NASA Siap Luncurkan Teleskop Canggih Terbaru

(Source: Space.com)
TESS atau Transiting Exoplanet Survey Satellite yang merupakan teleskop canggih terbaru yang dibuat nasa siap diluncurkan ke ruang angkasa pada tanggal 16 April 2018.

Teleskop baru tersebut memiliki misi untuk memantau ratusan ribu bintang dan mencari tanda-tanda eksoplanet, mulai dari planet dengan ukuran mirip seperti bumi atau lebih besar, sampai mencari planet yang mengorbit bintang paling terang di angkasa.

Metode yang digunakan TESS adalah metode transit dan mencatat penurunan cahaya yang dihasilkan sebuah planet ketika melintasi bintang induknya dari perspektif pesawat ruang angkasa.

Sebenarnya strategi ini sudah dipakai pada teleskop Kepler milik NASA, namun yang menjadi perbedaannya adalah jarak.

Jika Kepler bertugas menemukan eksoplanet dengan jarak ratusan tahun cahaya dari Bumi, kalau TESS hanya bisa menemukan eksoplanet yang cukup dekat dengan Bumi.

Dengan jarak yang lebih dekat, maka akan memudahkan instrumen lain untuk melakukan penyelidikan mendalam. Tugas ini nantinya akan dikerjakan oleh teleskop raksasa James webb milik NASA yang peluncurannya dijadwalkan 2020.

TESS akan mengorbit Bumi setiap 13,7 hari dengan titik terdekat sekitar tiga kali jarak orbit geosynchronous, tempat sebagian besar satelit komunikasi beroperasi.

TESS akan menghabiskan dua tahun berada di orbit ini. Titik terjauh atau apogee dari bumi sekitar 232.000 mil atau sekitar 373.000 kilometer dari bumi, yang memungkinkan pesawat ruang angkasa untuk mengamati bagian langit tanpa gangguan dari bulan atau bumi. Titik terdekat di orbit atau perigee adalah 67.000 mil atau sekitar 108.000 kilometer.

Selama fase perigee, TESS akan memancarkan kembali informasi yang dikumpulkan dari pengamatan astronomi putaran sebelumnya.

Misi TESS dipimpin oleh George Ricker, astrofisikawan di Massachusetts Institute of Technology. Misi ini dikelola oleh Pusat Penerbangan Luar Angkasa Gooddarn NASA di Greenbelt, Maryland.

Sekitar 100 Ton Sampah Antariksa Jatuh Ke Bumi Setiap Tahunnya


Sudah beberapa minggu ini, masyarakat selalu dikejutkan dengan berita jatuhnya benda buatan manusia yang dikirim ke orbit bumi.

Kemarin Tiangong-1 yang jatuh di Samudra Pasifik Selatan pada hari Senin (2/4/2018), sekarang giliran roket India yang masuk dan terbakar di atmosfer Samudra Atlantik pada Selasa (3/4/2018).

Menurut data dari Solar Dynamic Observatory milik Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) menunjukan bahwa sekitar 100 ton sampah antariksa terbakar di atmosfer setiap tahun.

Sampah tersebut merupakan satelit yang sudah tidak digunakan, wahana antariksa yang tidak terkontrol seperti Tiangong-1, atau bagian dari atas roket.

Kebanyakan yang jatuh ke bumi merupakan potongan kecil dan langsung terbakar ketika melewati atmosfer bumi, sedangkan yang lebih besar bisa mencapai bumi.

Indonesia juga sudah cukup sering kejatuhan sampah antariksa tersebut. Perhitungan Lembaga Penerbangan dan Antariska Nasionan (LAPAN) hingga 27 Januari 2009 menunjukkan bahwa Indonesia sudah 7.780 kali kejatuhan serpihan sampah antariksa yang berukuran di atas 10 sentimeter, 3.388 kali untuk satelit, dan 1.820 kali untuk badan roket.

Untungnya, tanah air kita mayoritas permukannya berupa air, sehingga sampah-sampah ini kebanyakan jatuh di lautan atau tempat terpencil.

