Ilmuwan NASA Temukan Planet Misterius Yang Bersembunyi Di Luar Tata Surya


Seperti yang di informasikan oleh NASA bahwa para ilmuwan mereka telah menemukan sebuah planet misterius yang ada di luar tata surya kita. Bentar tersebut memiliki permukaan yang sejuk dan bentuknya kecil. Dua karakteristik ini membuat planet tersebut terlihat aneh bagi para ilmuwan.

Planet tersebut dikenal sebagai HD 21749b yang merupakan planet asing ketiga yang ditemukan oleh TESS, teleskop pemburu planet baru milik NASA. Wahana tersebut mengitari bintangnya dalam orbit yang panjang.

Meskipun jarak HD 21749b dan matahari cukup dekat, namun suhu di dalam planet mungil ini disebut lumayan dingin, yaitu sekitar 300 derajat Fahrenheit.

"Ini adalah planet kecil paling dingin yang mengitari sekitar bintangnya dengan cahaya seterang ini," kata Diana Dragomir, seorang postdoc di MIT's Kavli Institute for Astrophysics and Space Research, seperti dikutip dari The Independent, Kamis (10/1/2019).

"Kami tahu banyak tentang atmosfer di planet-palnet panas, tetapi karena sangat sulit untuk menemukan planet kecil yang mengorbit lebih jauh dari bintang-bintang mereka, dan karena suhunya lebih dingin, kami belum dapat mempelajari lebih jauh tentang HD 21749b," imbuhnya.

Meskipun disebut kecil oleh para ilmuwan NASA yang menemukannya, planet itu masih sangat besar bila dibandingkan dengan Bumi. Ukurannya diameternya tiga kali Bumi dan luasnya 23 kali Bumi. Oleh karenanya, peneliti menempatkannya dalam kategori "sub-Neptunus", dan berarti bahwa planet tersebut akan menjadi planet seukuran Bumi pertama yang ditemukan oleh TESS.

"Kami pikir planet ini tidak ada gas seperti di Neptunus atau Uranus," ucap Dragomir. "Planet ini kemungkinan memiliki air atau atmosfer yang tebal."


Sementara itu, menurut temuan baru yang ditemukan oleh tim peneliti internasional, sistem bintang kedua yang paling dekat dengan matahari, Bintang Barnard, menjadi rumah bagi sebuah planet berukuran super besar dan bersuhu beku. Jaraknya hanya 6 tahun cahaya dari Bumi.

Bintang Barnard adalah jenis matahari kuno kecil yang disebut katai merah. Meski tidak mudah dilihat tanpa teleskop, Bintang Barnard telah lama menarik perhatian para astronom karena menjadi bintang yang bergerak paling cepat di langit malam.

Ahli astronomi juga mengatakan, Bintang Barnard menjadi rumah bagi sebuah eksoplanet (planet di luar tata surya) beku dan ukurannya tiga kali lebih besar dari Bumi, sehingga menjadikannya tampak seperti Bumi super.

Sebuah tim peneliti kolaboratif dari Red Dots dan proyek CARMENES sedang berupaya menemukan planet yang lokasinya berada di dekat katai merah.

Mereka menggunakan berbagai teleskop untuk menemukan eksoplanet tersebut --yang dikenal sebagai Bintang B milik Barnard-- dan mengeksplorasi keistimewaannya.

Tim dari Red Dots juga pernah terlibat dalam penemuan planet baru-baru ini di sekitar sistem tata surya terdekat Bumi, Proxima Centauri. Temuan terbaru tersebut diterbitkan pada Rabu, 14 November, di jurnal Nature.

Planet Super Beku

Bintang Barnard mempunyai beberapa perbedaan besar dari Bumi. Eksoplanet itu mengorbit bintangnya dalam waktu sekitar 233 hari --jauh lebih sedikit dari orbit Bumi, yakni 365 hari-- tetapi lebih lama dari eksoplanet lain yang pernah ditemukan.

Bintang Barnard B pun jauh lebih dekat dengan bintangnya (Bintang Barnard), hanya 0,4 kali jarak antara Bumi dan Matahari.

Namun, meskipun sangat dekat dengan bintangnya, cahaya dari Bintang Barnard hanya mampu menyinari eksoplanet sebesar 2% energi yang disediakan Matahari untuk Bumi.

Itu artinya, meskipun eksoplanet dekat dengan bintangnya, namun keadaan di planet tersebut sangat dingin. Para peneliti menemukan bahwa eksoplanet kemungkinan memiliki suhu sekitar -274 derajat Fahrenheit (-170 derajat Celcius).

