NASA Merencanakan Ulang Misi Juno

Selama misi lanjutan, pesawat ruang angkasa Juno akan mempertahankan orbit polar 53 hari di sekitar Jupiter. Juno akan dekat dengan Jupiter dalam jarak 3.000 mil (5.000 kilometer). (Sumber: NASA)

NASA telah menyetujui unuk operasi Juno sampai Juli 2021. Ini menyediakan tambahan 41 bulan di orbit sekitar Jupiter dan akan memungkinkan Juno untuk mencapai tujuan utamanya. Juno berada di orbit 53 hari daripada orbit 14 hari yang direncanakan semula karena kekhawatiran tentang katup pada sistem bahan bakar pesawat ruang angkasa. Orbit yang lebih  panjang ini berarti akan membutuhkan lebih banyak waktu untuk mengumpulkan data sains yang dibutuhkan.

Seorang ahli independen menegaskan pada bulan April bahwa Juno berada di jalur untuk mencapai tujuan sainsnya dan telah mendapatkan hasil yang spektakuler. Pesawat rang angkasa Juno dan semua instrumen beroperasi secara normal.

NASA kini telah mendanai Juno melalui FY 2022. Diharapkan operasi ini berakhir pada Juli 2021.

"Dengan dana ini, tidak hanya tim Juno yang dapat terus menjawab pertanyaan lama tentang Jupiter yang pertama kali memicu misi menarik ini, tetapi mereka juga akan menyelidiki teka-teki ilmiah baru yang termotivasi oleh penemuan mereka sejauh ini." kata Thomas Zurbuchen, Administrator Asosiasi untuk Direktorat Misi Sains NASA di Washington. "Dengan setiap orbit tambahan, baik ilmuwan dan ilmuwan warga akan membantu mengungkap kejutan baru tentang dunia yang jauh ini."

"Ini adalah berita bagus untuk eksplorasi planet serta untuk tim Juno," kata Scott Bolton, peneliti utama Juni, dari Southwest Research Institute di San Antonio. "Rencana terbaru untuk Juno ini akan memungkinkannya untuk menyelesaikan tujuan sains utamanya. Sebagai bonus, orbit yang lebih besar memunginkan kita untuk mengeksplorasi lebih jauh dari magnetosfer Joivian yang didominasi oleh medan magnet Jupiter. Kami juga menemukan lingkungan radiasi Jupiter di orbit ini kurang ekstrim daripada yang diperkirakan, yang bermanfaat tidak hanya bagi pesawat luar angkasa kami, tetapi instrumen dan kualitas yang selanjutnya dari data sains yang dikumpulkan."

Para Ilmuwan Menemukan Bintang Neutron Dengan Medan Magnet Yang Rendah


Para astronom telah menemukan jenis bintang neutron untuk pertama kalinya di luar galaksi Bima Sakti, menggunakan data dari NASA's Chandra X-ray Observatory dan European Southern Observatory's Very Large Telescope (VLT) di Chili.

Bintang neutron adalah bintang ultra padat-bintang masif yang runtuh dan mengalami ledakan supernova. Bintang neutron yang baru diidentifikasi ini adalah jenis langka yang memiliki medan magnet rendah dan tidak ada bintang pendamping.

Bintang neutron terletak di dalam sisa-sisa supernova yang dikenal sebagai 1E 0102.2-7219 (Singkatnya E0102) di Small Megalanic Cloud, yang terletak 200.000 tahun cahaya dari Bumi.

Citra baru dari E0102 memungkinkan para astronom untuk mempelajari detail baru tentang objek ini yang ditemukan lebih dari tiga dekade yang lalu. Dalam gambar ini, sinar-X dari Chandra berwarna biru dan ungu, dan data cahaya yang tampak dari instrumen Multi Unit Spectroscopic Explorer (MUSE) berwarna merah cerah. Data tambahan dari Hubble Space Telescope berwarna merah gelap dan hijau.

Sisa-sisa dari supernova kaya oksigen, seperti E0102. Pentin untuk memahami bagaimana bintang-bintang masif menyatukan unsur-unsur yang lebih ringan menjadi berat sebelum meledak. Terlihat hingga beberapa ribu tahun setelah ledakan awal, sisa-sisa yang kaya oksigen mengandung puing-puing yang dikeluarkan dari interior bintang mati.

