Pecinta Aurora Memperkenalkan Aurora Cantik Yang Belum Pernah Terlihat

Steve Aurora, Aurora Cantik Yang Belum Pernah Terlihat. (source: NASA)

Para pecinta aurora yang berkumpul dalam sebuah Grup Facebook "Alberta Aurora Chasers" berhasil mendokumentasikan aurora baru yang belum pernah dilihat sebelumnya di langit Kanada.

Yang membedakan Aurora ini dengan yang lainnya adalah bentuk dan warnanya.

Jika yang kamu tahu Aurora berbentuk tirai tipis dengan warna merah, hijau, ataupun kuning, Aurora ini ditemukan berbentuk seperti pita dengan warna ungu yang berkilauan pendek atau kadang dikombinasikan dengan sedikit warna hijau yang tampak seperti pagar.

Foto dokumentasi Aurora baru ini diserahkan kepada Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA), mereka menyebutnya dengan nama Steve.

Steve sendiri merupakan singkatan dari Strong Thermal Emission Velocity Enhancement.

MacDonald yang memimpin pengamatan lebih lanjut tentang Aurora Steve ini berkata ada teori fisika yang berbeda di balik aurora tersebut.

MacDonald serta timnya melakukan pengamatan dengan menggunakan salah satu satelit Swarm milik ESA (European Space Agency).

Dalam temuannya yang dipublikasikan di dalam jurnal Science Advances, menunjukan bahwa Steve merupakan manifestasi partikel yang dipercepat dan dipanaskan akibat interaksi matahari dengan bagian medan magnet di ionosfer (atau bagian atmosfer yang terionisasi oleh radiasi matahari).

Aurora Steve ini bisa bertahan selama 20 menit atau sampai satu jam. Steve juga dimungkinkan hanya muncul pada musim-musim tertentu, karena ia tidak muncul pada Oktober 2016 sampai Februari 2017 dan juga dari Oktover 2017 sampai Februari 2018.

Fenomena Hari Tanpa Bayangan Kemarin Membungkam Gagasan Bumi Datar


Fenomena hari tanpa bayangan kemarin, menurut Thomas Djamaluddin, Kepala LAPAN (Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional), bisa menjadi edukasi publik tentang dampak kemiringan sumbu rotasi Bumi terhadap bidang orbit Bumi. Ia Menjelaskan bagaimana kemungkinan fenomena Hari tanpa bayangan bisa membungkam gagasan Bumi Datar.

Profesor astronomi dan astro fisika itu mengatakan, kemiringan sumbu rotasi Bumi menyebabkan Matahari tampak berubah posisi dari selatan ke utara dan kembali lagi keselatan. Ia menjelaskan bahwa ketika posisi matahari di langit yang sama dengan lintang tempat suatu kota, pada tengah hari Matahari tepat berada di atas kepala, sehingga benda tegak bayangannya jatuh di dasar benda tersebut. Bayangan pun tidak akan tampak.

Dampak dari pergeseran periodik Matahari itu menyebabkan perubahan pemanasan Bumi sehingga terjadi perubahan musim. Tandanya perubahan suhu di daerah lintang tinggi dan perubahan arah angin serta daerah pembentukan awan. "Perubahan tersebut menyebabkan perubahan musim di Indonesia dengan adanya musim hujan dan kemarau".

Hari tanpa bayangan tidak hanya terjadi di Pontianak atau kota-kota yang dilewati garis ekuator saja, melainkan dapat terjadi di kota-kota yang berada antara 23,4 Lintang selatan dan 23,4 Lintang utara.

Pesawat Juno Ungkap Sekumpulan Siklon Raksasa Di Planet Jupiter

Citra komposit ini, yang berasal dari data yang dikumpulkan oleh instrumen Jovon Infrared Auroral Mapper (JIRAM) di kapal misi Juno NASA ke Jupiter, menunjukkan siklon pusat di kutub utara planet dan delapan siklon yang mengelilinginya. (Kredit: NASA / JPL-Caltech / Swri / ASI / INAF / JIRAM)

Jupiter merupakan planet terbesar di tata surya kita dengan penampilan yang ikonik dengan bintik merah besar di planet tersebut. Namun, tau kah kamu, ternyata warna kutub pada planet ini menjadi biru tua dan ditandai oleh banyak siklon yang kini sedang di amati oleh para ilmuwan.

Pesawat ruang angkasa Juno yang mempunyai misi untuk mengamati planet tersebut memperlihatkan kutub gas raksasa dengan jelas dan menunjukan bahwa terdapat putaran gelombang besar dalam konfigurasi geometris, serta beberapa badai mengelilingi spiral pusat. Pada bagian utara, badai ini berbentuk segi delapan. Pada bagian selatan, mereka membentuk pentagon.