Walaupun begitu, kita tidak boleh lengah. Jaringan radar militer negara-negara di dunia, NASA, Badan Antariksa Eropa (ESA), LAPAN, dan agensi pelacak satelit, baik independen maupun tidak, terus mengamati obyek-obyek di orbit bumi. Informasi yang mereka dapatkan kemudian dibagikan untuk memprediksi jadwal kembalinya sampah antariksa ke bumi.

Untuk itu, ESA, NASA, Roscosmos, Cahadian Space Agency, Badan Antariksa Jepang ( JAXA), Organisasi Riset Antariksa India, Agensi Antariksa Nasional China, dan tujuh agensi luar angkasa lainnya bergabung dalam kampanye pelacakan bersama yang diadakan oleh Komite Koordinasi Sampah Antariksa Interagensi.

Tujuan dari kampanye ini adalah untuk menggabungkan informasi pelacakan dari radar masing-masing sehingga dapat dianalisis dan diverifikasi bersama. Harapannya, langkah ini akan meningkatkan akurasi prediksi untuk ke-14 anggota kampanye.

SpaceX Sukses Menerbangkan 10 Satelit Ke Orbit Terendah Bumi


Perusahaan SpaceX telah melakukan peluncuran sekelompok satelit ke orbit bumi. Ada 10 satelit yang dikirimkan ke orbit rendah bumi untuk perusahaan Iridium Communications.

SpaceX juga berharap berada di garis depan dalam industri ruang angkasa pribadi yang sedang berkembang setelah kesuksesan atas pencapaian menerbangkan 10 satelit tersebut.

Meskipun semuanya tidak berjalan mulus, karena terkait dengan bagaimana mendaratkan kerucut hidung yang melindungi muatan roket dalam beaborne yang oleh CEO SpaceX, Elon Musk, disamakan dengan raksasa baja dan penangkap lompatan mitt suprastruktur pada kapal laut berkecepatan tinggi.

Sehari sebelum peluncuran terbaru, Komisi Komunikasi Federal menyetujui usulan Musan untuk membangun jaringan broadband berbasis satelit di mana regulator menyebut lisensi pertama untuk layanan dari generasi baru teknologi satelit orbit rendah Bumi rendah.

Seperti yang sedang menjadi perbincangan publik di Florida, SpaceX meluncurkan roket paling kuat di dunia di depat publik. Peluncuran Falcon Heavy yang sukses menandai tonggak utama lain untuk SpaceX. Roket tersebut mengirimkan boneka Tesla yang menggunakan pakaian luar angkasa putih yan gmelesat di luar atmosfer Bumi.

Sementara itu, Musk sedang mencoba untuk mengukir ruang dominan dalam industri penerbangan ruang angkasa swasta yang sedang muncul, Presiden Amerikat Serikat (AS) Donald Trump telah bersumpah untuk menghidupkan kembali program luar angkasa negeri Paman Sam yang hampir mati.

Pecinta Aurora Memperkenalkan Aurora Cantik Yang Belum Pernah Terlihat

Steve Aurora, Aurora Cantik Yang Belum Pernah Terlihat. (source: NASA)

Para pecinta aurora yang berkumpul dalam sebuah Grup Facebook "Alberta Aurora Chasers" berhasil mendokumentasikan aurora baru yang belum pernah dilihat sebelumnya di langit Kanada.

Yang membedakan Aurora ini dengan yang lainnya adalah bentuk dan warnanya.

Jika yang kamu tahu Aurora berbentuk tirai tipis dengan warna merah, hijau, ataupun kuning, Aurora ini ditemukan berbentuk seperti pita dengan warna ungu yang berkilauan pendek atau kadang dikombinasikan dengan sedikit warna hijau yang tampak seperti pagar.

Foto dokumentasi Aurora baru ini diserahkan kepada Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA), mereka menyebutnya dengan nama Steve.

Steve sendiri merupakan singkatan dari Strong Thermal Emission Velocity Enhancement.

MacDonald yang memimpin pengamatan lebih lanjut tentang Aurora Steve ini berkata ada teori fisika yang berbeda di balik aurora tersebut.

MacDonald serta timnya melakukan pengamatan dengan menggunakan salah satu satelit Swarm milik ESA (European Space Agency).