Pengamatan Chandra dari E0102 menunjukkan bahwa sisa supernova didominasi oleh struktur berbentuk cincin besar di Sinar-X, terkait dengan gelombang ledakan supernova. Data MUSE baru mengungkapkan cincin gas yang lebih kecil (berwarna merah terang) yang meluas lebih lambat daripada gelombang ledakan. Di pusan cincin ini adalah titik biru seperti sinar-X.

Gabungan data Chandra dan MUSE menunjukkan bahwa Sumber ini adalah bintang neutron yang terisolasi yang dibuat dalam ledakan supernova sekitar dua ribu tahun yang lalu. Tanda energi sinar-X atau "Spektrum," dari sumber ini sangat mirip dengan bintang neutron yang terletak di pusat dua sisa supernova kaya akan oksigen yang terkenal: Cassiopeia A (Cas A) dan Puppis A. Kedua bintang neutron juga tidak memiliki bintang pendamping.

Tetapi bagaimana bintang neutron ini berakhir pada posisinya saat ini? Salah satu kemungkinan adalah ledakan supernova yang terjadi pada bagian tengah, tetapi bintang neutron itu menjauh dari lokasi tersebut, sulit untuk menjelaskan mengapa bintang neutron ini begitu rapi dikelilingi oleh cincin gas yang baru ditemukan yang terlihat pada panjang gelombang optik.

Penjelasan lain yang mungkin adalah bahwa bintang neutron bergerak perlahan dan posisi saat ini kira-kira dimana ledakan supernova terjadi. Dalam hal ini, bahkan dalam cincin optik mungkin telah dikeluarkan baik selama ledakan supernova, atau oleh bintang progenitor yang mati hingga beberapa ribu tahun sebelumnya.

Makalah online ini diterbitkan oleh Nature Astronomy, pada bulan April.

Bagaimana Cara Para Astronot Muslim Sholat dan Puasa di Luar Angkasa?

Pernahkan kita membayangkan bagaimana para astronot sholat atau berpuasa di luar angkasa? Rasanya memang sulit untuk sholat atau berpuasa di ruang hampa udara.

Selain perbedaan waktu yang sangat jauh, berpuasa di luar angkasa sepertinya juga memang tidak mudah.

Tapi, kenyataannya para astronom muslim masih bisa berpuasa dan menjalankan ibadah layaknya orang-orang yang ada di Bumi. Kalau mereka ingin berpuasa, mereka bisa merujuk pada sistem waktu Imsak-Magrib yang ada di Bumi.

Meski begitu, para astronot tersebut bisa dikatakan dengan musafir. Jadi, bisa saja mereka tidak berpuasa di luar angkasa, tetapi harus menggantinya saat mendarat di Bumi.

Apalagi waktu siang dan malam di luar angkasa sangat berbeda dengan di Bumi. Perubahan waktu juga diatur beberapa kali di Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS, International Space Station).

ISS sendiri mengorbit  bumi 14 kali satu hari, siang dan malam, itu setiap 90 menit.

Siapa saja astronot muslim yang pernah menjalankan ibadah shalat dan puasa di statsiun luar angkasa?

Yang pertama ada Sultan bin Salman bin Abdulaziz Al Saud. Beliau adalah pangeran Arab Saudi yang menjadi astronot muslim pertama di luar angkasa.

Pada 17 Juni 1985, pesawat Discovery yang mengankasa dari Kennedy Space Center, Amerika Serikat membawa Sultan ke luar angkasa.

Misi tersebut berlangsung selama 7 hari, 1 jam, 38 menit, dan 52 detik. Sang pangeran menuju ke titik 4,67 juta kilometer dari Bumi ke tempat yang tak pernah diinjak.

Saat melihat Bumi hanya setitik kecil, ia mengalami pengalaman spiritual. "Di sana kita akan menyadari betapa kecilnya manusia. Kita hanyalah setitik debu di alam semesta," kata dia seperti di kutip dari The National.