Gambar yang dihasilkan komputer ini didasarkan pada gambar inframerah wilayah kutub utara Jupiter yang diakuisisi pada tanggal 2 Februari 2017, oleh instrumen Jovon Infrared Auroral Mapper (JIRAM) di atas kapal Juno selama kunjungan keempat pesawat ruang angkasa tersebut di atas Jupiter. (Kredit: NASA / JPL-Caltech / Swri / ASI / INAF / JIRAM)

Seperti yang kita ketahui, Juno sudah mengorbit planet Jupiter sejak Juli 2016. Pesawat tersebut memberikan gambaran planet ini yang terlihat terang dan bercahaya. Yang mana ini memungkinkan para ilmuwan untuk mengukur ukuran dan suhu spiral yang dimana ukuran spiral tersebut sebesar Amerika Serikat.

Dalam setiap kelompok, siklon cenderung melayang atau bermigrasi, tetapi tidak pernah hilang (setidaknya sejak Juno mengamati) dan pengelompokan poligonal tidak seperti hal lain yang pernah ada di planet lain di tata surya. Saturnus, raksasa gas di sebelah Jupiter, membentuk heksagonal di kutub utara—tetapi geometri itu adalah hasil dari badai tunggal. Sekarang, para ilmuwan mencoba untuk mencari tahu bagaimana poligon Jovian terbentuk dan dipertahankan.

Gambar yang dihasilkan komputer ini menunjukkan struktur pola siklon yang diamati di kutub selatan Jupiter. Seperti di Utara, kutub selatan Jupiter juga mengandung topan sentral, namun dikelilingi oleh lima siklon dengan diameter berdiameter 3.500 sampai 4.300 mil (5.600 sampai 7.000 kilometer). (Kredit: NASA / JPL-Caltech / Swri / ASI / INAF / JIRAM)

"Saya pikir kita berharap untuk melihat apa yang kita lihat di Saturnus, di mana Anda memiliki satu segi enam besar, atau sesuatu yang sedikit lebih seperti itu," kata Fran Bagenal dari University of Colorado, Boulder.

Bukti Kehidupan Alien di Planet Mars Ditutupi Oleh NASA

Sorang peneliti mengungkapkan pernyataan yang mengejutkan, Barry DiGregorio, seorang peneliti Buckingham University mengatakan bahwa bukti kehidupan di planet mars telah ditutupi dan disembunyikan oleh NASA.

Curiosity menemukan dugaan jejak fosil di Planet Mars. (Source: NASA)

Seperti yang kita ketahui, Curiosity atau robot penjelajah yang seukuran dengan mobil yang dirancang untuk menjelajahi kawah Gale di planet mars ini, konon telah menemukan jejak fosil yang diciptakan oleh makhluk bertubuh lunak di Planet Merah.

Peneliti yang kontroversial itu mengklaim bahwa ia mengetahui adanya sebuah laporan yang mengungkapkan bagaimana NASA mengetahui temuan tersebut dan memilih untuk tidak berbicara kepada publik.

Tapi pihak NASA menyebutkan bahwa gambar yang tertangkap kamera robot luar angkasa tersebut hanyalah kristal batu yang saat ini sedang mereka analisis.

Curiosity menemukan dugaan jejak fosil di Planet Mars. (Source: NASA)

DiGregorio menunjukkan pola serupa dengan jejak fosil dari periode waktu geologis, Ordovisium (Ordovician), yang telah ia abadikan di bumi.

Ordovisium adalah suatu periode dan sistem geologis pada Era Paleozoikum. Ordovisium berlangsung antara 1,2 juta tahun dari akhir Periode Kambrium 485,4 juta tahun lalu, sampai awal Periode Silurus 443,8 juta tahun lalu.

Ia menjelaskan bahwa jejak fosil bukanlah sisa-sisa makhluk hidup itu ssendiri, melainkan peninggalan yang terjadi atau terbentuk karena aktivitas makhluk tersebut, seperti jejak kaki, galian lubang dan benda-benda yang sudah tidak digunakan.

Dikutip dari Daily Express, DiGregorio mengatakan "Jika tidak melacak jejak fosil, apa penjelasan geologis lainnya yang akan diajukan NASA? Mereka berpura-pura tidak tahu, sementara markas besar menyuruh untuk memindahkan robot itu ke titik berikutnya."

"Jejak fosil tersebut dinilai tak cukup penting untuk ditindaklanjuti. Saya pikir itu aneh, terlepas dari fakta bahwa Kawah Gale adalah sumber utama informasi bagi serangkaian danau yang tercipta di planet Mars selama miliaran tahu" lanjut DiGregorio.

Padahal, menurut DiGregorio, bukti di Planet Mars itu mungkin bisa menguak misteri periode Ordovisium di Bumi.