Dalam temuannya yang dipublikasikan di dalam jurnal Science Advances, menunjukan bahwa Steve merupakan manifestasi partikel yang dipercepat dan dipanaskan akibat interaksi matahari dengan bagian medan magnet di ionosfer (atau bagian atmosfer yang terionisasi oleh radiasi matahari).

Aurora Steve ini bisa bertahan selama 20 menit atau sampai satu jam. Steve juga dimungkinkan hanya muncul pada musim-musim tertentu, karena ia tidak muncul pada Oktober 2016 sampai Februari 2017 dan juga dari Oktover 2017 sampai Februari 2018.

Fenomena Hari Tanpa Bayangan Kemarin Membungkam Gagasan Bumi Datar


Fenomena hari tanpa bayangan kemarin, menurut Thomas Djamaluddin, Kepala LAPAN (Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional), bisa menjadi edukasi publik tentang dampak kemiringan sumbu rotasi Bumi terhadap bidang orbit Bumi. Ia Menjelaskan bagaimana kemungkinan fenomena Hari tanpa bayangan bisa membungkam gagasan Bumi Datar.

Profesor astronomi dan astro fisika itu mengatakan, kemiringan sumbu rotasi Bumi menyebabkan Matahari tampak berubah posisi dari selatan ke utara dan kembali lagi keselatan. Ia menjelaskan bahwa ketika posisi matahari di langit yang sama dengan lintang tempat suatu kota, pada tengah hari Matahari tepat berada di atas kepala, sehingga benda tegak bayangannya jatuh di dasar benda tersebut. Bayangan pun tidak akan tampak.

Dampak dari pergeseran periodik Matahari itu menyebabkan perubahan pemanasan Bumi sehingga terjadi perubahan musim. Tandanya perubahan suhu di daerah lintang tinggi dan perubahan arah angin serta daerah pembentukan awan. "Perubahan tersebut menyebabkan perubahan musim di Indonesia dengan adanya musim hujan dan kemarau".

Hari tanpa bayangan tidak hanya terjadi di Pontianak atau kota-kota yang dilewati garis ekuator saja, melainkan dapat terjadi di kota-kota yang berada antara 23,4 Lintang selatan dan 23,4 Lintang utara.

Pesawat Juno Ungkap Sekumpulan Siklon Raksasa Di Planet Jupiter

Citra komposit ini, yang berasal dari data yang dikumpulkan oleh instrumen Jovon Infrared Auroral Mapper (JIRAM) di kapal misi Juno NASA ke Jupiter, menunjukkan siklon pusat di kutub utara planet dan delapan siklon yang mengelilinginya. (Kredit: NASA / JPL-Caltech / Swri / ASI / INAF / JIRAM)

Jupiter merupakan planet terbesar di tata surya kita dengan penampilan yang ikonik dengan bintik merah besar di planet tersebut. Namun, tau kah kamu, ternyata warna kutub pada planet ini menjadi biru tua dan ditandai oleh banyak siklon yang kini sedang di amati oleh para ilmuwan.

Pesawat ruang angkasa Juno yang mempunyai misi untuk mengamati planet tersebut memperlihatkan kutub gas raksasa dengan jelas dan menunjukan bahwa terdapat putaran gelombang besar dalam konfigurasi geometris, serta beberapa badai mengelilingi spiral pusat. Pada bagian utara, badai ini berbentuk segi delapan. Pada bagian selatan, mereka membentuk pentagon.

Gambar yang dihasilkan komputer ini didasarkan pada gambar inframerah wilayah kutub utara Jupiter yang diakuisisi pada tanggal 2 Februari 2017, oleh instrumen Jovon Infrared Auroral Mapper (JIRAM) di atas kapal Juno selama kunjungan keempat pesawat ruang angkasa tersebut di atas Jupiter. (Kredit: NASA / JPL-Caltech / Swri / ASI / INAF / JIRAM)

Seperti yang kita ketahui, Juno sudah mengorbit planet Jupiter sejak Juli 2016. Pesawat tersebut memberikan gambaran planet ini yang terlihat terang dan bercahaya. Yang mana ini memungkinkan para ilmuwan untuk mengukur ukuran dan suhu spiral yang dimana ukuran spiral tersebut sebesar Amerika Serikat.