Sang pangeran mengakui, detik-detik ketika ia mengangkasa buat dirinya berdebar. "Jika seseorang berkata momentum itu tak menakutkan, sudah pasti ia bohong. Aku berdoa setiap saat. Peluncuran dan pendaratan adalah saat-saat mendebarkan."

Sebagai muslim, Sultan adalah manusia pertama yang salat dan melantunkan ayat-ayat suci Alquran dalam kondisi nol gravitasi.

Bagaimana cara ia salat di angkasa luar?

Sultan mengatakan, seorang muslim bisa berdoa kapan saja. "Menghadap ke segala arah. Seperti di pesawat luar angkasa, Anda tahu, kita tidak bisa benar-benar menghadap ke Mekah. Ke kiblat," kata dia seperti dikutip dari situs WBUR.

Namun, tak mudah untuk melakukan gerakan salat. "Saya harus mengikat kaki saya agar bisa sujud. Tapi, itu tak bisa dilakukan dengan sempurna karena kurangnya gravitasi."

Dalam kondisi musafir atau bepergian jauh, seorang muslim mendapat keringanan dalam beribadah.
Lain lagi dengan astronot pertama asal Malaysia, Sheikh Muszaphar Shukor pergi ke luar angkasa 10 Oktober 2007 lalu, menumpang pesawat luar angkasa Rusia, Soyuz.

Perjalanan Shukor ke luar angkasa selama enam hari di Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) bertepatan dengan Bulan Ramadan. Ia seorang muslim taat yang ingin menunaikan kewajiban salatnya tetap menghadap ke kiblat: Kabah di Mekah.

Itu yang menjadi masalah, ISS yang mengorbit 220 mil atau sekitar 354 kilometer di atas permukaan Bumi, di mana kiblat berubah dalah hitungan detik. Arah Kabah bahkan bisa berubah 180 derajat hanya dalam sekali salat.

Lembaga Antariksa Malaysia, Angkasa langsung menggelar sebuah konferensi yang diikuti 150 ilmuwan Islam untuk memecahkan masalah ini.

Hasilnya, panduan beribadah di ISS yang disetujui komisi fatwa Negeri Jiran, kiblat bisa ditentukan berdasarkan "peluang" para astronot. Prioritasnya, dari yang utama adalah: Kabah, proyeksi Kabah, Bumi, menghadap ke manapun.

Jangankan tepat menghadap Kabah, menentukan proyeksinya pun tak semudah yang dibayangkan.

Meski demikian, ibadah Shukor berjalan lancar. Ia bahkan menjadi muslim kesembilan yang membuktikan bahwa berada di angkasa bukan alasan untuk tak melaksanakan ibadah salat, juga puasa Ramadan.

Ia bahkan mengaku mendapatkan pengalaman spiritual. "Setiap orang yang berkesempatan ke luar angkasa akan merasakan sebuah keajaiban. Selama perjalananku yang bertepatan dengan Ramadan, aku seperti mendengar suara azan di Stasiun Luar Angkasa Internasional," kata dia dalam wawancara eksklusif dengan Anadolu Agency (AA).

Dia menjelaskan, astronot lainnya tidak tahu tentang azan. "Tapi aku mendengar panggilan itu secara fisik, nyata. Anda mungkin tak akan terkekut jika mendapat pengalaman seperti saya ketika berada di luar angkasa, saat Anda merasa begitu dekat dengan Allah di setiap detiknya."

Sementara Anousheh Ansari asal Iran menjadi wanita muslim pertama yang terbang ke luar angkasa.

Pada 18 September 2006, beberapa hari setelah ulang tahunnya ke 40, dia terbang ke angkasa. Hebatnya, dia membiayai sendiri perjalanannya itu.

NASA Siap Luncurkan Teleskop Canggih Terbaru

(Source: Space.com)
TESS atau Transiting Exoplanet Survey Satellite yang merupakan teleskop canggih terbaru yang dibuat nasa siap diluncurkan ke ruang angkasa pada tanggal 16 April 2018.

Teleskop baru tersebut memiliki misi untuk memantau ratusan ribu bintang dan mencari tanda-tanda eksoplanet, mulai dari planet dengan ukuran mirip seperti bumi atau lebih besar, sampai mencari planet yang mengorbit bintang paling terang di angkasa.