"Saya pikir, misteri yang belum terpecahkan adalah apakah eksoplanet itu punya atmosfer atau tidak," kata Johanna Teske, peneliti dan penulis studi Carnegie Science.

"Jika planet ini memiliki atmosfer, mungkin itu bisa menjaga suhu permukaan lebih hangat," tambahnya, sebagaimana dikutip dari laman Astronomy.com, Kamis 14 September 2018.

OSIRIS-REx Robot Milik NASA Berhasil Mendarat Di Asteroid Kuno

 


Bukan cuma New Horizon saja yang mendapatkan rekor baik yang mencapai objek Ultima Thule, ada juga robot yang diterbangkan NASA yang sukses mendekati asteroid kuno bernama Bennu.

Dikutip dari Geek, Jumat (4/1/2019), robot bernama OSIRIS-REx tersebut sudah memasuki orbit pada 31 Desember 2018.

Rekor ini tak pelak menjadikan asteroid Bennu sebagai objek terkecil yang mampu dikelilingi sebuah robot pesawat luar angkasa.

“Tim kami terus mencoba untuk melakukan proses penerbangan ke orbit dengan manuver sempurna,” ujar investigator proyek OSIRIS-REx Dante Lauretta.

Setelah memasuki orbit, OSIRIS-REx akan terbang ke bagian kutub utara, kutub selatan, dan garis ekuator asteroid Bennu untuk mempelajari kandungan massanya.

Sejauh ini, masih minim diketahui soal karakteristik dan kandungan Bennu. Paling tidak, astronom sudah meneliti kalau asteroid kuno ini memiliki kandungan molekul dari atom oksigen dan hidrogen yang bergabung bersama, kandungan ini juga dikenal dengan nama hydroxyls.

Illustrasi asteroid Bennu
Dalam misi yang direncanakan berjalan selama tujuh tahun ini, OSIRIS-REx akan mengumpulkan sampel dari asteroid Bennu. Bennu sendiri mengandung senyawa organik yang sangat penting bagi kehidupan.

Sekadar informasi Bennu terdiri dari molekul karbon yang berasal dari masa awal tata surya sekitar 4,5 miliar tahun lalu.

Air, yang merupakan komponen vital untuk kehidupan, bisa juga terperangkap di dalam mineral-mineral asteroid ini.


Selain itu, Bennu dipilih untuk dijelajahi karena adanya kemungkinan bahwa asteroid ini akan menghantam bumi dalam jangka waktu 166 tahun dari sekarang.

Bennu berada di posisi kedua dalam daftar NASA, berisikan 72 objek di dekat bumi yang mempunyai potensi menghantam planet ini.

Dengan misi senilai US$ 800 juta ini, peneliti berharap akan mendapatkan informasi lebih banyak tentang kemungkinan bagaimana Bennu akan mempengaruhi Bumi dalam waktu 150 tahun mendatang, demikian menurut juru bicara misi OSIRIS-REx, Erin Morton.

Pengumpulan data akan dilakukan menggunakan lengan mekanik OSIRIS-REx sepanjang 10 meter dan data direncanakan sampai ke Bumi pada tahun 2021.

Bennu berjarak 122 juta kilometer dari Bumi. Dibutuhkan tujuh menit untuk medapatkan kabar dari pesawat ruang angkasa ke pengendali penerbangan di Colorado, AS.

Inilah Alasan Kenapa Pluto Memancarkan Sinar X


Planet pluto merupakan planet terjauh yang ada di galaksi bima sakti. Planet ini menarik untuk ditelusuri oleh para ilmuwan karena banyak sekali hal yang patut untuk diteliti.

Pada 2015 lalu, NASA mencetak rekor baru dengan mengirim pesawat New Horizons ke orbit Pluto.

Walau pencapaiannya terbilang sukses, masih banyak misteri yang belum bisa dipecahkan NASA tentang Pluto hingga kini, termasuk fenomena mengapa ia bisa memendarkan sinar X dari permukaan.

Peristiwa tersebut dibuktikan dari foto jepretan kamera New Horizons yang diunggah pada akhir 2015.

Pada foto itu, planet kerdil tersebut memperlihatkan gumpalan cahaya biru yang diduga kuat merupakan sinar X.

Dilansir Phys, Rabu (2/1/2019), astronom kaget mengapa Pluto bisa memancarkan sinar X. Pasalnya, Pluto adalah planet dengan bebatuan bersuhu dingin. Logikanya, mustahil bagi Pluto bisa mengeluarkan sinar X.

