Asteroid Besar Akan Melintasi Bumi Pada 4 Februari Nanti

Ilustrasi asteroid 2002 AJ129 yang akan melintas nanti (Source: nasa.gov)

Dari dulu bumi sering kedatangan tamu dari luar angkasa, seperti meteor yang jatuh, asteroid yang melintas dan lain sebagainya. Namun, pada tanggal 4 Februari nanti bumi akan kedatangan tamu kembali, yaitu Asteroid 2002 AJ129.

Asteroid tersebut ternyata sangat besar, diperkirakan ukurannya seperti gedung pencakar langit tertinggi di dunia, Burj Khalifa.

Detail dari asteroid tersebut diperkirakan mencapai 1.219 meter, atau kira-kira 47 persen lebih besar dibandingkan Burj Khalifa, gendung tinggi yang berlokasi di Dubai, Uni Emirat Arab tersebut.

Sangat berbeda dengan asteroid 'near-earth' yang digolongkan oleh aman, NASA justru memperingati kalau asteroid yang akan datang ini termasuk kategori 'Berpotensi Bahaya', karena ukurannya diatas 150 meter dan melintasi bumi dengan jarak di bawah 7.500.000 kilometer.

Hingga saat ini, para peneliti NASA masih terus memantau tentang kedatangan asteroid tersebut dengan menggunakan teleskop Goldstone Radio yang berada di California, Amerika Serikat. Teleskop ini adalah salah satu dari dua radar paling kuat yang ada di Amerika Serikat (AS) selain Arecibo yang lokasinya ada di Puerto Rico.

NASA terus meneliti karakteristik dari asteroid 2002 AJ129, dan mencari tahu soal ukuran, b entuk, tampilan dalam dan tampilan luarnya, serta kecepatan rotasinya. Setelah mendapatkan semua data tersebut, mereka berjanji akan mempublikasikan data tersebut dalam waktu yang dekat.

Meskipun asteroid tersebut dikategorikan dalam 'Berpotensi Bahaya', NASA tetap menghimbau masyarakat agar tetap tenang. Karena, asteroid tersebut dijamin tidak akan memiliki dampak ke Bumi, mengingat jaraknya masih cukup jauh saat melintas, yaitu sekitar 4.000.000 kilometer.

Berikut adalah animasi lintasan asteroid yang dibuat peneliti NASA.

NASA Membuat Teleskop Untuk Mendeteksi Alien?

Wujud dari Teleskop James Webb Milik NASA (Source: nasa.gov)

Alien merupakan makhluk yang mungkin tidak pernah kita temukan di bumi ini, namun apakah kalian percaya tentang kehidupan selain di bumi ini? Tergantung dari kepercayaan kalian kalau soal percaya atau tidaknya tentang alien.

Tapi baru-baru ini NASA membuat Teleskop untuk mendeteksi keberadaan alien loh. Teleskop tersebut bernama James Webb dan dijadwalkan akan meluncur ke luar angkasa pada 2019 nanti. Teleskop ini mempunyai misi untuk menyelediki berbagai sudut alam semesta, termasuk exoplanet dan mendeteksi keberadaan alien.

Menurut studi yang telah dilakukan para ilmuwan di University of Washington, teleskop ini mampu mendeteksi kehidupan serta mengenali jenis gas seperti metana atau karbon dioksida yang bisa memberikan petunjung tentang organisme atau alien yang hidup di planet lain.

Berdasarkan studi yang dipublikasikan dalam jurnal Science Advances, teleskop James Webb mampu melacak adanya disekuilibrium kimia atmosfer, yakni untur kimia yang tidak kompatibel satu sama lain, tetapi mungkin bisa hidup berdampingan atau mungkin hidup di dunia lainnya.

Beberapa teleskop milik NASA dan termasuk James Webb ini memiliki kemampuan "Spectroscopy" yang artinya dapat mengukur gelombang radio dan cahaya.

Dengan kemampuan tersebut, para ilmuwan bisa menunjukkan zat kimia berbeda yang ada di ruang angkasa. Mereka pun bisa mengetahui unsur-unsur yang ada di dunia lain.

Tapi, ada beberapa ilmuwan yang mengatakan, bahwa untuk menemukan makhluk lain saja tidak cukup hanya dengan mendeteksi adanya oksigen. Hal ini karena kemungkinan makhluk lain tidak membutuhkan oksigen untuk hidup karena beberapa perbedaan.