Dalam setiap kelompok, siklon cenderung melayang atau bermigrasi, tetapi tidak pernah hilang (setidaknya sejak Juno mengamati) dan pengelompokan poligonal tidak seperti hal lain yang pernah ada di planet lain di tata surya. Saturnus, raksasa gas di sebelah Jupiter, membentuk heksagonal di kutub utara—tetapi geometri itu adalah hasil dari badai tunggal. Sekarang, para ilmuwan mencoba untuk mencari tahu bagaimana poligon Jovian terbentuk dan dipertahankan.

Gambar yang dihasilkan komputer ini menunjukkan struktur pola siklon yang diamati di kutub selatan Jupiter. Seperti di Utara, kutub selatan Jupiter juga mengandung topan sentral, namun dikelilingi oleh lima siklon dengan diameter berdiameter 3.500 sampai 4.300 mil (5.600 sampai 7.000 kilometer). (Kredit: NASA / JPL-Caltech / Swri / ASI / INAF / JIRAM)

"Saya pikir kita berharap untuk melihat apa yang kita lihat di Saturnus, di mana Anda memiliki satu segi enam besar, atau sesuatu yang sedikit lebih seperti itu," kata Fran Bagenal dari University of Colorado, Boulder.

Bukti Kehidupan Alien di Planet Mars Ditutupi Oleh NASA

Sorang peneliti mengungkapkan pernyataan yang mengejutkan, Barry DiGregorio, seorang peneliti Buckingham University mengatakan bahwa bukti kehidupan di planet mars telah ditutupi dan disembunyikan oleh NASA.

Curiosity menemukan dugaan jejak fosil di Planet Mars. (Source: NASA)

Seperti yang kita ketahui, Curiosity atau robot penjelajah yang seukuran dengan mobil yang dirancang untuk menjelajahi kawah Gale di planet mars ini, konon telah menemukan jejak fosil yang diciptakan oleh makhluk bertubuh lunak di Planet Merah.

Peneliti yang kontroversial itu mengklaim bahwa ia mengetahui adanya sebuah laporan yang mengungkapkan bagaimana NASA mengetahui temuan tersebut dan memilih untuk tidak berbicara kepada publik.

Tapi pihak NASA menyebutkan bahwa gambar yang tertangkap kamera robot luar angkasa tersebut hanyalah kristal batu yang saat ini sedang mereka analisis.

Curiosity menemukan dugaan jejak fosil di Planet Mars. (Source: NASA)

DiGregorio menunjukkan pola serupa dengan jejak fosil dari periode waktu geologis, Ordovisium (Ordovician), yang telah ia abadikan di bumi.

Ordovisium adalah suatu periode dan sistem geologis pada Era Paleozoikum. Ordovisium berlangsung antara 1,2 juta tahun dari akhir Periode Kambrium 485,4 juta tahun lalu, sampai awal Periode Silurus 443,8 juta tahun lalu.

Ia menjelaskan bahwa jejak fosil bukanlah sisa-sisa makhluk hidup itu ssendiri, melainkan peninggalan yang terjadi atau terbentuk karena aktivitas makhluk tersebut, seperti jejak kaki, galian lubang dan benda-benda yang sudah tidak digunakan.

Dikutip dari Daily Express, DiGregorio mengatakan "Jika tidak melacak jejak fosil, apa penjelasan geologis lainnya yang akan diajukan NASA? Mereka berpura-pura tidak tahu, sementara markas besar menyuruh untuk memindahkan robot itu ke titik berikutnya."

"Jejak fosil tersebut dinilai tak cukup penting untuk ditindaklanjuti. Saya pikir itu aneh, terlepas dari fakta bahwa Kawah Gale adalah sumber utama informasi bagi serangkaian danau yang tercipta di planet Mars selama miliaran tahu" lanjut DiGregorio.

Padahal, menurut DiGregorio, bukti di Planet Mars itu mungkin bisa menguak misteri periode Ordovisium di Bumi.