Sejumlah gambar terkini dari wahana New Horizons mengungkapkan keberadaan es beraneka bahan di Pluto. (Sumber NASA/JHUAPL/SWRI)
Spekulasi ilmiah para astronom akhirnya sampai pada teori bahwa sinar X Pluto yang muncul akibat cahaya matahari.

Faktanya, matahari tidak hanya bisa memberikan cahaya dan panas, melainkan juga partikel yang mengalir.

Jadi bisa dibilang, partikel-partikel Matahari yang bertemu dengan Pluto bisa jadi menciptakan sinar X.

Teori ini memang belum bisa diakui kebenarannya sebab Pluto adalah planet terjauh, bahkan di luar Tata Surya. Jaraknya saja sekitar 6 miliar kilometer dari Matahari.

Dengan demikian, untuk bisa sampai ke Pluto, partikel cahaya Matahari setidaknya butuh waktu sangat lama. Karena itu, mereka masih terus mencari tahu alasan mengapa sinar X itu benar-benar terpancar dari permukaan planet.

Gambar tersebut diabadikan oleh New Horizons, dengan teknik yang disebut `principal component analysis` (Doc: Express)
Sebagai informasi, New Horizon telah berhasil menangkap beberapa citra permukaan Pluto pada 2015. Salah satunya adalah kemungkinan keberadaan gunung berapi di planet tersebut.

Selain itu, pada awal misi, permukaan Pluto disebut-sebut memiliki kondisi serupa Bumi.

Hanya, atmosfer Pluto lebih banyak dipengaruhi nitrogen yang membuat titik bekunya mencapai -210 derajat.

Misi penjelajahan Pluto dengan pesawat tak berawak ini dimulai pada 2006. Setelah sembilan tahun melakukan perjalanan, pesawat itu akhirnya mengirimkan konfirmasi kedatangannya di Pluto pada Juli 2015.

New Horizon Ungkap Tentang MU69: Ultima Thule Merupakan Komet Khas Masa Depan

2014 MU69 diperkirakan semula adalah dua objek, dijuluki 'Ultima' dan 'Thule', yang terbentuk dari waktu ke waktu dari awan yang berputar dari tubuh-tubuh es yang kecil. Perbandingan dengan inti komet yang diketahui menunjukkan bahwa Ultima Thule akan menjadi komet khas jika memasuki Tata Surya bagian dalam. NASA / JHUAPL / SWRI
Ketika 2018 berakhir dan 2019 dimulai, New Horizons NASA terbang melewati target pertamanya setelah Pluto: 2014 MU 69 .

Ultima Thule nyaris tidak ada dalam gambar (kiri) dari pesawat ruang angkasa New Horizons. Dunia jauh lebih menonjol ketika bintang-bintang telah dihapus (kanan); gumpalan gelap adalah artefak dari pengurangan bintang yang tidak sempurna. Garis bidik kuning menandai posisi Ultima. Sampai hanya beberapa hari sebelum kedatangannya, MU69 2014 (Ultima Thule) tidak lebih dari satu piksel dalam detektor New Horizons. NASA / JHUAPL / SWRI
Dijuluki Ultima Thule, itu berubah dari satu piksel di detektor menjadi manusia salju warna merah, berbintik-bintik.

Gambar warna pertama dibangun (melalui komposit dari data New Horizons) 2014 MU69: Ultima Thule. Warna kemerahan kemungkinan disebabkan oleh tholins: warna kemerahan yang sama terlihat di permukaan Charon. NASA / JHUAPL / SWRI
Tiga minggu pertama data telah mengungkapkan detail spektakuler mengenai komet Ultima Thule yang jauh ini.

Beberapa gambar Ultima Thule (2014 MU69) ketika New Horizons mendekatinya mengungkapkan tubuh yang berputar dan jatuh, tetapi juga mengungkapkan detail tambahan tentang objek, karena jarak dari kamera menurun dari 500.000 km ke 28.000 km: penurunan 94 %. NASA / JHUAPL
Selain tidak aktif, ia sangat sesuai dengan harapan mengenai inti komet.