Metana, Karbon Dioksida, dan Planet dengan Permukaan Air

Teleskop James Webb yang dikatakan mampu mendeteksi alien di luar angkasa (Source: nasa.gov)

Paduan antara metana, karbon dioksida, serta air di sebuah planet luar angkasa bisa menjadi sinyal yang meyakinkan terkait adanya kehidupan di planet tersebut, menurut David Catling yang meropakan ahli astrofologi.

Para ilmuwan NASA memperhatikan strategi baru untuk peluncuran teleskop James Webb tahun depan. Teleskop tersebut akan memeriksa exoplanet seperti TRAPPIST-1 system serta lingkungan sekitar planet berbatu yang ada di luar sistem tata surya dan dianggap memungkinkan jadi tempat tinggal organisme atau bahkan alien.

Jika teleskop James Webb mampu melacak adanya planet baru, kemungkinan para ilmuwan NASA semakin dekat dengan jawaban akan adanya kehidupan alien di alam semesta sana.

Butuh Waktu Lebih Lama Untuk Menemukan Alien

Ilustrasi sinyal radio yang menguat di ruang angkasa, mungkinkah bukti kehadiran alien? 

Meski demikian, ahli astronomi sekaligus profesor dari MIT Sara Seager mengatakan, penggunaan "Spectroscopy" untuk memeriksa planet berbatu kemungkinan tidak akan mendapatkan hasil yang positif terkait keberadaan bahan kimia maupun gas tertentu.

Ia percaya, pelacakan tentang kehidupan alien adalah sesuatu yang bisa dilakukan dengan teknologi teleskop generasi berikutnya, bukan generasi sekarang.

Seager juga menyebutkan dengan banyaknya planet berbatu yang memiliki gas biosignature akan mengilhami keyakinan bahwa kehidupan tidak hanya di tata surya kita, tetapi di seluruh galaksi.

Gerhana Bulan 'Super Blue Blood Moon' Akan Muncul Pada Tanggal 31 Januari


Sepertinya kamu harus mengatur jadwal untuk Tanggal 31 Januari 2018. Karena akan ada fenomena alam yang akan hanya terjadi 150 Tahun sekali.

Kalian akan merasa beruntung melihat fenomena Gerhana Bulan 'Super Blue Blood Moon' tahun ini.

Lalu apa itu Super Blue Blood Moon? Pertama, mari kita bahas tentang Super Moon. Super Moon adalah ketika bulan purnama paling dekat dengan Bumi, sehingga bulan terlihat sangat terang dan besar.

Kedua, tentang bulan biru atau blue moon. Blue Moon atau bulan biru adalah ketika bulan penuh untuk kedua kalinya dalam satu bulan kalender.

Dan terakhir adalah Blood Moon. Blood moon adalah sesuatu yang terjadi saat cahaya biru menyaring atmosfer selama gerhana, membuat bulan tampak merah.

Berikut adalah tahapan 'Super Blue Blood Moon' yang digambarkan pada waktu Pacific Time oleh NASA. (source: Nasa.gov)

Untuk kamu yang berada di Amerika Serikat, sepertinya tidak akan melihat dengan jelas penampakan gerhana bulan Super Blue Blood Moon ini. Tapi, kamu akan melihat jelas jika berada di Amerika Utara, Alaska, dan Hawaii.

Untuk yang sedang berada di Selandia Baru, Australia dan sebagian Asia, terutama di Indonesia, kamu bisa menyaksikan gerhana Super Blue Blood Moon dengan jelas.

Berikut adlaah rincian waktu yang sudah NASA bagikan.

Peta global menunjukkan daerah-daerah di dunia yang akan mengalami gerhana 'Super Blue Blood Moon' pada 31 Januari 2018. Gerhana akan terlihat sebelum matahari terbit pada 31 Januari untuk yang ada di Amerika Utara, Alaska dan Hawaii. Bagi orang-orang di Timur Tengah, Asia, Rusia timur, Australia dan Selandia Baru, 'Super Blue Blood Moon' dapat dilihat saat matahari terbit pada pagi hari tanggal 31 Januari. (source: Nasa.gov)

NASA Menemukan Laut Di Salah Satu Bulan Saturnus

Dalam gambar merupakan data yang diperoleh oleh pesawat luar angkasa NASA Cassini. (Sumber: nasa.gov)

Salah satu bulan Saturnus, yaitu Titan mungkin berjarak hampir satu miliar mil jauhnya dari bumi. Namun, sebuah makalah yang baru saja diterbitkan berdasarkan data dari pesawat luar angkasa NASA, cassini mengungkapkan bahwa Bulan Titan memiliki air dan sangat mirip seperti yang dimiliki bumi.

