90% dari kandidat IMBH yang mereka temukan tidak lebih dari 1,3 miliar tahun cahaya jauhnya.
Dengan data dari Sloan Digital Sky Survey (SDSS), Chilingarian dan koleganya menemukan galaksi dengan tanda tangan cahaya optik dari lubang hitam yang tumbuh dan kemudian memperkirakan massa mereka. Mereka memilih 305 galaksi dengan sifat-sifat yang menyarankan lubang hitam dengan massa kurang dari 300.000 kali Matahari yang bersembunyi di daerah pusat masing-masing galaksi ini.
Hanya 18 anggota dari daftar ini berisi pengamatan X-ray berkualitas tinggi yang memungkinkan konfirmasi bahwa sumbernya adalah lubang hitam. Deteksi dengan Chandra dan dengan XMM-Newton diperoleh untuk sepuluh sumber, menunjukkan bahwa sekitar setengah dari 305 kandidat IMBH cenderung menjadi IMBHs yang valid. Massa untuk sepuluh sumber yang terdeteksi dengan pengamatan X-ray ditentukan antara 40.000 dan 300.000 kali massa Matahari.
"Ini adalah contoh lubang hitam massal menengah terbesar yang pernah ditemukan," kata Chilingarian. "Karunia lubang hitam ini dapat digunakan untuk mengatasi salah satu misteri terbesar dalam astrofisika."
IMBHs mungkin dapat menjelaskan bagaimana lubang hitam yang sangat besar, yang sangat supermasif, dapat terbentuk begitu cepat setelah Big Bang. Satu penjelasan utama adalah bahwa lubang hitam supermasif tumbuh dari waktu ke waktu dari lubang-lubang hitam kecil yang mengandung sekitar seratus kali massa Matahari. Sebagian dari benih ini harus bergabung untuk membentuk IMBHs. Penjelasan lain adalah bahwa mereka terbentuk sangat cepat dari runtuhnya awan gas raksasa dengan massa yang sama dengan ratusan ribu kali dari Matahari.
Mezcua dan timnya mungkin melihat bukti yang mendukung ide keruntuhan langsung, karena teori ini memprediksi bahwa galaksi yang kurang masif dalam sampel mereka harus lebih kecil kemungkinannya mengandung IMBHs.
"Bukti kami hanya tidak langsung karena mungkin bahwa IMBHs sama umumnya dalam galaksi yang lebih kecil tetapi mereka tidak mengkonsumsi cukup materi untuk dideteksi sebagai sumber-sumber X-ray", kata rekan penulis Mezcua, Francesca Civano dari CfA.
Tim Chilingarian memiliki kesimpulan yang berbeda.
"Kami berpendapat bahwa hanya kehadiran lubang hitam massa menengah dalam kisaran massa yang kami deteksi menunjukkan bahwa lubang hitam yang lebih kecil dengan massa sekitar seratus Suns ada," kata co-penulis Chilingarian, Ivan Yu. Katkov dari Moscow State University di Rusia. "Lubang hitam yang lebih kecil ini bisa menjadi bibit untuk pembentukan lubang hitam supermasif."
Kemungkinan lain adalah kedua mekanisme itu benar-benar terjadi. Kedua tim setuju bahwa untuk membuat kesimpulan yang kuat, diperlukan sampel lubang hitam yang jauh lebih besar dengan menggunakan data dari satelit masa depan. Makalah oleh Mar Mezcua dan rekannya diterbitkan dalam terbitan Agustus Pemberitahuan Bulanan Royal Astronomical Society dan tersedia online . Makalah oleh Igor Chilingarian baru-baru ini diterima untuk publikasi di The Astrophysical Journal dan tersedia online .
Label:
Lubang Hitam,
Misi Dan Reset,
NASA,
Teleskop
Apakah Koloni Akan Terwujud? NASA Sedang Rancang Kota di Luar Angkasa
Apakah Kamu pernah menonton serial kartun jepang Gundam? Kalau pernah, berarti Kamu mengetahui apa itu koloni. Koloni merupakan Kota/Negara buatan manusia yang berada di luar angkasa. Seperti Kota/Negara impian yang mengapung di luar angkasa, ternyata NASA sedang rancang kota tersebut.
Seperti yang kita ketahui, hidup di luar angkasa mungkin mustahil, namun asumsi tersebut bisa saja keliru. Pasalnya, NASA sudah meramalkan kalau manusia di masa depan bisa saja akan tinggal di luar angkasa.
Ahli fisikawan dari Princeton University, NASA Ames Research Center, dan Stanford University, merancang ilustrasi soal bagaimana manusia bisa tinggal di ruang hampa udara.
Seperti dikutip dari Business Insider, Rabu (1/8/2018), NASA sudah membuat ilustrasi bahwa manusia kelak akan hidup di sebuah pesawat luar angkasa raksasa, yang berisikan sebuah hunian berbentuk kota dengan konsep futuristik.
Pesawat ini rencananya akan diterbangkan ke luar angkasa bilamana Bumi akan mengalami kiamat. Berikut adalah rangkaian ilustrasi kota masa depan besutan NASA.
Pada era tersebut, ilmuwan berencana untuk bisa membawa umat manusia dalam koloni ke pesawat raksasa ini pada 2060. Mereka merancang tiga jenis pesawat raksasa yang akan mengorbit Matahari.
Pesawat berbentuk donat ini diperkirakan bisa menampung 10.000 orang.
Di dalam pesawat nantinya akan ada hunian seperti kota, yang diisi oleh taman, jalan besar, kota, hingga sungai.
Tidak cuma itu, akan ada juga sekto pertanian dan peternakan khusus di dalam pesawat tersebut.
Pesawat ini diklaim akan memiliki tenaga surya yang mampu menciptakan energi bersih untuk produksi oksigen, air, serta pepohonan.
![]() |
| Ilustrasi kota masa depan yang dirancang NASA pada era 1970-an. (Foto: NASA) |
Ahli fisikawan dari Princeton University, NASA Ames Research Center, dan Stanford University, merancang ilustrasi soal bagaimana manusia bisa tinggal di ruang hampa udara.
Seperti dikutip dari Business Insider, Rabu (1/8/2018), NASA sudah membuat ilustrasi bahwa manusia kelak akan hidup di sebuah pesawat luar angkasa raksasa, yang berisikan sebuah hunian berbentuk kota dengan konsep futuristik.
![]() |
| Ilustrasi kota masa depan yang dirancang NASA pada era 1970-an. (Foto: NASA) |
Pada era tersebut, ilmuwan berencana untuk bisa membawa umat manusia dalam koloni ke pesawat raksasa ini pada 2060. Mereka merancang tiga jenis pesawat raksasa yang akan mengorbit Matahari.
Pesawat berbentuk donat ini diperkirakan bisa menampung 10.000 orang.
![]() |
| Ilustrasi kota masa depan yang dirancang NASA pada era 1970-an. (Foto: NASA) |
![]() |
| Ilustrasi kota masa depan yang dirancang NASA pada era 1970-an. (Foto: NASA) |
![]() |
| Ilustrasi kota masa depan yang dirancang NASA pada era 1970-an. (Foto: NASA) |
Tidak cuma itu, akan ada juga sekto pertanian dan peternakan khusus di dalam pesawat tersebut.
![]() |
| Ilustrasi kota masa depan yang dirancang NASA pada era 1970-an. (Foto: NASA) |
![]() |
| Ilustrasi kota masa depan yang dirancang NASA pada era 1970-an. (Foto: NASA) |
Subscribe to:
Posts (Atom)
