Banyak komet memiliki inti yang dicitrakan oleh berbagai wahana, mengungkapkan dua kelas inti komet: inti benda tunggal dan inti biner kontak. 2014 MU69 tampaknya dari tipe biner kontak, dan menandai pertama kalinya Planetary Society pernah mencitrakan objek seperti itu sebelum pernah mengembangkan ekor atau kehilangan beberapa volatilnya. THE PLANETARY SOCIETY / VARIOUS (SEE IMAGE FOR FULL CREDITS)
Pada tahun 1986, komet Halley dicitrakan oleh ESA's Giotto mission, mengungkapkan two-lobed core.

Pandangan inti Comet Halley ini diperoleh oleh Halley Multicolour Camera (HMC) di atas pesawat ruang angkasa Giotto, saat melewati 600 km dari inti komet pada 13 Maret 1986. Komet itu jelas cukup aktif pada saat itu. ESA / MPAE LINDAU
Demikian pula, gambar Deep Impact 2010 tentang komet Hartley 2 mengungkapkan lobus yang sarat volatil dihubungkan oleh leher yang halus.

Penyelidikan Deep Impact NASA mengambil gambar-gambar ini dari komet Hartley 2, mengungkapkan outgassing dari tepi salah satu lobusnya dan perbedaan besar dalam reflektifitas permukaan dari satu daerah ke daerah. Leher yang halus kemungkinan bukan cacat, tetapi fitur yang umum bagi banyak binari kontak yang berasal dari sabuk Kuiper, karena akumulasi material es mengarah ke konfigurasi ini. Para ilmuwan masih mengumpulkan data dari flyby New Horizons tahun 2014 MU69, yang dapat menjelaskan lebih lanjut tentang detail pembentukan leher halus. NASA / JPL / UMD
Tetapi misi Rosetta ESA menetapkan standar baru dalam pencitraan komet.

Gambar resolusi tinggi dari komet 67P / Churyumov-Gerasimenko mengungkapkan sebuah tubuh besar yang terdiri dari dua lobus yang dihubungkan oleh leher yang lebih tipis. Mirip dengan komet Halley atau 2014 MU69, komet Hartley 2 menunjukkan konfigurasi 'kontak biner'. Kami sekarang percaya ini umum di antara objek sabuk Kuiper. ESA / ROSETTA / NAVCAM
Foto-foto dan film-film komet 67P / Churyumov-Gerasimenko yang sekarang legendaris ini memamerkan gas, bulu, dan bahkan salju.

Sisi-sisi komet yang menghadap matahari memanas terlebih dahulu, dengan kehadiran es yang mudah disublimasikan yang mengarah ke offgassing, pelepasan tekanan, dan hilangnya material. Semakin lama komet berada di dekat Matahari, semakin cepat mereka menguap. Untuk benda yang masih berada di sabuk Kuiper, penguapan harus diabaikan. ESA / ROSETTA / NAVCAM
Bahan-bahan es yang mudah menguap berlimpah di komet-komet ini, dan berubah fase dengan cepat ketika mereka terkena sinar matahari.

Film paling spektakuler dari misi ESetta Rosetta menunjukkan seperti apa permukaan komet 67P / Churyumov-Gerasimenko, termasuk es volatil yang menyublim dan membekukan kembali ketika berada di bawah sinar matahari atau bayangan, masing-masing, menyebabkan perilaku seperti salju.

 Ultima Thule saat ini berputar dan jatuh dengan cara yang mirip dengan komet yang dikenal dan dekat ini.

Film ini menunjukkan rotasi Ultima Thule yang jatuh seperti baling-baling selama rentang waktu sembilan jam antara 20:00 UT (3:00 ET) pada 31 Desember 2018, dan 05:01 UT (12:01 ET) pada Jan 1, 2019, seperti yang terlihat oleh Long Range Reconnaissance Imager (LORRI) di atas cakrawala baru NASA. NASA / JHUAPL
Satu-satunya perbedaan? Itu masih sangat jauh dari Matahari, menyebabkan esnya tetap utuh.

Berdasarkan data yang telah kembali sejauh ini dari misi New Horizons dan gambar-gambarnya dari MU69 2014 (Ultima Thule), kami dapat membuat model 3D seperti apa objek ini terlihat. Penampilan dua lobusnya, dengan leher yang halus dan reflektif, mengungkapkan sifat seperti komet yang masih membeku sepenuhnya, karena tidak pernah memiliki volatil yang cukup dipanaskan oleh Matahari. GETTY
Ultima Thule terlihat seperti inti komet yang khas, menandai pertama kali kita mencitrakannya di tempat asalnya: sabuk Kuiper.