Sama seperti permukaan laut di Bumi yang terletak pada ketinggian rata-rata yang kita sebut "permukaan laut", dan laut Titan pun berada pada ketinggian rata-rata.

Titan adalah satu-satunya dunia di tata surya kita selain Bumi yang memiliki cairan stabil di permukaannya. Cairan di danau dan lautan Titan kebanyakan adalah metana dan etana. (Sumber: nasa.gov)

Ini merupakan temuan terakhir yang menunjukkan kesamaan yang luar biasa antara Bumi dan Titan, satu-satunya dunia yang kita ketahui di tata surya kita yang memiliki cairan stabil di permukaannya. Twist di Titan adalah danau dan lautnya dipenuihi dengan hidrokarbon dari pada air cari dan air es yang dilapisi oleh bahan organik padat yang berfungsi sebagai dasar di sekitar danau dan laut ini.

Makalah baru, yang dipimpin oleh Alex Hayes di Cornell University di Ithaca, New York dan dipublikasikan di jurnal Geophysical Research Letters, menemukan bahwa lautan Titan mengikuti ketinggian konstan yang relatip terhadap tarikan gravitasi Titan, sama halnya seperti samudra di Bumi. Danau yang lebih kecil di Titan, ternyata muncul di ketinggian beberapa ratus kaki atau meter, bahkan lebih tinggi dari permukaan laut Titan. Danau yang tinggi biassanya ditemukan di Bumi. Tanau terdinggi yang dapat dilayari oleh kapal-kapal besar, Danau Titicaca, lebih dari 12.000 kaki [3.700 meter] di atas permukaan laut.

Studi baru menunjukan bahwa elevasi penting karena badan cairan Titan tampak terhubung dibawah permukaan dalam sesuatu yang mirip dengan sistem akuifer di Bumi. Kidrokarbon tampak mengalir di bawah permukaan Titan yang mirip dengan cara air mengalir melalui batu berpori bawah tanah atau kerikil di Bumi, sehingga danau didekatnya berkomunikasi satu sama lain dan berbagi tingkat cairan yang sama.

Makalah ini didasarkan pada data yang diperoleh instrumen radar Cassini sampai beberapa bulan sebelum pesawat ruang angkasa terbakar di atmosfer Saturnus tahun lalu. Ini juga menggunakan peta topografi baru yang diterbitkan dalam edisi  yang sama dengan Geophysical Research Letters.

Untuk rincian yang lebih lanjut tentang dua makalah tersebut silahkan kunjungi link berikut.
https://news.cornell.edu/stories/2018/01/saturns-moon-titan-sports-earth-features

Para Ilmuwan Menemukan Sistem Multi-Planet Melalui Crowdsourcing

Konsep ini menunjukan bahwa K2-138 merupakan sistem multi-planet pertama yang pernah ditemukan. (Source: Nasa.gov)

Sebuah sistem yang terdiri dari setidaknya lima planet ini telah ditemukan oleh para ilmuwan melalui sebuah proyek yang bernama Exoplanet Explorers, bagian dari platform online Zooniverse yang menggunakan data dari teleskop luar angkasa Kepler milik NASA.

Ini merupakan sistem multi-planet pertama yang pernah ditemukan melalui crowdsourcing, studi yang menjelaskan tentang sistem ini telah diterima dan siap untuk di publikasikan di The Astronomical Journal.

Konsep ini menggambarkan pandangan dari sistem K2-138, yang menunjukkan orbit dan ukuran relatif dari lima planet yang diketahui. (Source: Nasa.gov)

Para ilmuwan mulai mengolah data Kepler pada 2017 saat Exoplanet Explorers diluncurkan. Penelitian ini ditampilkan dalam sebuah program yang disebut Stargazing Live di Australia Broadcasting Corporation (ABC). Pada malam terakhir dari program tiga hari tersebut, para ilmuwan mengumumkan penemuan sistem empat planet. Sejak saat itu, mereka mulai menamakan K2-138 dan menemukan bahwa planet ini memiliki planet kelima dan mungkin planet keenam.