Metode yang digunakan TESS adalah metode transit dan mencatat penurunan cahaya yang dihasilkan sebuah planet ketika melintasi bintang induknya dari perspektif pesawat ruang angkasa.

Sebenarnya strategi ini sudah dipakai pada teleskop Kepler milik NASA, namun yang menjadi perbedaannya adalah jarak.

Jika Kepler bertugas menemukan eksoplanet dengan jarak ratusan tahun cahaya dari Bumi, kalau TESS hanya bisa menemukan eksoplanet yang cukup dekat dengan Bumi.

Dengan jarak yang lebih dekat, maka akan memudahkan instrumen lain untuk melakukan penyelidikan mendalam. Tugas ini nantinya akan dikerjakan oleh teleskop raksasa James webb milik NASA yang peluncurannya dijadwalkan 2020.

TESS akan mengorbit Bumi setiap 13,7 hari dengan titik terdekat sekitar tiga kali jarak orbit geosynchronous, tempat sebagian besar satelit komunikasi beroperasi.

TESS akan menghabiskan dua tahun berada di orbit ini. Titik terjauh atau apogee dari bumi sekitar 232.000 mil atau sekitar 373.000 kilometer dari bumi, yang memungkinkan pesawat ruang angkasa untuk mengamati bagian langit tanpa gangguan dari bulan atau bumi. Titik terdekat di orbit atau perigee adalah 67.000 mil atau sekitar 108.000 kilometer.

Selama fase perigee, TESS akan memancarkan kembali informasi yang dikumpulkan dari pengamatan astronomi putaran sebelumnya.

Misi TESS dipimpin oleh George Ricker, astrofisikawan di Massachusetts Institute of Technology. Misi ini dikelola oleh Pusat Penerbangan Luar Angkasa Gooddarn NASA di Greenbelt, Maryland.

Sekitar 100 Ton Sampah Antariksa Jatuh Ke Bumi Setiap Tahunnya


Sudah beberapa minggu ini, masyarakat selalu dikejutkan dengan berita jatuhnya benda buatan manusia yang dikirim ke orbit bumi.

Kemarin Tiangong-1 yang jatuh di Samudra Pasifik Selatan pada hari Senin (2/4/2018), sekarang giliran roket India yang masuk dan terbakar di atmosfer Samudra Atlantik pada Selasa (3/4/2018).

Menurut data dari Solar Dynamic Observatory milik Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) menunjukan bahwa sekitar 100 ton sampah antariksa terbakar di atmosfer setiap tahun.

Sampah tersebut merupakan satelit yang sudah tidak digunakan, wahana antariksa yang tidak terkontrol seperti Tiangong-1, atau bagian dari atas roket.

Kebanyakan yang jatuh ke bumi merupakan potongan kecil dan langsung terbakar ketika melewati atmosfer bumi, sedangkan yang lebih besar bisa mencapai bumi.

Indonesia juga sudah cukup sering kejatuhan sampah antariksa tersebut. Perhitungan Lembaga Penerbangan dan Antariska Nasionan (LAPAN) hingga 27 Januari 2009 menunjukkan bahwa Indonesia sudah 7.780 kali kejatuhan serpihan sampah antariksa yang berukuran di atas 10 sentimeter, 3.388 kali untuk satelit, dan 1.820 kali untuk badan roket.

Untungnya, tanah air kita mayoritas permukannya berupa air, sehingga sampah-sampah ini kebanyakan jatuh di lautan atau tempat terpencil.

Walaupun begitu, kita tidak boleh lengah. Jaringan radar militer negara-negara di dunia, NASA, Badan Antariksa Eropa (ESA), LAPAN, dan agensi pelacak satelit, baik independen maupun tidak, terus mengamati obyek-obyek di orbit bumi. Informasi yang mereka dapatkan kemudian dibagikan untuk memprediksi jadwal kembalinya sampah antariksa ke bumi.

Untuk itu, ESA, NASA, Roscosmos, Cahadian Space Agency, Badan Antariksa Jepang ( JAXA), Organisasi Riset Antariksa India, Agensi Antariksa Nasional China, dan tujuh agensi luar angkasa lainnya bergabung dalam kampanye pelacakan bersama yang diadakan oleh Komite Koordinasi Sampah Antariksa Interagensi.