Gambar Selasa, 1 Januari 2019 yang disediakan oleh NASA ini menunjukkan objek sabuk Kuiper Ultima Thule, sekitar 1 miliar mil di luar Pluto, ditemui oleh pesawat ruang angkasa New Horizons. Perbedaan kecerahan sesuai dengan perbedaan reflektifitas permukaan. Diperlukan waktu sekitar 20 bulan, mengingat jarak dan lintasan New Horizons saat ini, untuk mengunduh semua data yang diambil selama flyby Tahun Baru 2019. PERS ASOSIASI

Relativity Akan Luncurkan Roket Hasil Printer 3D Pertama di Dunia Tahun Depan


Upaya manusia menciptakan roket bukan hanya perkara biaya yang tak murah tapi juga soal tingkat kesulitannya. Ada sekitar 100 ribu bagian berbeda yang menyusun sebuah roket.

Dua pemuda bernama Tim Ellis dan Jordan Noone punya ide yang sanggup memangkas yang mahal dan rumit.

Ellis, mantan karyawan Blue Origins, dan Noone mantan pekerja SpaceX membentuk sebuah startup bernama Relativity pada 31 Desember 2015 lalu. Tujuannya untuk membangun keseluruhan roket, dari mulai bagian-bagian paling sederhana sampai rumit seperti mesin, menggunakan printer 3D atau teknologi pencetakan tiga dimensi.

Mereka memiliki cita-cita untuk membuat roket dengan cepat dan murah. Visi mereka adalah untuk membangun roket yang akan digunakan untuk ke Mars.

“Kami hanya berpikir, di masa depan seluruh produk (nampaknya) akan dicetak melalui printer 3D. Alih-alih hanya mencetak bagian-bagian tertentu, jika kami mampu mencetak semuanya, itu akan menjadi masa depan,” kata Ellis.

Dan saat ini Relativity sedang mengembangkan roket hasil printing 3D pertama mereka yaitu Terran 1 untuk diluncurkan tahun depan.


Untuk mewujudkan impian tersebut, Relativity telah memiliki Stargate, mesin printer 3D logam terbesar di dunia.

Stargate memiliki sensor dan kecerdasan bawaan untuk melacak dan meningkatkan kinerjanya. Memiliki beberapa "print head" yang terletak di ujung lengan penggerak untuk membangun komponen kompleks dengan bentuk yang rumit

Menggunakan Stargate, Relativity berhasil membuat mesin roket yang diberi nama Aeon 1. Mesin Aeon 1 memiliki kekuatan dorongan hingga 19.500 pound, sepersepuluh dari kekuatan mesin Merlin 1D yang terpasang di roket Falcon 9 dari Space X. Dengan Stargate, mesin roket dapat dicetak hanya dalam 20 hari.

Sampai saat ini Relativity telah melakukan 124 uji pembakaran pada mesin Aeon 1 menggunakan fasilitas di Stennis Space Center NASA di Mississippi.

Untuk roket, sepertinya Relativity tidak akan mengalami kendala dalam pengembangan nya. Tapi ada satu yang yang belum disiapkan, tempat peluncuran untuk roket itu sendiri.

Beruntungnya, Relativity baru-baru inu memenangkan kontrak untuk membangun dan mengoperasikan fasilitas peluncuran roket mereka sendiri di Launch Complex 16 (LC-16) Cape Canaveral Air Force Station di Florida, Amerika Serikat.

Kontrak ini didapatkan dari The 45th Space Wing of the Air Force. Ini merupakan kesepakatan langsung pertama Angkatan Udara Amerika Serikat dengan perusahaan peluncuran roket yang tidak disubsidi oleh pemiliknya, seperti SpaceX dan Blue Origin.

Dan sekarang Relativity hanya tinggal menyiapkan roket pertamanya tersebut untuk diluncurkan.

Roket Terran 1 sendiri akan diluncurkan tahun depan untuk membawa satelit kecil ke orbit.

Terran 1 mempunyai tinggi sekitar 100 kaki (33 meter). Stage pertama roket akan memiliki sembilan mesin Aeon 1 dan stage kedua akan memiliki satu mesin Aeon 1. Roket ini akan mampu mengirimkan muatan 1250 kg ke orbit rendah Bumi, dengan biaya peluncuran sekitar $ 10 juta. Jika berhasil, perusahaan akan menawarkan jasa peluncuran dengan biaya peluncuran yang dihitung per kilogram.