Sekumpulan data Kepler lainnya juga baru saja diupload ke Exoplanet Explorers agar para ilmuwan dapat meneliti planet tersebut bersama-sama.

Pesawat Luar Angkasa Juno Mengambil Gambar Atmosfer Jupiter Yang Sangat Indah


Pada tahun 2016 silam, NASA meluncurkan pesawat yang bernama Juno yang di khusus kan untuk mengorbit planet terbesar di tata surya kita yaitu Jupiter.

Belum lama ini gambar yang sudah di tangkap oleh pesawat tersebut sudah beredar di situs resmi NASA. Namun yang menjadi menarik adalah atmosfer yang di tangkap oleh pesawat tersebut. Gambar nya bak lukisan Van Gogh yaitu Starry Night.

Foto yang diambil merupakan dari belahan utara jupiter pada 16 Desember dari ketinggian 8.292 mil diatas atmosfer Jupiter.

Ternyata, pesawat Juno pernah terjun lebih dekat dengan pusaran gas raksasa milik Jupiter tersebut pada pertengahan 2017. Pesawat tersebut mengabadikan seperti apa suasana di dalam pusaran gas yang berwarna kemerahan tersebut.


Karena prosesnya berlangsung singkat, kira-kira 12 menit, para ilmuwan NASA tidak memiliki waktu yang cukup untuk memproses semua foto yang dibidik Juno. Alhasil, mereka merilis foto-foto mentah pusaran gas Jupiter tanpa memilahnya terlebih dulu.

JunoCam mampu mengabadikan pemandangan pusaran gas dalam resolusi hampir dua mil per piksel. Saat mendekati garis khatulistiwa dan kutub Jupiter, ia bahkan bisa mengambil foto dalam 30 mil per piksel. Hasilnya sangat menakjubkan. Pasalnya, belum pernah ada instrumen NASA yang posisinya pernah sedekat itu dengan Jupiter.

Sebelum Juno, foto terbaik Jupiter dibidik dari dua pesawat luar angkasa Voyager yang melewati planet raksasa 40 tahun lalu, tepatnya 1979.

Sayang, ilmuwan NASA belum dapat menjabarkan apa yang ada di dalam pusaran gas tersebut. Untuk saat ini, mereka masih mengkaji ulang foto-foto bidikan Juno untuk kembali memeriksa asal muasal pusaran gas yang terus berputar tanpa henti selama 350 tahun lamanya itu.

Dengan diterbangkannya Juno ke Jupiter, NASA berharap eksplorasi ini dapat mengubah perspektif umat manusia tentang Tata Surya di alam semesta.


Seperti yang sudah disebutkan, Juno juga akan mempelajari lapisan atmosfer Jupiter. Setelah itu, para ilmuwan akan mencoba mempelajari ekosistem Jupiter dan menguak apakah planet ini menyimpan 'rahasia' lain.

Dilansir Tech Insider, Juno merupakan pesawat jenis probe yang ditenagai oleh tiga baling-baling seluas lapangan basket. Ia juga memiliki panel surya sebagai sumber tenaga utamanya. Baling-baling berputar tiga kali setiap menit.

Kemampuan baling-baling Juno mampu membuatnya mengorbit Jupiter lebih cepat. Meski begitu, para astronom sempat khawatir dengan panel solar yang menyokong baling-baling Juno.

Pasalnya, cahaya matahari begitu jauh dari Jupiter dan panel solar tersebut pasti hanya menyerap sedikit cahaya. Ini tentu berbeda kasusnya dengan panel tenaga New Horizons, probe yang mengitari Pluto karena mereka ditenagai oleh plutonium.

Probe ini juga memiliki kamera khusus Juno Cam yang mampu mengambil foto-foto dengan resolusi tinggi. Selain itu, salah satu instrumen milik Juno yang disebut JADE (Jovian Auroral Distributions Experiment) akan mempelajari fenomena aurora Jupiter yang terjadi belum lama ini.

Juno juga akan mencari apa memang Jupiter memiliki kandungan air dari atmosfer planet. Jika sudah selesai dengan misinya, ia akan 'menyelam' ke tengah planet dan akan menghancurkan diri di antara atmosfer Jupiter.