Tujuan dari kampanye ini adalah untuk menggabungkan informasi pelacakan dari radar masing-masing sehingga dapat dianalisis dan diverifikasi bersama. Harapannya, langkah ini akan meningkatkan akurasi prediksi untuk ke-14 anggota kampanye.

SpaceX Sukses Menerbangkan 10 Satelit Ke Orbit Terendah Bumi


Perusahaan SpaceX telah melakukan peluncuran sekelompok satelit ke orbit bumi. Ada 10 satelit yang dikirimkan ke orbit rendah bumi untuk perusahaan Iridium Communications.

SpaceX juga berharap berada di garis depan dalam industri ruang angkasa pribadi yang sedang berkembang setelah kesuksesan atas pencapaian menerbangkan 10 satelit tersebut.

Meskipun semuanya tidak berjalan mulus, karena terkait dengan bagaimana mendaratkan kerucut hidung yang melindungi muatan roket dalam beaborne yang oleh CEO SpaceX, Elon Musk, disamakan dengan raksasa baja dan penangkap lompatan mitt suprastruktur pada kapal laut berkecepatan tinggi.

Sehari sebelum peluncuran terbaru, Komisi Komunikasi Federal menyetujui usulan Musan untuk membangun jaringan broadband berbasis satelit di mana regulator menyebut lisensi pertama untuk layanan dari generasi baru teknologi satelit orbit rendah Bumi rendah.

Seperti yang sedang menjadi perbincangan publik di Florida, SpaceX meluncurkan roket paling kuat di dunia di depat publik. Peluncuran Falcon Heavy yang sukses menandai tonggak utama lain untuk SpaceX. Roket tersebut mengirimkan boneka Tesla yang menggunakan pakaian luar angkasa putih yan gmelesat di luar atmosfer Bumi.

Sementara itu, Musk sedang mencoba untuk mengukir ruang dominan dalam industri penerbangan ruang angkasa swasta yang sedang muncul, Presiden Amerikat Serikat (AS) Donald Trump telah bersumpah untuk menghidupkan kembali program luar angkasa negeri Paman Sam yang hampir mati.

Pecinta Aurora Memperkenalkan Aurora Cantik Yang Belum Pernah Terlihat

Steve Aurora, Aurora Cantik Yang Belum Pernah Terlihat. (source: NASA)

Para pecinta aurora yang berkumpul dalam sebuah Grup Facebook "Alberta Aurora Chasers" berhasil mendokumentasikan aurora baru yang belum pernah dilihat sebelumnya di langit Kanada.

Yang membedakan Aurora ini dengan yang lainnya adalah bentuk dan warnanya.

Jika yang kamu tahu Aurora berbentuk tirai tipis dengan warna merah, hijau, ataupun kuning, Aurora ini ditemukan berbentuk seperti pita dengan warna ungu yang berkilauan pendek atau kadang dikombinasikan dengan sedikit warna hijau yang tampak seperti pagar.

Foto dokumentasi Aurora baru ini diserahkan kepada Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA), mereka menyebutnya dengan nama Steve.

Steve sendiri merupakan singkatan dari Strong Thermal Emission Velocity Enhancement.

MacDonald yang memimpin pengamatan lebih lanjut tentang Aurora Steve ini berkata ada teori fisika yang berbeda di balik aurora tersebut.

MacDonald serta timnya melakukan pengamatan dengan menggunakan salah satu satelit Swarm milik ESA (European Space Agency).

Dalam temuannya yang dipublikasikan di dalam jurnal Science Advances, menunjukan bahwa Steve merupakan manifestasi partikel yang dipercepat dan dipanaskan akibat interaksi matahari dengan bagian medan magnet di ionosfer (atau bagian atmosfer yang terionisasi oleh radiasi matahari).

Aurora Steve ini bisa bertahan selama 20 menit atau sampai satu jam. Steve juga dimungkinkan hanya muncul pada musim-musim tertentu, karena ia tidak muncul pada Oktober 2016 sampai Februari 2017 dan juga dari Oktover 2017 sampai Februari 2018.