“Kami terkesan dengan tim Relativity yang berpengalaman dan pendekatan inovatifnya terhadap teknologi luar angkasa dan kami berharap dapat bekerja sama dengan mereka ketika mereka melanjutkan proses untuk meluncurkan roket Terran 1 dari Stasiun Angkatan Udara Cape Canaveral,” kata Thomas Eye, direktur rencana & program untuk The 45th Space Wing of the Air Force.

Membuat roket hanyalah awal dari misi Relativity Space. Tujuan akhir perusahaan adalah untuk memproduksi roket secara massal dalam waktu singkat untuk membangun kapasitas produksi di Mars.

Pada tahun lalu, co-founder Relativity Space Tim Ellis menyebut roket telah menjadi model bisnis dan menjadi alasannya untuk menciptakan teknologi pencetakan. Roket, disebut Ellis, merupakan produk terbesar, berbobot ringan, dan berbiaya tinggi yang dapat diciptakan manusia. Roket juga bisa menjadi cara Relativity untuk memamerkan teknologinya kepada dunia.

Untuk mengetahui informasi lebih lanjut, kalian bisa mengunjungi situs resmi Relativity:
https://www.relativityspace.com/

Referensi:
https://www.forbes.com/sites/alexknapp/2019/01/17/under-30-startup-relativity-space-will-be-launching-from-cape-canaveral/#24e58e6f1166

Imbas Pemerintahan AS Tutup, Instagram NASA Berhenti Update


Badan antariksa nasional Amerika Serikat (AS) NASA, mengumumkan tidak akan memposting apapun di akun Instagram @nasa selama pemerintah federal AS tutup atau mengalami 'government shutdown'.

"We're sorry, but we will not be posting updates to Instagram during the government shutdown. We'll be back as soon as possible!," demikian pengumuman disampaikan NASA melalui postingan terbarunya, seperti dilihat pada, Selasa (23/1/2018).

Ini bukan pertama kalinya NASA 'tutup' karena dampak government shutdown. Pada 2013 pun pernah terjadi hal serupa. Saat itu, Presiden Barack Obama mengumumkan NASA hampir tutup sepenuhnya selama penutupan pemerintahan, namun Pusat Kendali Misi NASA tetap buka untuk mendukung dua astronotnya yang saat itu sedang bertugas di stasiun luar angkasa.

Instagram NASA sendiri terkenal aktif dan update melakukan postingan. Jejaring sosial berbagi foto dan video ini telah menjadi cara efektif bagi NASA mempromosikan berbagai kegiatan dan hasil penelitian luar angkasa mereka. Diikuti lebih dari 30 juta follower, para pecinta luar angkasa selalu menantikan foto-foto luar angkasa menakjubkan yang dirilis secara eksklusif oleh NASA di Instagramnya.

NASA hanya salah satu yang terkena dampak government shutdown AS. Seperti diketahui, sejak Sabtu (20/1), pemerintah federal AS tutup karena ketiadaan anggaran negara untuk menjalankan pemerintahan.

Hashtag #TrumpShutdown pun seharian jadi trending topic Twitter di AS tak lama setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan penutupan operasional pemerintahan. Netizen dan para politisi yang menentang Trump pun ikut ramai bersuara di Twitter.

Mereka ramai menyuarakan pendapatnya soal tidak tercapainya kesepakatan antara Partai Republik dan Partai Demokrat di Senat yang membuat buntunya pembahasan rencana anggaran federal Amerika Serikat.

Sumber Instagram:

https://www.instagram.com/p/BeQkZbTHHzk/?utm_source=ig_embed&ig_mid=W4GAVQABAAHlUHc3cwfBpashJKdK

Kenapa Orang Percaya Bumi Datar?


"Ini adalah hal yang sangat bodoh dilihat dari sisi manapun yang bisa dibayangkan," ucap Brian Cox, fisikawan kenamaan asal Inggris. Lalu, apa sebenarnya yang disebutnya sangat bodoh itu? Jawabannya adalah teori konspirasi Bumi datar.

"Kamu harus mundur jauh ke belakang melihat fondasi dari fisika modern. Mulai dari teori gravitasi dari Isaac Newton hingga teori relativitas umum dari Albert Einstein, dan kamu harus membantah itu semua. Itu adalah konsekuensi yang harus diterima jika kita percaya bahwa kita tinggal di planet berbentuk piringan. Kamu harus bisa membantah segalanya," ujarnya

Cukup banyak orang percaya bahwa Bumi itu datar meskipun banyak bukti mengatakan sebaliknya. Kenapa demikian?

Ketidakpercayaan Terhadap Pakar dan Pemerintah

Chandra Jayasuriya, akademisi dari University of Melbourne, mengatakan bahwa di masa silam wajar orang percaya Bumi datar. Pasalnya, mereka terkungkung di komunitasnya dan tidak mendapat informasi dari luar.

"Mereka tinggal di pedesaan yang jadi pusat dari eksistensi mereka. Karena semakin jauh pergi dari desa, lingkungannya akan semakin keras," kata dia.

Dahulu kala orang memang percaya Bumi datar. Masyarakat Babilonia atau Yunani pra-klasik (sebelum abad ke-6 SM) yang hidup ribuan tahun lalu meninggalkan artefak dan peta kuno yang memperlihatkan Bumi merupakan bidang yang rata. Namun sekitar 2500 tahun lalu orang mulai mempertanyakan keyakinan itu. Dari amatan yang mereka lakukan, antara lain dengan melihat gerak perahu di laut, mereka mulai meyakini Bumi melengkung dan bulat.

Hanya saja, orang kuno percaya Bumi pusat semesta (geosentris). Kepercayaan itu dianulir Copernicus dan Galileo di zaman Renaisans. Mereka berhasil membuktikan Bumi berbentuk bulat dan mengitari Matahari (heliosentris). Sains modern terus berkembang. Manusia akhirnya bisa sampai ke bulan, pergi ke luar angkasa dan memotret Bumi dari angkasa. Namun bukti-bukti ilmiah tak terbantahkan itu tak menyurutkan kepercayaan sejumlah orang.

Jadi kenapa di zaman modern ini masih ada yang yakin Bumi berbentuk datar? Menurut Dr. Jennifer Beckett dari School of Culture and Communication di University of Melbourne, ada fenomena kurang percaya pada pakar serta media mainstream.

"Ada peningkatan ketidakpercayaan pada mereka yang kita anggap penjaga pengetahuan seperti akademisi, ilmuwan atau pemerintah," ujar Beckett.

Belum lagi dengan bantuan media sosial atau YouTube, orang yang sebenarnya tidak berpengetahuan bisa mengubah keyakinan beberapa orang. "Mereka kadang lebih mampu bercerita dengan baik. Dan orang mungkin secara naif menganggap bahwa karena mereka orang nyata, mereka benar," papar Beckett.

Beckett menyatakan komunitas Bumi datar menggunakan beragam platform media sosial untuk menyebarkan keyakinannya. Terutama, mereka mengandalkan YouTube yang memang powerful.

"Terasa seperti punya akses ke pakar, seperti melihat dokumenter. Layaknya berbicara dengannya dan melihatnya lagi di episode lain untuk menjawab pertanyaan di kepala," papar dia.

Konspirasi Bumi datar pun jadi dipercaya beberapa orang. Dan kadang mereka amat teguh memegang kepercayaannya itu. Dari dalam negeri, Wakil Presiden Akademi Ilmuwan Muda Indonesia (ALMI) Roby Muhammad mengatakan masalah 'Bumi datar' disebabkan bukan karena pemeluk konspirasi tersebut tak memahami kenyataannya. Namun, karena soal 'pemberontakan'.

"Intinya adalah bentuk pemberontakan terhadap institusi atau pihak yang memegang riset. Itu sangat berbahaya ya karena yang diancam adalah kredibilitasnya. Misalnya kepercayaan terhadap pemerintah. Kalau kepercayaan terhadap pemerintah sudah tidak ada, lalu akan menjadi seperti apa nantinya?" ujar Roby.

Roby menyatakan bahwa motif dilakukan hal tersebut sebagai wujud 'balas dendam' karena biasanya sebagian mereka menjadi korban kebijakan pemerintah.

Kurangnya Minat atau Pemahaman akan Sains

Inilah masalah utama kenapa masih banyak orang yang percaya konspirasi bumi datar. Kurangnya minat dan pemahaman akan ilmu sains terutama fisika. Bahkan Kepala LAPAN mengajak kita semua untuk lebih mempelajari fisika agar tidak tertipu dengan konspirasi tersebut. Apalagi kita tau, sains sendiri memang bukan bahan perbicangan umum di Indonesia. Sehingga, pola pikir berbasiskan penelitian dan data belum dimiliki semua orang di Indonesia.

Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), Thomas Djamaluddin, pernah mengatakan bahwa konspirasi Bumi datar ibarat dongeng khayalan sebelum tidur. Menurutnya, hal tersebut tidak perlu didebatkan dan cukup ditinggalkan saja

"Dongeng Bumi Datar" (Flat Earth, FE) adalah ketidakpahaman akan gravitasi. Konsekuensi adanya gravitasi adalah bulatnya bumi (karena gravitasi dirinya saat pembentukan tata surya), adanya planet-planet yang mengorbit matahari, adanya bulan dan satelit yang mengorbit bumi, terjaganya air laut dan seisi bumi tetap berada di permukaan bumi, terjaganya atmosfer sehingga manusia bisa bernafas dan pesawat bisa terbang dengan gaya aerodinamis, dan ... sekian banyak lagi fenomena yang menarik untuk kita pelajari. Ayo belajar fisika agar tidak tertipu dengan dongeng bumi datar (FE)." Ungkap Thomas Djamaluddin di akun Facebooknya.

Banyaknya bukti-bukti bumi bulat, tentu sangat mengherankan kenapa masih ada orang yang percaya bahwa bumi berbentuk datar. Menurut astrofisikawan Neil deGrasse Tyson, hal ini adalah bukti dari sistem edukasi yang gagal.

“Sistem kita perlu melatih Anda tidak hanya mengenai apa yang harus diketahui, tetapi juga cara memproses informasi, pengetahuan, dan bukti. Jika kita tidak punya latihan semacam itu, Anda akan bisa mempercayai segalanya,” ujarnya.

Lebih Percaya Konspirasi

Mark Fenster, Profesor di Fakultas Hukum Levin di University of Florida memiliki pandangan terhadap hal tersebut.

"Ada suatu masa bagi orang-orang tertentu yang membuatnya lebih memercayai teori konspirasi," ucapnya singkat.

Studi yang terbit dalam jurnal Sosial Psychology mendukung pernyataan Fernster tersebut. Studi melakukan survei pada 1.000 orang. Hasilnya, sejumlah orang memiliki kecenderungan untuk menjadi unik. Apa maksudnya?

Link Jurnal:

http://content.apa.org/record/2017-30136-003

"Mereka mencari informasi yang terutama terkesan rahasia dan tak banyak orang percaya," Anthony Lantian, peneliti psikologi dari Grenoble Alpes University yang juga pemimpin studi.

Menurut Lantian, semakin aktif mencari informasi tersebut, semakin besar kemungkinan percaya pada konspirasi. Studi dari Roland Imhoff, peneliti dari Johannes Guttenberg Universitat di Mainz, Jerman, dan tim pun mendukung pernyataan ini.

Dalil Yang ada di Kitab Suci

Ini mungkin yang salah satu alasan kuat orang percaya konspirasi ini, kadang menjadi senjata andalan para FE. Contohnya ada dalil yang 'pro" menyatakan bahwa bumi itu datar di kitab suci Al-Qur'an, sebagai seorang muslim, kita mungkin akan meyakini isi Al-Qur'an tersebut, tapi ternyata kadang kita tidak sadar ada juga dalil yang 'pro' menyatakan bahwa bumi itu bulat. Lalu bagaimana sebenarnya yang benar?

Tidak ada dalil yang tegas dalam Al-Quran dan Sunnah yang menyatakan bahawa bumi itu bulat atau datar. Itu semua dikembalikan kepada penelitian dan fakta ilmiah. Jadi yang benar adalah sesuai dengan penelitian dan fakta ilmiah ilmu dunia.

Seperti yang dilakukan oleh Komunitas Flat Earth Internasional yang berencana melakukan pelayaran dan sepertinya untuk mencari tepi dunia (tidak ada informasi mengenai tujuan pelayaran ini) pada tahun 2020. Tentunya hal ini patut diapresiasi sebagai langkah mereka untuk menemukan kebenaran.

Referensi:
https://m.detik.com/inet/science/d-4387740/bukti-bertebaran-kenapa-orang-masih-percaya-bumi-datar
https://muslim.or.id/28368-apakah-bumi-bulat-bola-atau-datar-menurut-pandangan-syariat.html
https://sains.kompas.com/read/2018/03/13/070600423/atrofisikawan-neil-degrasse-tyson-jelaskan-kenapa-bumi-tidak-datar
https://m.detik.com/inet/science/d-4119247/teori-bumi-datar-bodoh-penganutnya-kurang-berpendidikan
https://m.cnnindonesia.com/teknologi/20180402204957-199-287733/peneliti-muda-ungkap-alasan-penganut-bumi-datar-kian-eksis
https://m.detik.com/inet/science/d-3799416/dongeng-kepala-lapan-yang-bikin-komunitas-bumi-datar-meradang